space
WRITER CLAIR OBSCUR: EXPEDITION 33 MENOLAK PAKAI AI UNTUK TULISANNYA, KENAPA?
PC
2 Hari yang lalu

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Di tengah maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan di industri gim, Clair Obscur: Expedition 33 menjadi salah satu judul yang banyak dibicarakan karena kisahnya yang terasa sangat manusiawi dan emosional.



RPG ini mengangkat tema kehilangan, duka, dan kematian, dan justru di area inilah sang narrative lead, Jennifer Svedberg-Yen, mengambil posisi tegas, ia tidak tertarik menggunakan AI untuk membantu proses penulisan. Baginya, menulis bukan sekadar menghasilkan naskah yang rapi, tetapi proses batin yang melelahkan sekaligus memuaskan, dan bagian itulah yang ia anggap krusial dalam terciptanya cerita yang jujur.

Svedberg-Yen menggambarkan menulis sebagai perpaduan antara rasa senang dan rasa sakit. Ia menyebut ada penulis yang berkarya ketika sedang penuh inspirasi, dan ada pula yang “menulis melalui rasa sakit”. Dalam proses kreatifnya, ia berusaha sungguh-sungguh menyelami emosi karakter: apa yang mereka rasakan, apa yang akan mereka katakan, serta bagaimana emosi itu ikut bergaung dalam dirinya sebelum dituangkan dalam bentuk dialog. Dari proses intens tersebut, ia berusaha menemukan “kebenaran” di setiap momen cerita sehingga tiap adegan terasa hidup dan relevan.



Karena cara kerja seperti itu, ia merasa sulit melihat peran AI yang benar-benar cocok dengan kebutuhannya sebagai penulis. Menurutnya, menulis adalah medium untuk menyalurkan apa yang ada di kepalanya sendiri: sudut pandang pribadi, cara memaknai dunia, dan pengalaman hidup yang kemudian diproyeksikan ke dalam karakter dan situasi fiksi.

Dirinya mungkin khawatir aspek personal tersebut akan berkurang ketika teks dihasilkan lewat sistem yang ia anggap sebagai “kotak hitam”, di mana cara AI bergerak dari input ke output tidak sepenuhnya transparan. Ketika salah satu pihak dalam proses bertutur bukan manusia, tujuan utama bercerita sebagai cara menjalin koneksi antarmanusia ikut bergeser.

Baca ini juga :
» Arab Saudi Pegang 10% Saham Capcom, Apa Next Step Mereka?
» Predator Helios 16 AI: Laptop "Monster" Terbaru untuk Kreator & Gamer di Indonesia
» Inovasi AI Lenovo di MWC 2026: Masa Depan Kerja Hybrid yang Cerdas dan Modular
» Nihon Falcom Pastikan Mengakhiri Trails Series Di Tahun 2032
» ASUS NUC 16 Pro: Mini PC Copilot+ Bertenaga AI untuk Profesional Masa Kini
» AMD Luncurkan Ryzen AI Embedded P100 Series: Revolusi "Physical AI" dan Robotika Masa Depan
» Kreator Resident Evil, Shinji Mikami dan Studio Barunya Unbound Sedang Memasak IP game Baru!
» Cara Lenovo Aura Edition Transformasi Hambatan Jadi Peluang Bisnis Lewat AI

Pandangan tersebut hadir di tengah tren industri yang semakin agresif mengadopsi AI ke berbagai lini, mulai dari visual hingga eksperimen dialog interaktif. Di saat teknologi baru kerap dijual dengan janji efisiensi, Clair Obscur: Expedition 33 justru menonjol sebagai karya yang keberhasilannya banyak dikaitkan dengan kedalaman ceritanya dan sentuhan manusia di baliknya.



Dengan latar prestasi dan pengakuan yang mulai berdatangan, posisi Svedberg-Yen terhadap AI memperkuat citra game ini sebagai produk kreatif yang bertumpu pada pengalaman dan emosi manusia, bukan sekadar hasil olahan algoritma. Sikap tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua aspek penceritaan diserahkan kepada mesin, terutama ketika yang dipertaruhkan adalah keaslian suara dan perspektif sang kreator.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close