



Kabar kurang menyenangkan datang dari dunia game shooter kompetitif. Highguard dipastikan akan ditutup secara permanen, sebagaimana diumumkan oleh pengembangnya, Wildlight Entertainment, pada hari Selasa. Game free-to-play bergenre “raid shooter” yang digarap oleh para mantan pengembang Apex Legends dan seri Call of Duty ini akan berhenti beroperasi pada 12 Maret, saat server resminya dimatikan.
Baca ini juga :» Performa Highguard Mengecewakan Hingga Terncent Menarik Pendanaan
Dalam pernyataan resminya di X, Wildlight mengakui bahwa meski tim telah mencurahkan kerja keras dan semangat besar, mereka gagal membangun basis pemain yang cukup kuat untuk menopang game tersebut dalam jangka panjang. Server akan tetap aktif hingga tanggal penutupan, dan pengembang mengajak para pemain untuk kembali masuk dan menikmati pertandingan terakhir sebelum semuanya berakhir. Sebagai penutup, Wildlight juga menjanjikan satu update terakhir yang menghadirkan Warden baru, senjata baru, sistem level akun, serta skill tree yang akan dirilis beberapa hari sebelum server offline.
Highguard will go offline on March 12. pic.twitter.com/I1VCfhqrlc
— Geoff Keighley (@geoffkeighley) March 3, 2026
Awalnya, Highguard direncanakan meluncur secara mengejutkan, meniru strategi sukses Apex Legends pada 2019. Namun, Wildlight akhirnya memilih untuk mengumumkannya lebih dulu di ajang The Game Awards atas tawaran Geoff Keighley. Keputusan itu belakangan diakui CEO dan pendiri Wildlight, Dusty Welch, sebagai langkah yang “mungkin sedikit berisiko jika dipikirkan kembali.” Setelah pengumuman tersebut yang menuai kritik dan beberapa minggu tanpa komunikasi berarti, Highguard resmi dirilis pada 26 Januari.
Saat peluncuran, rasa penasaran publik sempat mendorong angka pemain yang cukup tinggi. Di Steam, Highguard sempat menyentuh hampir 100.000 pemain bersamaan. Namun, lonjakan tersebut tidak bertahan lama. Akhir pekan pertama setelah rilis hanya mencatat sekitar 15.000 pemain puncak, dan sebulan kemudian jumlahnya merosot drastis hingga nyaris menyentuh 1.000 pemain bersamaan. Menjelang penutupan, angka tersebut bahkan turun di bawah 500 pemain di Steam. Meski Highguard juga tersedia di PlayStation 5 dan Xbox Series X, data publik dari Steam tetap menjadi indikator paling terlihat atas penurunan minat pemain.
Wildlight sebenarnya tidak tinggal diam menghadapi kritik. Mereka dengan cepat menambahkan mode 5v5 untuk menjawab keluhan bahwa tempo permainan terasa kurang intens. Mode tersebut kemudian dibuat permanen. Update selanjutnya menghadirkan Warden baru dan berbagai penyesuaian kecil untuk memperbaiki alur pertandingan. Bahkan pada Februari, sebuah mode 5v5 tambahan diperkenalkan dengan memangkas fase persiapan dan looting agar pertandingan terasa lebih cepat dan langsung ke aksi. Namun, berbagai upaya tersebut tampaknya tidak cukup untuk menarik pemain kembali dalam jumlah signifikan.
Sejumlah ulasan juga menyoroti bahwa Highguard mungkin mencoba melakukan terlalu banyak hal sekaligus. Di atas fondasi FPS yang solid, game ini memadukan elemen penghancuran markas ala MOBA, fortifikasi gaya Tom Clancy's Rainbow Six Siege, kemampuan hero seperti Overwatch, hingga mekanik pengumpulan sumber daya dan perdagangan ala game survival. Kombinasi ide-ide tersebut justru menghasilkan pacing yang terasa canggung, meskipun kemampuan teknis tim pengembang dalam merancang mekanik tembak-menembak sebenarnya terlihat jelas.
Masalah internal turut memperburuk keadaan. Dua minggu setelah peluncuran, sebagian besar tim dilaporkan terkena PHK. Menurut laporan Bloomberg pada akhir Februari, keputusan tersebut terjadi setelah Tencent menarik pendanaannya. Tencent disebut-sebut mengaitkan pembiayaan dengan pencapaian metrik tertentu seperti tingkat retensi pemain—target yang ternyata jauh dari harapan.
Penutupan Highguard menjadi pengingat keras betapa kompetitif dan kejamnya pasar game live service. Bahkan dengan tim berpengalaman dan dukungan awal yang besar, mempertahankan perhatian pemain dalam jangka panjang adalah tantangan yang luar biasa. Pada akhirnya, Highguard mungkin akan dikenang sebagai proyek ambisius dengan banyak ide menarik, namun gagal menemukan keseimbangan yang membuat pemain bertahan.