



Arab Saudi sekarang resmi pegang lebih dari 10% saham Capcom! Gila banget kan? Ini berdasarkan laporan shareholder yang diserahin ke Kanto Local Finance Bureau Jepang tanggal 13 Maret 2026, langsung dari sumber kredibel kayak GameBiz.jp dan diterjemahin Automaton Media, plus dikonfirmasi banyak outlet besar seperti Variety, Eurogamer, IGN, TheGamer, sama Shacknews sekitar 16-18 Maret 2026.
Saudi Arabia now owns 10% of Capcom. https://t.co/QIbEfAOUIX pic.twitter.com/Bcdd3d5Oib
— IGN (@IGN) March 17, 2026
Jadi ceritanya, Electronic Gaming Development Company (EGDC) yang di bawah MiSK Foundation milik Crown Prince Mohammed bin Salman baru aja beli 26.788.500 saham Capcom. Itu setara 5,03% dari total saham perusahaan. Mereka bilang ini pure investment doang, artinya cuma buat cari untung dari naiknya harga saham sama dividen, bukan buat ikut campur urusan operasional atau bikin game. No drama, no control.
Nah, ini ditambah lagi sama saham sekitar 5% yang udah dipegang Public Investment Fund (PIF) Saudi sejak Februari 2022. Waktu itu PIF beli paket saham Capcom bareng Nexon, total investasi sekitar US$1 miliar (atau sekitar Rp15-16 triliun). Meskipun dicatat terpisah, karena keduanya nyambung ke pemerintah Saudi di bawah pengaruh Crown Prince, totalnya jadi lebih dari 10% atau "just over 10%", "around 10%", "over 10%" gitu deh yang sering disebut media.
Kenapa bilang "lebih dari" 10%? Karena saham PIF sering digambarin "roughly 5%" atau "around 5%", ditambah EGDC yang pas 5,03%, jadi totalnya sedikit ngelebihin. Capcom sama EGDC sendiri belum kasih komentar resmi, tapi pola ini mirip banget sama yang mereka lakuin di SNK: mulai dari saham kecil, pelan-pelan naikin sampe akhirnya kuasai full.
Latar belakangnya? Capcom lagi on fire banget performanya. Resident Evil Requiem (judul terbaru survival horror) laku lebih dari 6 juta kopi dalam waktu cepet, rekor tercepat di franchise itu. Ditambah Street Fighter 6 yang terus sukses, plus hype Monster Hunter Wilds yang lagi ditunggu-tunggu. Harga saham Capcom naik gila-gilaan, jadi wajar Saudi lirik.
Baca ini juga :» Nihon Falcom Pastikan Mengakhiri Trails Series Di Tahun 2032
» Kreator Resident Evil, Shinji Mikami dan Studio Barunya Unbound Sedang Memasak IP game Baru!
» Resident Evil 4 Remake akhirnya terbebas dari DRM Enigma
» Keuntungan Capcom 50% berasal dari PC
» Review Resident Evil - Berhasilkah Capcom Gabung Banyak Esensi RE di Satu Game?
» Spoiler Penting Resident Evil Requiem Tersebar di Media Sosial, Dianjurkan Hati-Hati Browsing Internet!
» Dino Crisis dan Dino Crisis 2 Resmi Hadir di PC via Steam dengan Versi Lebih Modern
» Sinyal Kuat Monster Hunter Wilds Hadir di Nintendo Switch 2 Dari Bocoran?
Ini semua bagian dari Vision 2030 Saudi buat diversifikasi ekonomi, gak lagi bergantung minyak doang. PIF dan anak usahanya kayak EGDC lagi gencar invest di gaming: Nintendo (sekitar 5-8%), SNK (sampe 100%), Take-Two, Activision Blizzard (sebelum dibeli Microsoft), Scopely (Monopoly GO!), bahkan lagi negosiasi beli Electronic Arts (EA) senilai US$55 miliar. Capcom dipilih karena track record-nya stabil dan profitable.
Buat kita di Indonesia, Capcom tetep publisher gede yang sering rilis game di Steam, PS5, Xbox Series X/S, sama Switch. Investor asing kuat ini bisa bawa positif: lebih banyak budget marketing global, ekspansi pasar, atau dukungan dev. Tapi sampe sekarang, belum ada tanda-tanda mereka bakal ubah arah kreatif. Kontrol pengembangan game masih full di tangan tim Jepang yang udah pengalaman puluhan tahun bikin judul legendaris kayak Devil May Cry, Resident Evil remake, Monster Hunter, dan alin-lain. Mari kita tunggu saja gebrakan seperti apa yang akan dilakukan Capcom dan Arab Saudi kedepannya.