



Jelang berakhirnya musim kompetitif MPL Indonesia Season 17, rumor transfer pemain mulai ramai dibicarakan. Di tengah panasnya bursa transfer, mantan pelatih profesional MLBB, Age, membagikan pandangannya mengenai praktik-praktik yang kerap terjadi di balik layar industri esports.
Baca ini juga :» GOAT DOTA2! Team Spirit Cetak Sejarah Jadi Tim Pertama Koleksi 3 Aegis
» Nigma Galaxy Gugur di TI, SumaiL Memutuskan Pamit dari Dunia Pro Scene Dota 2!
» Full Mekanik! BTR Lanjutkan Tren Dominasi Atas ONIC Dengan Skor 2-1
» Langkah Terhenti di Posisi 7 TI, Whitemon & Iron Wing Tetap Amankan Rp2 Miliar!
» Tumbangkan Tim Filipina 2-0! Timnas Indonesia Lolos ke Main Stage GEG 2026
» Topson Balik ke Pro Scene Dota 2! Gak Mau Akhiri Karir di Posisi Ke-12
» Ryza Masuk Evos! Baru Week 2 Bursa Transfer Udah Panas Aja
» Bikin Pangling! Ini Penampilan Terbaru Gaben di Opening TI 2026
Dalam salah satu sesi diskusi, Age mengungkap bahwa tidak semua pemain yang masuk daftar transfer benar-benar tersedia untuk direkrut tim lain. Menurutnya, ada beberapa organisasi yang memasukkan nama pemain ke bursa transfer, namun ketika ada tim yang serius melakukan penawaran, negosiasi justru dipersulit atau bahkan ditolak begitu saja.
Praktik tersebut dinilai dapat menghambat pergerakan pemain dan membuat proses transfer menjadi tidak transparan. Secara teknis pemain memang berada di daftar transfer, tetapi peluang untuk berpindah tim tetap sangat kecil apabila organisasi asal tidak memiliki niat untuk melepas sang pemain.
Tidak hanya soal transfer, Age juga menyinggung kemungkinan adanya permainan di balik layar berupa penyebaran citra negatif terhadap organisasi tertentu. Ia mencontohkan bagaimana sebuah tim bisa kesulitan mendapatkan pemain apabila beredar informasi bahwa manajemen mereka bermasalah atau lingkungan kerjanya tidak kondusif. Meski belum tentu benar, persepsi seperti itu dapat memengaruhi keputusan pemain maupun pihak yang ingin melakukan perekrutan.
Menurut Age, kondisi serupa pernah dirasakan oleh EVOS Esports pada masa lalu. Ketika reputasi organisasi dipertanyakan oleh sebagian pihak, proses membangun kembali roster menjadi jauh lebih sulit karena calon pemain memiliki banyak pertimbangan sebelum bergabung.
Pernyataan tersebut pun menarik perhatian publik, terutama setelah RRQ Hoshi dipastikan gagal lolos ke playoff MPL ID Season 17 dan dikabarkan akan melakukan evaluasi besar-besaran. Jika benar RRQ ingin merombak susunan pemain untuk musim depan, situasi bursa transfer yang tidak sehat tentu bisa menjadi hambatan tambahan dalam proses rebuilding.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada indikasi bahwa RRQ mengalami situasi yang sama seperti yang diceritakan Age. Namun, pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa proses transfer pemain profesional tidak sesederhana yang terlihat di permukaan, karena ada banyak faktor non-teknis yang bisa memengaruhi perpindahan seorang pemain dari satu tim ke tim lain.