



Kemenangan Team Liquid ID atas RRQ Hoshi di MPL Indonesia Season 17 Week 2 seharusnya jadi momen pembuktian. Namun, bagi Drichel, kemenangan ini justru berujung pada hal yang tidak terduga: serbuan komentar negatif di media sosial.
Baca ini juga :» BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Malaysia, Siapa Menyusul?
» Ini Dia 18 Tim yang Siap “Perang Jumpshoot” di FFWS SEA 2026 Spring
» Oheb Livestream Sl*t di Facebook Usai Tinggalkan Scene MLBB, Picu Pro dan Kontra
» NiceGang & Kingdom Jadi Satu, Bigmo Resmi Jadi Brand Ambassador Team RRQ
» Moonton Bersama Polda Jateng Grebek Bandar Cheat Mobile Legends
» Whitemon Bawa Tundra Esports Juara ESL One Birmingham 2026, Indonesia Kembali Bersinar di Dota 2
» Riot Games Resmi Umumkan MIKS, Agent Baru VALORANT dengan Gaya Unik
» SaintDeLucaz Resmi Tinggalkan TLID, Kini Jadi Assistant Coach Team Rey di MPL MY
Alih-alih mendapat pujian, kolom komentar Instagram Drichel justru dipenuhi berbagai hujatan dari oknum netizen. Mulai dari komentar yang meremehkan, menyebut performanya “cuma hoki”, hingga menyinggung sikapnya yang dianggap terlalu percaya diri.
Salah satu pemicu utama reaksi netizen adalah aksi recall yang dilakukan Drichel saat pertandingan berlangsung. Dalam kultur kompetitif Mobile Legends, recall memang sering digunakan sebagai bentuk “psywar” atau provokasi halus terhadap lawan.
Namun, yang membuat situasi makin panas adalah pernyataan Drichel saat sesi interview setelah pertandingan. Beberapa ucapannya dinilai cukup “pedas” dan dianggap menyulut emosi, terutama oleh fans garis keras RRQ.
Kombinasi antara gameplay yang provokatif dan statement yang berani inilah yang akhirnya memancing reaksi berlebihan dari sebagian penonton.
Sebagai pemain yang baru naik ke panggung MPL, situasi seperti ini bisa dibilang sebagai “ujian mental” pertama bagi Drichel. Bermain bagus saja tidak cukup, karena sorotan publik dan ekspektasi fans di level ini jauh lebih tinggi.
Di satu sisi, aksi seperti recall dan trash talk ringan adalah bagian dari entertainment di esports modern. Tapi di sisi lain, respons netizen yang berlebihan juga jadi cerminan betapa panasnya rivalitas di scene Mobile Legends Indonesia.
Perlu dibedakan antara kritik dan hujatan. Kritik biasanya masih dalam batas wajar dan membangun, sementara hujatan cenderung menyerang secara personal.
Kasus yang dialami Drichel menunjukkan bagaimana batas ini seringkali kabur di media sosial. Terlebih ketika menyangkut tim besar seperti RRQ, yang memiliki basis fans sangat besar dan vokal.
Terlepas dari kontroversi yang ada, satu hal yang pasti: MPL Season 17 masih panjang. Apa yang terjadi di Week 2 bukanlah penentu akhir.
Bagi Drichel, ini bisa jadi momentum untuk membuktikan diri. Apakah ia mampu konsisten dan menjawab kritik dengan performa, atau justru tenggelam di bawah tekanan?
Yang jelas, satu pertandingan saja sudah cukup untuk membuat namanya jadi pusat perhatian.