space
MICROSOFT DIDEMO KARYAWANNYA SENDIRI! PROTES KARENA MICROSOFT AZURE TERNYATA UNTUK TENTARA ISRAEL
Jumat, 22 Aug 2025

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Di tengah gemerlap dunia teknologi, jarang sekali kita melihat raksasa seperti Microsoft diguncang bukan oleh pesaing, melainkan oleh orang-orangnya sendiri. Namun itulah yang terjadi di Redmond, Washington, ketika puluhan karyawan, baik yang masih aktif maupun sudah menjadi alumni memutuskan untuk turun tangan. Mereka tidak sedang memperjuangkan kenaikan gaji atau jam kerja fleksibel, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu hati nurani.

Aksi itu bermula dari laporan investigasi The Guardian bersama +972 Magazine dan Local Call. Laporan tersebut menuding bahwa kontrak cloud Microsoft Azure dengan Unit 8200, badan intelijen Israel, berpotensi digunakan untuk menyimpan jutaan rekaman suara warga Palestina setiap jamnya. Bagi sebagian besar karyawan yang peka terhadap isu kemanusiaan, kabar ini seperti alarm keras. Azure, produk yang mereka banggakan, kini dicurigai menjadi bagian dari mesin pengawasan yang menimbulkan luka.

Maka, mereka berkumpul di plaza utama kantor pusat Microsoft. Spanduk besar bertuliskan “Stop Starving Gaza” terpasang, tenda-tenda berdiri, dan simbol perlawanan lahir dengan penamaan baru: “Martyred Palestinian Children’s Plaza.” Tidak hanya sekadar protes, tapi sebuah “zona merdeka” mini yang menggambarkan penolakan mereka terhadap keterlibatan perusahaan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Baca ini juga :

» Microsoft Lakukan PHK Lebih Dari 9000 Pegawai, Termasuk di Xbox Gaming Division
» Blue Screen of Death (BSoD) Akan Berubah Menjadi Black Screen of Death pada Update Windows 11 Selanjutnya
» Xbox Hadirkan Game Steam di Xbox App For Windows
» Xbox dan AMD Telah Deal, Next-Gen Konsol Xbox Dipastikan Menggunakan AMD
» Bill Gates Bangun Kantor Regional The Gates Foundation di Singapura, Indonesia Jadi Fokus Uji Coba Vaksin TBC
» Xbox Dilaporkan Sedang Kembangkan Gaming Handheld yang Akan Dirilis Tahun Ini
» Setelah 2 Dekade, Akhirnya Microsoft Akan Resmi Tutup Skype Pada 5 Mei 2025
» Masih berlanjut, Donald Trump Sebut Microsoft berminat Untuk Beli TikTok

Hari-hari pertama aksi berlangsung relatif damai. Namun ketika sebagian demonstran menolak untuk meninggalkan lokasi, ketegangan pun memuncak. Polisi Redmond akhirnya melakukan penangkapan terhadap 18 orang, termasuk Anna Hattle, seorang insinyur perangkat lunak Microsoft, serta dua penggerak utama aksi, Hossam Nasr dan Vaniya Agrawal. Mereka ditahan dengan tuduhan melanggar properti dan mengganggu ketertiban umum. Adegan itu seolah menegaskan betapa seriusnya pertarungan moral ini. Bukan lagi sekadar aksi simbolis.

Bagaimana sikap Microsoft? Perusahaan melalui juru bicara resminya menegaskan bahwa mereka sedang melakukan review independen, dipimpin oleh firma hukum ternama Covington & Burling. Microsoft menyatakan bahwa layanan Azure berada dalam kerangka komitmen hak asasi manusia serta aturan etika AI yang ketat. Meski demikian, narasi itu belum cukup untuk meredam gelombang kritik, terutama di mata mereka yang percaya bahwa teknologi tidak boleh dijadikan alat penindasan.

Yang menarik, protes ini bukan sekadar tentang Microsoft. Ini adalah cerminan bagaimana pekerja teknologi, yang biasanya tenggelam di balik layar coding dan server, kini berani berdiri di garis depan isu moral global. Dunia digital bukan lagi dunia netral; setiap byte data punya konsekuensi, dan setiap kontrak punya dampak nyata.

Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close