space
GAME DEV INI HAPUS AI SLOP GAME KARENA SANG PACAR TIDAK SUKA AI GEN
PC
Selasa, 13 Jan 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Seorang developer indie membuat keputusan ekstrem yang jarang terjadi di Steam: menghapus game buatannya sendiri secara permanen. Alasannya bukan karena bug fatal atau gagal di pasaran, melainkan karena sebuah refleksi personal—yang ironisnya dipicu oleh orang yang baru ia kenal.

Game tersebut berjudul Hardest, sebuah roguelike card game gratis yang dirilis pada Juli 2025 dan secara visual mengingatkan banyak orang pada Balatro. Namun di balik tampilannya, Hardest diketahui menggunakan aset visual hasil generative AI, sesuatu yang kini semakin sering menuai kontroversi di industri game.


Lewat pembaruan mendadak di halaman Steam pada 10 Januari, sang developer, Eero Laine, mengumumkan bahwa Hardest akan ditarik sepenuhnya dari Steam pada 30 Januari. Dalam pernyataannya, Laine menjelaskan bahwa game tersebut dibuat hanya dalam beberapa bulan selama musim panas 2025, menggunakan berbagai tools gratis yang disediakan oleh universitas tempat ia belajar.

Saat itu, penggunaan AI terasa “normal” baginya. Semua tersedia gratis, cepat, dan tanpa hambatan. Namun seiring waktu, sudut pandangnya berubah.

Baca ini juga :
» AMD & Nutanix Jalin Kemitraan Strategis: Masa Depan Infrastruktur "Agentic AI" yang Terbuka
» Square Enix March Sale Part 1 Segera Hadir di PlayStation Store
» Sang Legenda Bangkit! Nightmare Geese Siap Teror Fatal Fury: City of the Wolves di Season 2
» Kolaborasi Nostalgik! Sonic Rumble Gelar Event Terbatas Bersama NiGHTS
» Sikat Habis! SEGA & ATLUS Gelar Diskon Gede-Gedean di Steam: Ada Game Baru!
» Diskon Gila-gilaan! Game ATLUS & SEGA Turun Harga di Steam Year of the Horse Sale
» eFootball Buka Jalan Menuju FIFAe World Cup 2026: Challenger Series Resmi Dimulai!
» Assetto Corsa EVO Update 0.5: Mobil Baru, Sirkuit Ikonik, dan Perubahan Besar Mode Single Player!

Laine mengakui bahwa ia baru menyadari dampak besar teknologi AI—mulai dari ancaman terhadap lapangan kerja kreatif hingga beban lingkungan—setelah banyak berdiskusi dan berpikir ulang. Ia bahkan menilai bahwa keberadaan game seperti Hardest bisa saja digunakan perusahaan AI sebagai “contoh sukses” untuk menarik investasi lebih besar, tanpa benar-benar memberi manfaat pada pekerja kreatif atau industri secara sehat.


Dalam unggahan berjudul “AI Is Bad”, Laine menegaskan bahwa meskipun seluruh sistem gameplay dan kode ia kerjakan sendiri, keberadaan aset AI membuat game tersebut secara etika tidak bisa ia pertahankan.

Kalimat penutupnya cukup mengejutkan:

“Game ini, dalam bentuknya sekarang, adalah aib bagi pembuat game dan pemain. Satu-satunya keputusan yang etis adalah menghapusnya. Gadis yang baru sebulan aku kencani membuatku menyadari hal ini.”

Pernyataan itu dengan cepat menyebar dan memicu beragam reaksi—mulai dari dukungan, keheranan, hingga sindiran. Meski terdengar personal dan tak biasa, keputusan Laine justru dipandang sebagian kalangan sebagai bentuk tanggung jawab moral yang jarang ditemui.


Laine menutup pernyataannya dengan nada lebih optimistis. Ia mengisyaratkan keinginan untuk kembali membuat game baru di masa depan, kali ini menggunakan aset buatan manusia sepenuhnya, memanfaatkan ulang kode yang sudah ia buat sebelumnya tanpa AI.

Entah ini kisah tentang kesadaran etika, kritik terhadap budaya AI instan, atau bukti bahwa perspektif seseorang bisa berubah karena percakapan sederhana—yang jelas, penghapusan Hardest menjadi salah satu momen paling unik dalam sejarah Steam.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ada game yang “dikalahkan” bukan oleh review buruk, tapi oleh refleksi diri dan sebuah hubungan baru.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close