Release Date12 March 2026
ESRB RatingMature
GenreSurvival Horror
Publisher
KOEI TECMO GAMES CO., LTD.

Developer
KOEI TECMO GAMES CO., LTD.

Console
PC, PS5
KOTAK GAME RATING
80
PLAYER RATING
80
BERI RATING
Review

Review FATAL FRAME II: Crimson Butterfly REMAKE

oleh: Advertorial

Halaman 1

Ada banyak game horor yang mencoba menakut-nakuti pemain dengan berbagai cara. Beberapa mengandalkan aksi yang brutal, sebagian lagi memanfaatkan jumpscare yang agresif, dan ada juga yang memilih pendekatan atmosferik dengan ketegangan yang perlahan merayap tanpa terasa. Namun jika kita bicara tentang horor Jepang dalam video game, ada satu seri yang selalu memiliki identitas yang sangat berbeda dari kebanyakan game horor lainnya: Fatal Frame.

Sejak pertama kali muncul di era PlayStation 2, seri ini dikenal karena konsep yang sangat unik sekaligus mengganggu secara psikologis. Alih-alih memberi pemain senjata untuk melawan ancaman supernatural, Fatal Frame memaksa pemain menghadapi hantu secara langsung menggunakan kamera misterius bernama Camera Obscura. Mekanik sederhana ini menciptakan salah satu pengalaman survival horror paling tidak nyaman yang pernah ada, karena pemain tidak bisa bersembunyi atau lari begitu saja. Ketika roh datang menyerang, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menatap mereka langsung melalui lensa kamera.

Dari seluruh seri Fatal Frame, satu judul yang sering dianggap sebagai puncak dari franchise ini adalah Fatal Frame II: Crimson Butterfly. Ceritanya tentang dua saudara kembar, Mio dan Mayu Amakura, yang tersesat di desa terkutuk bernama Minakami Village. Desa itu menyimpan rahasia ritual kuno yang berkaitan dengan pengorbanan pasangan kembar, dan semakin dalam pemain menyelami misterinya, semakin jelas bahwa nasib kedua saudara tersebut perlahan terikat dengan tragedi masa lalu desa tersebut.

Kini setelah lebih dari dua dekade sejak perilisan aslinya, Crimson Butterfly hadir kembali dalam bentuk remake. Ini bukan sekadar peningkatan grafis sederhana atau port modern dari game klasik, tetapi sebuah upaya untuk menghidupkan kembali salah satu pengalaman horor paling ikonik dengan teknologi dan standar presentasi yang lebih modern. Pertanyaannya tentu saja sederhana: apakah remake ini berhasil mempertahankan pesona horor yang membuat game aslinya begitu legendaris?

Jawabannya ternyata cukup menarik, karena Crimson Butterfly Remake adalah game yang di satu sisi masih mampu membuat bulu kuduk berdiri, tetapi di sisi lain juga memperlihatkan betapa desain game dari era lama memiliki beberapa kelemahan yang cukup terasa ketika dimainkan di zaman sekarang.

Desa Minakami yang Sunyi, Indah, dan Menyeramkan

 

Hal pertama yang langsung terasa ketika memasuki dunia Crimson Butterfly adalah bagaimana remake ini berhasil menghidupkan kembali Minakami Village dengan cara yang sangat efektif. Desa yang dulunya terlihat sederhana di era PlayStation 2 kini tampil dengan detail yang jauh lebih kaya, namun tetap mempertahankan atmosfer sunyi dan menyeramkan yang menjadi identitasnya.

Minakami bukan sekadar latar tempat untuk cerita horor. Desa ini terasa seperti karakter itu sendiri. Rumah-rumah kayu yang sudah lapuk, kuil tua yang tersembunyi di antara pepohonan, lorong sempit yang hanya diterangi lentera redup, semuanya menciptakan suasana yang sangat menekan secara psikologis. Ada perasaan aneh ketika menjelajahi tempat ini, seolah-olah desa tersebut sudah lama ditinggalkan oleh dunia luar tetapi masih menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Baca ini juga :

» Review Nioh 3

Kabut tipis yang sering menyelimuti area luar ruangan memberikan kesan bahwa desa ini berada di luar ruang dan waktu. Kadang-kadang pemain berjalan cukup lama tanpa menemukan musuh apa pun, hanya ditemani suara langkah kaki di lantai kayu dan hembusan angin yang pelan. Justru dalam momen-momen seperti inilah Crimson Butterfly menunjukkan kekuatannya sebagai game horor. Ketika tidak ada apa pun yang terjadi, pemain mulai merasa bahwa sesuatu mungkin akan muncul kapan saja.

Remake ini juga memperkuat atmosfer tersebut melalui desain suara yang sangat efektif. Suara bisikan yang hampir tidak terdengar, langkah kaki yang tiba-tiba berhenti, atau jeritan jauh di dalam kegelapan sering kali menjadi pertanda bahwa roh sedang mendekat. Bahkan sebelum hantu benar-benar muncul di layar, pemain biasanya sudah merasakan kehadirannya.

Pendekatan seperti ini adalah ciri khas horor Jepang yang sangat berbeda dari horor Barat yang lebih eksplosif. Crimson Butterfly tidak mencoba membuat pemain melompat dari kursi setiap lima menit. Sebaliknya, game ini membangun rasa tidak nyaman yang perlahan merayap sampai akhirnya pemain benar-benar merasa tidak aman berada di dalam dunia tersebut.

TAGS

KRU KOTGA BISA BACA PIKIRANMU! Kamu pasti akan suka dengan artikel ini :
Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru



related Review
Most Popular Previews
Belum ada Preview