



Di tengah pesatnya perkembangan alat generatif AI—dan saat internet (beserta portofolio para pelamar kerja) mulai dibanjiri gambar buatan AI—sebuah perusahaan game menengah asal Jepang justru meminta para kandidat untuk menggambar langsung di tempat. Langkah ini diambil setelah muncul beberapa kasus kecurangan, di mana pelamar mencoba mengklaim karya buatan AI sebagai hasil tangan mereka sendiri.
Dalam wawancaranya dengan media Jepang Daily Shincho, seorang kepala desainer grafis anonim yang menggunakan inisial “B” mengungkap bahwa beberapa pelamar tersebut sempat diterima bekerja. Namun kemudian, perusahaan menemukan bahwa mereka tidak mampu memberikan kontribusi signifikan karena keterampilan mereka tidak sebanding dengan kualitas portofolio yang diklaim. Untuk mencegah kasus serupa, perusahaan kini mewajibkan tes menggambar langsung di depan tim rekrutmen untuk memastikan kemampuan asli para pelamar. Meskipun efektif menjamin keaslian karya, proses ini sangat memakan waktu bagi semua pihak.
Baca ini juga :» Predator Helios 16 AI: Laptop "Monster" Terbaru untuk Kreator & Gamer di Indonesia
» ASUS ROG Rilis 3 Monitor Strix OLED 27 Inci Terbaru: Visual Sultan, Harga Lebih Terjangkau!
» Lini Inovasi Lenovo di MWC 2026: Masa Depan AI, Kreativitas 3D, dan Gaming Portabel
» Laptop Masterpiece Kolaborasi Om Kojima Bareng ASUS ROG | Hands-on ROG Flow Z13-KJP
» Dua Dekade ASUS ROG: Gebrakan Laptop Gaming AI dan Kolaborasi Ikonik Kojima Productions di 2026
» HP Resmi Satukan OMEN dan HyperX: Standar Baru Ekosistem Gaming di Indonesia
» Sambut Resident Evil Requiem, ASUS ROG Bagi-Bagi Game Gratis!
» Aurora Gaming Filipina Juara M7 World Championship, realme Beri Penghargaan FMVP Eksklusif

“Ini benar-benar merepotkan bagi tim rekrutmen, dan rasanya seperti mundur ke belakang, tapi saya dengar banyak perusahaan lain juga mulai melakukan hal yang sama.”
Meski prosedur penyaringan kini jauh lebih ketat, “B” mulai mendengar pembahasan dari manajemen soal kemungkinan merekrut pakar generative AI atau mulai mengadopsi teknologinya secara langsung. Walau posisi “B” sebagai ilustrator dan desainer karakter senior memberi mereka ruang untuk menyuarakan pendapat, mereka merasa pengaruhnya dalam perusahaan makin melemah.

“Saya juga menggunakan generative AI sebagai alat pendukung dalam pekerjaan. Tapi saya sangat percaya bahwa hanya kreator manusialah yang bisa menghasilkan karakter dan visual yang benar-benar kuat dari nol. Itu sebabnya saya terus menekankan ke manajemen bahwa kita harus merekrut talenta yang benar-benar kompeten. Namun arah perusahaan justru semakin condong ke penggunaan AI generatif. Saya jadi khawatir apakah mereka benar-benar memahami sudut pandang saya.”