



Di tengah maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan di industri gim, Clair Obscur: Expedition 33 menjadi salah satu judul yang banyak dibicarakan karena kisahnya yang terasa sangat manusiawi dan emosional.

RPG ini mengangkat tema kehilangan, duka, dan kematian, dan justru di area inilah sang narrative lead, Jennifer Svedberg-Yen, mengambil posisi tegas, ia tidak tertarik menggunakan AI untuk membantu proses penulisan. Baginya, menulis bukan sekadar menghasilkan naskah yang rapi, tetapi proses batin yang melelahkan sekaligus memuaskan, dan bagian itulah yang ia anggap krusial dalam terciptanya cerita yang jujur.
Clair Obscur: Expedition 33 lead writer doesn't use AI for work because "writing is part of the joy," and "it's also part of the pain" https://t.co/9FLL1KmtDs
— GamesRadar+ (@GamesRadar) March 18, 2026
Svedberg-Yen menggambarkan menulis sebagai perpaduan antara rasa senang dan rasa sakit. Ia menyebut ada penulis yang berkarya ketika sedang penuh inspirasi, dan ada pula yang “menulis melalui rasa sakit”. Dalam proses kreatifnya, ia berusaha sungguh-sungguh menyelami emosi karakter: apa yang mereka rasakan, apa yang akan mereka katakan, serta bagaimana emosi itu ikut bergaung dalam dirinya sebelum dituangkan dalam bentuk dialog. Dari proses intens tersebut, ia berusaha menemukan “kebenaran” di setiap momen cerita sehingga tiap adegan terasa hidup dan relevan.

Karena cara kerja seperti itu, ia merasa sulit melihat peran AI yang benar-benar cocok dengan kebutuhannya sebagai penulis. Menurutnya, menulis adalah medium untuk menyalurkan apa yang ada di kepalanya sendiri: sudut pandang pribadi, cara memaknai dunia, dan pengalaman hidup yang kemudian diproyeksikan ke dalam karakter dan situasi fiksi.
Dirinya mungkin khawatir aspek personal tersebut akan berkurang ketika teks dihasilkan lewat sistem yang ia anggap sebagai “kotak hitam”, di mana cara AI bergerak dari input ke output tidak sepenuhnya transparan. Ketika salah satu pihak dalam proses bertutur bukan manusia, tujuan utama bercerita sebagai cara menjalin koneksi antarmanusia ikut bergeser.
Baca ini juga :» Ketahuan Belum Hapus Watermark AI, Neverness To Everness Dikritik Banyak Gamer
» Kok Begini??? Creator Paulius Bikin Ulang Game Pokemon pake AI
» CEO Shift Up Respon Kritik Gamer Terkait Video Music Menggunakan Generatif AI
» Piala Dunia 2026 dan Revolusi AI Lenovo: Era Baru dalam Penyelenggaraan Olahraga Global
» Bikin Video Music Pake Generatif AI, Developer Stellar Blade Banyak Diprotes
» Main Black Myth Wukong Cuma Pakai Otak? Teknologi BCI Ini Buktikan Game Action Tanpa Stik Bisa Terwujud!
» ASUS Zenni Claw: AI Agent Praktis yang Mengubah Produktivitas dan Aktivitas Harian
» IBM Perkenalkan Chip 0.7nm Pertama di Dunia, Siap Lompatkan Performa AI dan Gaming hingga 6 Kali Lipat!
Pandangan tersebut hadir di tengah tren industri yang semakin agresif mengadopsi AI ke berbagai lini, mulai dari visual hingga eksperimen dialog interaktif. Di saat teknologi baru kerap dijual dengan janji efisiensi, Clair Obscur: Expedition 33 justru menonjol sebagai karya yang keberhasilannya banyak dikaitkan dengan kedalaman ceritanya dan sentuhan manusia di baliknya.

Dengan latar prestasi dan pengakuan yang mulai berdatangan, posisi Svedberg-Yen terhadap AI memperkuat citra game ini sebagai produk kreatif yang bertumpu pada pengalaman dan emosi manusia, bukan sekadar hasil olahan algoritma. Sikap tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua aspek penceritaan diserahkan kepada mesin, terutama ketika yang dipertaruhkan adalah keaslian suara dan perspektif sang kreator.