space
SQUARE ENIX, BANDAI NAMCO, DAN PUBLISHER JEPANG LAINNYA MINTA OPENAI DAN SORA STOP "BELAJAR" DARI MEREKA
Pop
Senin, 03 Nov 2025

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Asosiasi Distribusi Konten Luar Negeri Jepang (CODA) — organisasi yang mewakili para penerbit besar anime, manga, dan game — secara resmi mengajukan permintaan tertulis kepada OpenAI pada 28 Oktober. Mereka menuntut agar perusahaan tidak menggunakan konten milik anggota CODA sebagai data pelatihan untuk model AI video terbaru, Sora 2, tanpa izin.

Baca ini juga :
» Simu Liu Kasih Sinyal Kuat Buat Sleeping Dogs Movie Bakal Beneran Terjadi
» Nggak Cuman Gamenya Aja, Disney Resmi Akan Buat Series Kingdom Hearts!
» Udah Fix Ga Delay Lagi? Kingdom Hearts IV Disebut 100% Rilis Tahun 2027
» Pengumuman Live Event D23 Bikin Fans Kingdom Hearts Makin Berharap
» SQUARE ENIX STORE Plus Resmi Perluas Layanan di Asia & Oseania
» Sora ke Fortnite? Bocoran Chapter 7 Season 4 Bikin Gamer Nostalgia Berat
» Promo Game PC Terbesar: Square Enix Summer Sale Resmi Hadir di Steam!
» Apple vs OpenAI Klaarifikasi Soal Rahasia Dagang dan Perebutan Ratusan Talenta

Permintaan ini diajukan atas nama berbagai perusahaan besar di industri kreatif Jepang, termasuk Aniplex, Bandai Namco, Studio Ghibli, Square Enix, Kadokawa, Shueisha, dan lainnya. CODA menyatakan bahwa mereka telah menemukan banyak output Sora 2 yang sangat mirip dengan konten Jepang — termasuk karya berhak cipta tertentu — yang menurut mereka merupakan bukti bahwa materi tersebut digunakan dalam proses pelatihan model AI.


CODA menegaskan bahwa tindakan menyalin karya berhak cipta selama proses machine learning dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta. Mereka juga menyoroti bahwa meskipun OpenAI menyediakan sistem opt-out bagi pemilik hak cipta, mekanisme tersebut tidak sesuai dengan hukum hak cipta Jepang, yang mewajibkan izin terlebih dahulu sebelum sebuah karya dapat digunakan.


“Tidak ada sistem dalam hukum yang membebaskan pelanggaran hanya karena keberatan diajukan setelahnya,” tulis CODA dalam pernyataannya.

Selain meminta OpenAI menghentikan penggunaan konten tanpa izin, CODA juga mendesak perusahaan untuk menanggapi secara serius setiap klaim pelanggaran hak cipta yang diajukan anggotanya terkait output Sora 2.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close