MEMBAHAS TAUNTING DI ESPORTS, TEKNIK JATUHKAN MENTAL LAWAN PALING AMPUH!
Selasa, 06 Oct 2020
prev
1 dari 2
next

[BACAJUGA] Gerakan unik ini bisa dibilang bentuk taunting. Tak hanya olahraga tradisional, di esports pun kerap terjadi taunt-taunt yang turut memanaskan tensi pertandingan. Tak hanya itu, mental lawan juga akan jatuh jika mereka tidak kuat. Lalu, bagaimana taunting di esports? Mari kita lihat:
Apa itu Taunting?
Sumber: My Smash Corner YouTube
Untuk kalian yang belum tahu, taunting adalah tindakan provokasi ke orang lain. Dalam dunia video game, orang lain ini berarti tentu saja snag lawan.
Tindakan taunting ini bisa dilakukan di dalam atau luar game. Di luar game, ini bisa dilakukan dalam bentuk gesture atau perkataan. Umumnya pesan yang disampaikan adalah meremehkan lawan atau menyombongkan diri, baik sebelum atau setelah pertandingan. Pernyataan lewat media sosial juga bisa dianggap sebagai taunting, apalagi ketika dua tim akan atau baru selesai bertanding.
Dalam game, pemain bisa menggunakan fitur atau gerakan taunt yang sudah tersedia dalam permainan. Berbagai game fighting, Dota 2, sampai League of Legends memiliki fitur ini dan bisa digunakan oleh siapa saja.
Kadang pemain juga menggunakan fitur lain untuk melakukan taunting ke lawannya. Dota 2 adalah salah satu contoh kuat untuk ini. Pemain bisa melakukan chat wheel spam, item drop, fountain dive, dan yang paling baru, offensive tipping. Lalu jangan lupa juga taunt paling kontroversial di dunia fighting game dan juga FPS: teabagging.
Tidak semua pemain sering atau bahkan suka dengan taunting. Namun di sisi lain ada pemain dan tim yang malah dikenal suka melakukannya.
OG dan Taunt Mereka
Sumber: Dotatvru YouTube
OG sang jawara The International dua kali berturut-turut kerap melakukan offensive taunting kepada lawan dengan melakukan Chat Wheel spamming. Tak heran PSG.LGD di The International 8 final melakukan mute kepada seluruh pemain OG agar bisa konsentrasi. Hasilnya tetap saja, OG menang dan berhasil memboyong Aegis ke Bootcamp mereka di Paris. Selain PSG.LGD, Topson sang Midlaner pernah memberikan spray dengan kata Loser yang mengejek Virtus Pro di The International 9 kemudian melakukan bunuh diri ke arah Tower.
Sumber: HolyHexor YouTube
Hal lain yang dilakukan OG adalah gesture Ceb yang mengejek crowd The International 9 pasca menang dari Tim Tiongkok. The International 9 yang diadakan di Tiongkok memang bersifat satu sisi saja untuk urusan crowd. Mereka hanya bersorak ketika Tim Tiongkok menang. Ceb pun mempertanyakan crowd tersebut dengan gesture memegang telinga seakan bertanya kemana perginya crowd tersebut?
Selain itu, yang paling membekas tentu saja Notail dengan tumpukan kertasnya. PSG.LGD sempat trauma dengan tumpukan kertas yang dibawa oleh Notail untuk memenangkan The International 8. Di semifinal The International 9, Notail kembali membawa tumpukan kertas lebih banyak ketika bertemu PSG.LGD dan hasilnya tentu saja membuat OG kembali menang.
Udil di Alter Ego: Kartu Joker yang Berubah jadi As
Sumber: MPL ID YouTube
Selain dari Dota 2, ada hal menarik bagi Kru KotGa yang disuguhkan oleh tim produksi Mobile Legends: Bang Bang Professional League alias MPL. Dalam video Alter Ego: The Joker, tim Alter Ego membahas soal taunting yang sering mereka lakukan dengan melakukan recall ke musuh dan spam sticker. Hal ini cukup membuat mental lawan jatuh dan LeoMurphy sang Support kerap melakukan taunt tersebut.
Udil yang pindah dari ONIC Esports ke tim dengan logo tiga wajah ini bahkan mengamini bahwasanya taunt adalah Most Effective Tactics Available alias META yang bisa digunakan untuk melawan musuh. Hal ini yang membuat Alter Ego kerap melakukan taunting. Kini Alter Ego berada di peringkat pertama selama Playoff. Akankah Taunting ini mampu membawa mereka menjuarai MPL Season 6?
[BACAJUGA]
Taunt Teabagging, Paling Kontroversi!
Sumber: NonXstoPxs YouTube
Taunt ini adalah dengan melakukan Jongkok di karakter yang sudah kalah. Tentunya dari hint tersebut, kalian tahu cabang mana yang sering menggunakan taunt sarat dengan kontroversi ini. Ya, game FPS dan Fighting.
Sebagai contoh, Tokido menggunakan gerakan taunt Akuma untuk meng-KO lawannya yang bernama Punk. Tokido melakukan hal ini di turnamen final EVO 2017, Punk sendiri sering melakukan hal ini ke pemain lain termasuk Teabagging. Spoiler, Punk yang semakin tertekan secara mental tidak dapat berbuat banyak di final dan kemudian kalah di pertandingan tersebut.
Selain dari Scene Fighting, Scene CS:GO juga kerap melakukan hal ini. Bahkan tim sekelas Fnatic juga melakukan Teabagging untuk menjatuhkan lawan mereka. Namun kasus Teabagging sudah mencapai ke level selanjutnya. Dimana beberapa pemain dari Genre Fighting menerima ancaman kematian lewat Direct Message. Namun tetap saja, Teabagging adalah salah satu senjata utama dalam mengalahkan musuh.
JeeL dan Hukuman Bigetron Esports
Sumber: Esports Nowadays YouTube
Jeel pernah melakukan taunting ke Aerowolf Roxy ketika masih berseragam Bigetron dengan melakukan recall di depan base mereka. Hasilnya, sang pemain mendapatkan hukuman berupa pemotongan Gaji. JeeL melakukan hal ini di gelaran Game Prime 2018. Padahal, Aerowolf Roxy saat itu tidak mempermasalahkan hal tersebut sama sekali. Mereka bahkan mengusulkan untuk memberikan keringanan terhadap hukuman JeeL pada kala itu. Namun apa daya, organisasi sudah mengetuk palu akan hukuman tersebut. Keputusan ini sempat membuat pro dan kontra.
Ironisnya, saat ini recall di depan base yang dilakukan oleh Jeel sah-sah saja untuk memanaskan tensi pertandingan. Seakan hukuman yang diberikan untuk JeeL saat itu hanya angin lewat saja.
Taunting Sah atau Tidak?
Sumber: Core A Gaming YouTube
Pada akhirnya, kita harus mengingat bahwa apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di video game tergantung pada fitur dan "hukum" dari game itu sendiri. Entah itu melalui gerakan taunt itu sendiri atau dengan cara lain. Taunting bahkan bisa dibilang salah satu taktik dan strategi ketika bertanding. Lebih tepatnya, taunting adalah salah satu trik untuk melakukan mind game.
Video dari Core-A Gaming menjelaskan hal ini dalam videonya, menggunakan fighting game sebagai referensi utama. Meskipun tidak selalu, taunting umumnya bertujuan untuk menghina lawan dalam permainan. Pemain yang merasa terhina kemudian akan merasa marah, terancam, dan frustasi. Ia akhirnya mendapatkan tekanan untuk menang demi membalas hinaan tersebut.
Lalu, bagaimana pendapat kalian soal Taunting? Apakah hal ini sah-sah saja? Atau memang harus dilarang demi kompetisi yang sehat? Tuliskan di kolom komentar ya!
prev
1 dari 2
next
BACA JUGA BERITA INI

