



Beberapa tahun terakhir, nostalgia era 90-an dan 2000-an kembali meledak di dunia budaya pop dan media. Fenomena ini juga merambah industri game, di mana banyak pengembang indie terinspirasi membuat game bergaya retro berdasarkan kenangan masa kecil mereka. Bahkan, mereka berusaha menghadirkan pengalaman yang autentik — lengkap dengan bug dan kekurangan khas konsol generasi lama.
Namun, bagaimana pandangan para veteran industri yang dulu menghabiskan karier mereka melawan keterbatasan teknis? Apakah mereka senang atau justru heran dengan tren game bergaya PS1 dan low-poly ini?
Koji Sugimoto, programmer Square Enix yang pernah mengerjakan Final Fantasy X, Xenogears, dan Threads of Fate, membagikan pendapatnya lewat postingan di X (Twitter).
Menanggapi unggahan resmi Unity Japan tentang fitur baru yang memudahkan pengembang meniru efek “texture warping” dan distorsi grafis ala PS1, Sugimoto berkomentar:
“Dulu, kami bekerja keras dan menghabiskan banyak waktu sia-sia hanya untuk menghindari texture warping. Sekarang malah disebut ‘menarik’.”
当時は虚しい苦労を費やして歪みを回避していたのに、今では「味わい」とか言われてしまっている。 https://t.co/r90BkvvUAq
— Koji Sugimoto (@k_sugimoto) August 5, 2025
Komentar ini menggambarkan dilema unik para pengembang veteran. Bagi gamer modern, grafis sedikit terdistorsi dianggap menambah pesona retro. Tapi bagi developer di era PS1, itu adalah mimpi buruk yang harus dihindari.
Baca ini juga :» Bikin Gamer Penasaran! PlayStation Akhirnya Umumkan State Of Play 3 September 2026
» Xbox Bikin Sony Ketar-Ketir? PS Dirumorkan Pertimbangkan Tunda Rencana Full Digital
» Sony Ingatkan Gamer: Game Digital PlayStation Ternyata “Dilindungi Lisensi”, Bukan Dijual
» PlayStation Mulai Terapkan Verifikasi Umur untuk Game R18+ di Australia
» Dave Bautista Resmi Jadi Kratos di Series God of War
» Xbox Hapus Logo Nintendo, PlayStation dan Steam di End Card Trailer Game Minecraft Dungeons II
» Mantan CEO Playstation, Shuhei Yoshida Santai dengan Masa Depan Game Tanpa Disc
» Dapat Feedback Negatif, PlayStation Pertimbangkan Reboot Horizon Hunters Gathering
Masalah texture warping di PS1 disebabkan keterbatasan teknis konsol tersebut. PlayStation generasi pertama tidak memiliki Z-buffer (depth buffer) bawaan, sehingga harus menggunakan metode affine texture mapping.
Pada GPU modern, sistem rendering 3D secara otomatis menentukan objek mana yang dekat atau jauh dari kamera, sehingga urutan tampilannya akurat dan realistis. Tapi PS1 tidak bisa melakukan itu. Tanpa Z-buffer, konsol tidak bisa menentukan posisi objek 3D secara tepat, sehingga objek jauh bisa menutupi objek dekat — merusak ilusi ruang 3D.

Untuk mengatasi ini, pengembang harus menyortir urutan poligon secara manual agar perspektif tetap terlihat realistis. Sayangnya, affine texture mapping hanya menggunakan koordinat X dan Y tanpa mempertimbangkan kedalaman (Z), yang membuat tekstur terlihat melar atau bengkok saat dilihat dari sudut berbeda.
Masalah lain yang muncul adalah pixel jitter atau piksel yang bergoyang akibat keterbatasan distribusi rendering pada layar.
Semua ini membuat proses pengembangan game di PS1 jauh lebih rumit. Developer harus mencari trik untuk menyamarkan distorsi dan menghaluskan tampilan grafis sebaik mungkin.
“Itu menyebalkan. Saya menghabiskan begitu banyak jam kerja sia-sia mencoba mengatasi [warped textures]. Saya tidak mengerti apa menariknya mencoba meniru hal itu.”
Fenomena ini menunjukkan pergeseran sudut pandang: hal yang dulu dianggap kekurangan teknis kini menjadi estetika yang dicari oleh penggemar game retro. Entah itu sekadar nostalgia atau apresiasi terhadap kesederhanaan visual masa lalu, gaya grafis PS1 kini kembali bersinar — meski tidak semua orang yang mengalaminya langsung merasa hal itu “charming”.