



Tahun 2024 menjadi periode penuh tantangan bagi Ubisoft, salah satu perusahaan game terkemuka di dunia. Dalam setahun terakhir, saham Ubisoft merosot lebih dari 40%, akibat serangkaian bencana komersial yang melibatkan game besar seperti Star Wars Outlaws dan Skull and Bones. Kondisi ini memunculkan banyak kekhawatiran di kalangan investor tentang masa depan perusahaan.

Pada akhir tahun 2024, harga saham Ubisoft ditutup di angka €13,15, turun tajam dari harga penutupan tahun 2023 sebesar €22,39. Penurunan sebesar 41,2% ini mencerminkan performa buruk perusahaan sepanjang tahun. Lebih jauh lagi, kapitalisasi pasar Ubisoft mengalami penyusutan drastis dari $2,94 miliar menjadi hanya sekitar $1,68 miliar.
Jika kita melihat lebih jauh ke belakang, gambaran yang muncul semakin suram. Pada Desember 2020, harga saham Ubisoft berada di angka €78,74. Artinya, dalam rentang empat tahun, saham perusahaan telah kehilangan 83% nilainya. Kapitalisasi pasar Ubisoft juga terjun bebas dari $9,7 miliar pada Desember 2020 menjadi hanya $1,68 miliar saat ini. Tren ini mengindikasikan penurunan kepercayaan investor terhadap kemampuan perusahaan untuk memulihkan kondisi bisnisnya.

Laporan keuangan terbaru Ubisoft yang dirilis pada Oktober 2024 semakin mempertegas tantangan yang dihadapi perusahaan. Pemesanan bersih perusahaan turun hampir 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, hanya mencapai €642,3 juta dibandingkan €822,4 juta pada tahun 2023. Kuartal kedua 2024-2025 bahkan mencatat penurunan lebih tajam, dengan pemesanan bersih sebesar €352,3 juta, atau turun 36,5% dibandingkan kuartal kedua 2023-2024.
Salah satu faktor penyebab penurunan ini adalah performa game Star Wars Outlaws yang jauh dari ekspektasi. Ubisoft sendiri mengakui bahwa game tersebut tidak mampu mencapai target penjualan yang diharapkan. Masalah ini diperparah oleh keputusan perusahaan untuk menghentikan pengembangan beberapa proyek game, termasuk game penembak XDefiant. Dalam pernyataan resmi, Ubisoft menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan profitabilitas game tersebut.
Baca ini juga :» Square Enix March Sale Part 1 Segera Hadir di PlayStation Store
» Sang Legenda Bangkit! Nightmare Geese Siap Teror Fatal Fury: City of the Wolves di Season 2
» Kolaborasi Nostalgik! Sonic Rumble Gelar Event Terbatas Bersama NiGHTS
» Sikat Habis! SEGA & ATLUS Gelar Diskon Gede-Gedean di Steam: Ada Game Baru!
» Diskon Gila-gilaan! Game ATLUS & SEGA Turun Harga di Steam Year of the Horse Sale
» eFootball Buka Jalan Menuju FIFAe World Cup 2026: Challenger Series Resmi Dimulai!
» Assetto Corsa EVO Update 0.5: Mobil Baru, Sirkuit Ikonik, dan Perubahan Besar Mode Single Player!
» Square Enix Rilis 'KILLER INN' di Steam: Game Multiplayer Penuh Tipu Muslihat!

Selain masalah penjualan, Ubisoft juga menghadapi kontroversi internal. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa pengembangan Skull and Bones menghabiskan dana antara $650 juta hingga $850 juta, tanpa kejelasan kapan game tersebut akan dirilis. Ubisoft juga menunda beberapa proyek besar lainnya, termasuk game mobile The Division Resurgence dan Rainbow Six Mobile, serta Assassin's Creed Shadows yang baru akan diluncurkan pada 2025.
Di tengah situasi sulit ini, AJ Investments, salah satu pemegang saham Ubisoft, secara terbuka meminta perusahaan untuk menjual asetnya atau mengubah statusnya menjadi perusahaan privat. AJ Investments bahkan menuduh keluarga Guillemot, yang memiliki saham mayoritas, dan Tencent sengaja mendiskon nilai potensial perusahaan untuk membeli lebih banyak saham dengan harga rendah.
Selain berita utama di atas, KOTAKGAME juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.