



Mulai 10 Desember 2025, Australia mewajibkan anak-anak di bawah usia 16 tahun tidak boleh membuat akun YouTube. Kebijakan ini menjadikan YouTube sebagai platform sosial media yang dibatasi setelah sebelumnya dikecualikan. Hal ini menjadi bagian dari peraturan yang melarang pengguna muda mengakses platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, X, dan Snapchat.
Awalnya, YouTube dikecualikan karena dianggap lebih edukatif. Namun laporan dari eSafety Commissioner Julie Inman Grant menunjukkan bahwa hampir 40% remaja di Australia mengalami dampak negatif terakhir dari platform ini, termasuk paparan konten berbahaya seperti misogini, kekerasan, dan pengaruh gangguan makan. Hasil survei terhadap 2.600 anak usia 10–15 tahun menguatkan argumen ini.
Oleh karena itu pemerintah mengambil keputusan balasan: YouTube harus memblokir pembuatan akun untuk pengguna di bawah 16 tahun, tapi pengguna tetap boleh menonton video tanpa login.
Baca ini juga :
» YouTube Shorts Kini Bisa Dibatasi! Inovasi Baru untuk Kendali Orang Tua
» Akun TikTok Gustian Rekt Kena Banned Permanen, Terpaksa Bikin Akun Baru
» Remaja di Australia Dilarang Gunakan Sosmed? Pelanggar Bisa Dikenakan Denda Rp544 M
» YouTube Resmi MLBB Esports Sempat Ditangguhkan, Diduga Akibat Peretasan Berbau Scam Kripto
» Umur 16 Tahun Kebawah Sudah Tak Bisa Live Streaming Di Youtube Lagi!
» Russia Denda Google Sebanyak 20,5 Desiliun USD Karena Pemblokiran YouTube!
» Nyobain Kendaraan “TukTuk” Asal Thailand, iShowSpeed Langsung Nabrak Kuil Suci!
» Sukses Raih Jutaan Subscriber, Cristiano Ronaldo Ingin Melampaui Mr Beast!!
YouTube mengkritik kebijakan ini, mengatakan bahwa mereka bukan platform media sosial dan menyorot nilai edukasi serta library konten yang mendidik. YouTube bahkan menyatakan akan mempertimbangkan tantangan hukum terkait larangan ini.
Sementara itu, pakar dari beberapa universitas menyebut kebijakan ini terlalu “kasar” (blunt), bisa membuat anak justru lebih terpapar konten tanpa filter jika hanya mengakses tanpa akun karena kehilangan kontrol rekomendasi dan mode terbatas.
PM Anthony Albanese mengatakan bahwa Australia akan memperkenalkan kebijakan ini di KTT PBB September 2025, sebagai bentuk ajakan negara lain ikut melindungi anak dari bahaya digital.
Pada awalnya, regulator pemerintah bahkan mengujicoba teknologi verifikasi usia, dan menyimpulkan bahwa tes bisa berjalan dengan aman tanpa perlu identitas resmi pengguna.
Kebijakan ini bisa jadi babak baru dalam pengaturan penggunaan media digital oleh anak. Namun pertanyaan tetap ada: apakah dengan tidak bisa punya akun, mereka justru lebih rentan melihat konten tanpa filter? Atau ini benar langkah protokol anak pertama di dunia?
Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.