PARKOUR HORROR! REVIEW DYING LIGHT 2 STAY HUMAN
Selasa, 08 Feb 2022
prev
1 dari 3
next
Berulang kali membuat penasaran, berulang kali pula ditunda, namun akhirnya Dying Light 2 Stay Human telah dirilis dan sudah bisa dimainkan semenjak 5 Februari lalu. Beragam respons dari gamer sejagat pun mulai marak di internet, mulai dari kekecewaan akibat hadirnya Denuvo, hingga kepuasan karena konten dan gameplay apik yang ditawarkan.
[BACAJUGA] Lalu, apakah Dying Light 2: Stay Human layak untuk dimainkan? Simak ulasannya dibawah!

Sebelumnya, berikut adalah perangkat PC yang kami gunakan untuk melakukan review Dying Light 2:

Untuk review kali ini, Kru KotakGame mendapatkan versi PC, sehingga grafis yang ditawarkan cukup fleksibel karena kami bisa mensetting sesuai kebutuhan. Grafis yang ditawarkan begitu indah, sehingga kami lupa bahwa game ini merupakan game horror. Ini memberikan perasaan yang cukup rumit bagi kru KotakGame, karena dengan warna terang yang didominasi warna coklat dan hijau, Dying Light 2 kurang memberikan impresi dunia yang kelam, berbeda dengan Dying Light 1 yang didominasi warna kelabu,
Kami memainkan versi Beta Test Gameplay, jadi ada kemungkinan masalah yang kami temui telah diperbaiki berbagai bug yang menyerang. Kami merasakan Frame Jumping walau tak separah yang telah dibicarakan dalam komunitas. Hanya sekali dua kali, dan terjadi bukan battle, namun saat cutscene.

.
Pelaksanaan cerita ini terasa begitu berbeda dan kurang apabila dibandingkan dengan game pertamanya, dimana kita mengenal Kyle Crane sebagai agen rahasia yang harus menghentikan Kadir Suleiman yang mencuri data rahasia dan berpotensi memulai perang dunia, namun harus bertahan hidup dari kejaran zombie yang buas, dan masuk ke dalam game dengan situasi yang mengerikan. Perbedaan dalam gaya penyampaian cerita ini menyebabkan kurangnya rasa empati kepada Aiden dan pengertian akan motivasi Aiden dalam petualangannya mencari Mia bagi Kru KotakGame.
[BACAJUGA] Lalu, apakah Dying Light 2: Stay Human layak untuk dimainkan? Simak ulasannya dibawah!

Sebelumnya, berikut adalah perangkat PC yang kami gunakan untuk melakukan review Dying Light 2:
| Prosesor | AMD Ryzen 9 5900X |
|---|---|
| Motherboard | ASUS ROG Strix B550-A |
| CPU Cooler | Cooler MasterLiquid ML360R RGB |
| GPU | ROG Strix Radeon RX 6600XT OC Edition 8GB GDDR6 |
| RAM | G-Skill TridentZ Royal 2x8GB 3600 MHz |
| SSD | WDC Black SN850 M.2 NVMe 1TB PCIe Gen 4.0 |
| PSU | Cooler Master MWE Gold 850 V2 Full Modular |
Grafis Cantik Memalingkan Dunia
Dengan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, tentunya tak bisa dipungkiri kalau Dying Light 2 sukses memukau setiap orang saat pertama kali memperlihatkan taringnya dengan berbagai trailer yang dibagikan. Namun pertama kali kru KotakGame memainkan game ini dan melihat sendiri performa grafis yang ditawarkan, Dying Light 2: Stay Human sukses memukau, bahkan melampaui ekspektasi dari setiap kru yang telah mencoba.
Untuk review kali ini, Kru KotakGame mendapatkan versi PC, sehingga grafis yang ditawarkan cukup fleksibel karena kami bisa mensetting sesuai kebutuhan. Grafis yang ditawarkan begitu indah, sehingga kami lupa bahwa game ini merupakan game horror. Ini memberikan perasaan yang cukup rumit bagi kru KotakGame, karena dengan warna terang yang didominasi warna coklat dan hijau, Dying Light 2 kurang memberikan impresi dunia yang kelam, berbeda dengan Dying Light 1 yang didominasi warna kelabu,
Kami memainkan versi Beta Test Gameplay, jadi ada kemungkinan masalah yang kami temui telah diperbaiki berbagai bug yang menyerang. Kami merasakan Frame Jumping walau tak separah yang telah dibicarakan dalam komunitas. Hanya sekali dua kali, dan terjadi bukan battle, namun saat cutscene.

Pelaksanaan Cerita Yang Kurang Direct
Dying Light 2 ini merupakan sekuel lepas dari Dying Light pertama, dimana game kedua mengambil setting 22 tahun setelah game pertama dan 15 tahun semenjak The Fall terjadi, sehingga tidak ada keterkaitan langsung antara game pertama dengan game kedua, pemain yang ingin bermain game kedua ini bisa langsung terjun dan bermain sebagai Aiden Caldwell, seorang Pilgrim yang harus berpetualang ke kota Viledor untuk mencari saudarinya, Mia Caldwell. Secara sekilas, pelaksanaan cerita dalam Dying Light 2 ini lebih terasa misterius, karena kita tidak mengenal Aiden dan Mia, dan mengapa Aiden mencari saudarinya tersebut. Potongan cerita diberikan dalam bentuk flashback, dan pemain harus menyambungkan potongan puzzle tersebut seiring kita bermain..

Pelaksanaan cerita ini terasa begitu berbeda dan kurang apabila dibandingkan dengan game pertamanya, dimana kita mengenal Kyle Crane sebagai agen rahasia yang harus menghentikan Kadir Suleiman yang mencuri data rahasia dan berpotensi memulai perang dunia, namun harus bertahan hidup dari kejaran zombie yang buas, dan masuk ke dalam game dengan situasi yang mengerikan. Perbedaan dalam gaya penyampaian cerita ini menyebabkan kurangnya rasa empati kepada Aiden dan pengertian akan motivasi Aiden dalam petualangannya mencari Mia bagi Kru KotakGame.
Gameplay Smooth dan responsif
Terlepas dari impresi awal cerita, Dying Light 2 menjadikan parkour sebagai daya tarik utama, dimana kita bisa berlari layaknya assassin di gedung-gedung tinggi, berayun bahkan bisa menggunakan glider untuk menjangkau lokasi yang agak jauh (walau agak belakang), dan formula yang dikembangkan dalam Dying Light pertama telah disempurnakan pada Dying Light 2. Seluruh kontrol yang disediakan membuat berlari dari kejaran zombie menjadi begitu natural, tanpa adanya kesulitan input. kemudahan ini membuat pemain cukup memikirkan nyawa pemain saat berlari dari kejaran Zombie.
Berbicara mengenai kejar-kejaran dengan zombie, dalam Dying Light 2 ini terdapat satu mekanisme baru yang memperlihatkan seberapa banyak zombie yang mengejar dirimu. Dinamakan Chase Level, level ini akan memperlihatkan seberapa berbahayanya zombie horde yang mengejarmu, mulai dari 1 yang tingkat berbahayanya cukup rendah, hingga level 4 yang mana satu kesalahan kecil berarti game over. Mekanisme ini mempermudah pemain untuk mengatur resiko saat pemain harus lari dari para zombie saat malam hari.

Dalam urusan fighting, tidak ada perubahan signifikan yang sangat merubah gaya permainan secara drastis, Pemain masih harus mencari, meng-upgrade senjata yang digunakan dan memperhatikan apakah senjata tersebut akan rusak atau tidak. Dengan absennya repair kit, pemain harus memperhatikan durability secara ekstra, apabila pemain tidak mau senjata pemain rusak disaat bertarung. Namun durability bisa ditanggulangi dengan menggunakan Mod, komponen modifikasi yang membuat senjata lebih kuat, namun ini bukanlah solusi permanen, dan pemain harus terus mencari senjata agar bisa terus bertahan hidup. Pemain juga harus pintar-pintar mengatur sumber daya, dan timing berpetualang karena siklus siang malam akan kembali dalam game kedua ini, dimana pada siang hari, zombie-zombie akan masuk kedalam gedung untuk tidur dan keluar pada malam hari
Mekanisme Stealth yang mengigit jari

Dalam Dying Light 2, pemain akan sering menghabiskan waktu dalam ruangan di dalam sebuah gedung, dan harus bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Tak jarang, pemain justru harus mengendap-ngendap agar tidak berurusan dengan dengan para zombie yang tertidur di siang hari. Dying Light 2 kini melepas sistem view cone, sebuah kerucut yang menandakan jarak pandang dari zombie, jadi pemain harus terus waspada agar tidak membangunkan zombie yang sedang tidak aktif.

Untuk kamu yang membenci stealth, kamu harus menggigit jari, karena stealth akan terus ada selama kamu bermain. Memang stealth sebuah pilihan, kami pun sering menganggap bahwa mengendap-ngendap tidak cocok dengan gaya permainan kami, namun sering kali kami harus berkompromi dan menggunakan stealth untuk mencari berbagai sumber daya yang ada dalam sebuah bangunan berbahaya.
[BACAJUGA]
Rasa RPG yang kental akan grinding
Sama seperti Dying Light pertama, Dying Light 2 juga menganut sistem RPG, dimana kalian bisa memilih skill apa yang kalian inginkan untuk Aiden. Skill ini pun dibagi menjadi dua macam, yaitu Combat dan Parkour. Namun untuk Dying Light 2 ini kalian harus pintar-pintar memilih skill mana yang kalian butuhkan untuk Aiden, karena disini, grinding akan menjadi makanan yang harus kalian nikmati. Mulai dari old world money, uncommon hingga rare enemy trophies harus kalian kumpulkan karena skill yang ingin kalian ambil, harus kalian beli dengan harga yang tak murah.
Selain itu, untuk sebuah game survival horror, Dying Light 2 secara mengejutkan memberikan perhatian lebih kepada sisi crafting, dimana kalian harus mencari berbagai komponen seperti madu dan bunga chamomile untuk membuat sebuah first aid. Tak berhenti sampai disitu, kalian juga bisa membuat berbagai alat seperti noisemaker dan throwing knife. Untuk bertahan hidup, kalian juga harus pintar-pintar memanfaatkan shop yang hadir, dimana shop akan menjual senjata, armor hingga mod yang lebih baik dari yang bisa kalian temukan, dan benar saja, setiap shop ini menjual barang-barang mereka dengan harga yang tak murah juga, dan kalian harus siap untuk grinding membunuh zombie maupun musuh biasa.

Streamer Mode untuk kamu yang ingin menjadi streamer

Maksud dari poin ini bukan Dying Light 2 akan membantu kamu untuk menjadi streamer terkenal layaknya Windah Basudara, namun mode ini akan memutar lagu-lagu yang tidak memiliki hak cipta, sehingga apabila kamu ingin melakukan streaming, atau mengunggah bagian gameplay kamu ke Youtube, kamu tidak akan mendapat serangan atas hak cipta. Poin ini terasa begitu remeh, namun kami sangat mengapresiasi langkah yang diambil oleh Techland, dimana mereka mengambil langkah untuk para streamer atau Youtube untuk bisa memainkan Dying Light 2 ini tanpa harus takut akan copyright claim/strike.
Konsekuensi kubu yang kurang terasa akibatnya
Dalam berbagai promosi yang dibagikan oleh Techland, Dying Light 2 merupakan sebuah game penuh dengan konsekuensi. Apabila kita memilih satu kubu, game akan merekam dan memberikan konsekuensi yang ada. Apabila kita memilih sebuah pilihan yang krusial, game akan menyesuaikan dunia dengan pilihan tersebut. Ini berarti pengalaman bermain dari setiap pemain akan berbeda satu sama lain. Namun hal ini terasa tidak menjadi fokus utama dari Dying Light 2, dimana beberapa pilihan memang sangat penting, namun untuk pilihan lainnya hanya akan memberikan scene yang berbeda.
Hal ini tentu memberikan rasa yang agak pahit dimulut, dimana setiap pilihan ini seharusnya memberikan dampak yang berbeda dan membuat cabang cerita, namun pada akhirnya akan kembali menuju plot utama, yaitu masalah Aiden ingin mencari Mia. Layaknya kita sengaja memilih jalan lain dengan harapan akan mencapai tujuan baru, hanya untuk mengetahui bahwa jalan tersebut hanya akan kembali menuju tujuan awal. Kami tidak menemukan pilihan yang begitu berdampak sangat besar terhadap cerita selain pilihan akhir
[BACAJUGA]
Kesimpulan
Memang tak ada gading yang tak retak, setiap ekspektasi yang terlalu tinggi pastinya akan membawakan kekecewaan yang tak kalah tinggi pula. Bukan berarti Kru KotakGame kecewa berat dengan Dying Light 2 ini, namun kami merasa bahwa game ini masih bisa dikembangkan lebih lagi. Dimana satu sisi begitu sempurna, sisi lainnya nampak kurang diperhatikan, dan dalam Dying Light 2 ini begitu terasa ketimpangan antara sisi gameplay dan sisi cerita. Untuk kamu yang sangat menginginkan game survival horror dengan kebebasan bermanuver dan bergerak, Dying Light 2 Stay Human adalah game yang sempurna untukmu, namun jika ingin cerita yang menggugah dan sangat indah, ada baiknya mencari game RPG yang memang sudah terkenal dengan ceritanya..Tertarik untuk mencoba? Dying Light 2 Stay Human tersedia untuk Xbox Series X and Series S, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, Nintendo Switch, dan PC lewat Steam dan Epic Game Store.
Kesimpulan Review: Dying Light 2: Stay Human

- (+) KELEBIHAN
- Gameplay yang smooth
- Pergerakan parkour yang begitu bebas dan intuitif
- Gameplay tidak monoton dan membosankan
- Streamer Mode untuk menghindari Copyright Strike Youtube
- Crafting yang tak diduga begitu diperhatikan
- (-) KEKURANGAN
- Cerita yang kurang memberikan hook
- Pilihan dan konsekuensi tak begitu terasa dampaknya
- Kualitas Voice acting yang terkadang kurang menjiwai
- Bug yang cukup mengganggu
prev
1 dari 3
next
BACA JUGA BERITA INI

