



Refactor Games, salah satu studio yang sempat jadi harapan fans game olahraga, lagi jadi sorotan setelah kabar kurang enak soal nasib timnya mencuat ke permukaan. Studio yang berdiri tahun 2022 ini digawangi Nathan Burba, salah satu cofounder Survios yang dulu cukup dikenal di ranah VR, dan sempat terlibat dalam pengembangan game FIFA buat platform Netflix bareng Delphi Interactive. Tapi sekarang, alih-alih merayakan rilis atau update baru, mereka justru harus menghadapi kenyataan pahit: 85% karyawan di studio tersebut sudah resmi kena PHK.
FIFA World Cup developer Refactor Games reportedly shuttered by Delphi Interactivehttps://t.co/tpV6Y5r1ma pic.twitter.com/CKlmyNypzs
— GamesIndustry (@GIBiz) August 4, 2026
Informasi soal PHK massal ini dikonfirmasi langsung oleh Burba lewat pesan ke media, sementara laporan terpisah menyebutkan sekitar 80 orang kehilangan pekerjaan dalam satu gelombang. Sumber internal mengatakan kalau biang kerok dari semua ini adalah pendanaan yang tiba-tiba ditarik oleh Delphi Interactive, pihak developer sekaligus publisher game FIFA versi Netflix. Burba sendiri tidak menjelaskan detail lebih lanjut, jadi yang kita lihat sekarang lebih banyak potongan puzzle yang belum lengkap ketimbang cerita utuh.
Kalau mundur sedikit ke belakang, pada 2022 Burba sempat buka-bukaan soal visi Refactor Games. Mereka awalnya pengin bikin Football Simulator yang bisa jadi penantang serius buat Madden NFL dari EA, sesuatu yang cukup ambisius mengingat dominasi EA di genre olahraga. Di titik tertentu, arah itu bergeser ketika mereka kemudian ikut menggarap game FIFA untuk Delphi dan Netflix, dengan judul Netflixs FIFA World Cup: Launch Edition. Dari luar, ini kelihatan seperti kesempatan emas: lisensi FIFA, dukungan Netflix, dan konsep game olahraga yang pengin dibikin beda.
Konsep yang mereka bawa juga sebenarnya lumayan menarik buat fans. Game ini direncanakan tanpa rilis tahunan, artinya tidak ada siklus beli game baru tiap tahun cuma buat update roster. Sebagai gantinya, mereka mau memaksimalkan fitur kustomisasi dan elemen RPG, supaya pemain bisa membentuk pengalaman sendiri dan bikin nuansa mirip game-game football klasik yang masih sering dimainkan sampai sekarang oleh para die-hard fans. Idenya, pemain bisa bebas mengutak-atik isi game, lalu berbagi kreasi mereka ke komunitas, sambil pelan-pelan memperluas sistem ini ke olahraga lain seperti soccer, hockey, dan basket.
Baca ini juga :
» GTA 6 Bakal Pamer Trailer, Netflix Jadi Tempat Penayangan Perdana
» Piala Dunia 2026 dan Revolusi AI Lenovo: Era Baru dalam Penyelenggaraan Olahraga Global
» Tidak Disangka, Netflix Dikabarkan Lagi Bikin Live Action Persona!
» Jepang Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Langsung Lawan Brazil Kayak Tsubasa?
» Netflix Ramaikan Event Piala Dunia 2026 Dengan Rilis Game Sepakbola Baru!
» eFootball Buka Jalan Menuju FIFAe World Cup 2026: Challenger Series Resmi Dimulai!
» Netflix Rilis Teaser One Piece Season 2, Penampilan Nico Robin Langsung Curi Perhatian
» Solo Leveling Live Action Adaptasi Netflix Hanya Berjalan 7 Episodes Saja
Sayangnya, visi manis di atas tidak otomatis bikin masa depan studio aman. Ketika pendanaan ditarik, mantan karyawan mengaku lewat postingan di LinkedIn bahwa mereka kena PHK tanpa peringatan, dengan pengumuman disampaikan dalam meeting umum pada 31 Juli. Buat orang-orang yang kerja di industri game, situasi kayak gini sayangnya bukan hal baru: proyek ambisius, funding goyah, lalu tim yang jadi korban. Refactor sendiri sebelumnya sudah punya reputasi lewat latar belakang Burba di Survios, studio VR yang pernah merilis game seperti Raw Data, tapi rekam jejak bagus juga tidak selalu cukup buat menahan badai finansial.
Sampai sekarang, pihak Delphi belum buka suara soal penarikan dana ini. Netflix juga memilih diam dan menolak berkomentar, jadi publik dan komunitas gamer cuma bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Yang jelas, hilangnya puluhan pekerja dari satu studio bukan cuma angka di headline, tapi juga cerita karier yang mendadak terhenti dan proyek yang mungkin tidak akan pernah kita lihat dalam bentuk yang mereka bayangkan. Buat skena game olahraga, terutama yang pengin cari alternatif dari formula tahunan ala EA, ini jadi satu lagi contoh betapa rapuhnya proyek ambisius ketika bergantung pada satu sumber pendanaan besar.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!