



Epic Games kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.000 karyawan. Keputusan besar ini diungkap langsung oleh CEO perusahaan, Tim Sweeney, yang menyebutkan bahwa kondisi finansial perusahaan saat ini masih belum stabil karena pengeluaran yang jauh lebih besar dibandingkan pemasukan.
Sweeney menjelaskan bahwa salah satu faktor utama di balik kondisi ini adalah penurunan keterlibatan pemain di Fortnite yang mulai terasa sejak tahun 2025. Meskipun Fortnite tetap menjadi salah satu game paling sukses di dunia, Epic menghadapi kesulitan dalam mempertahankan daya tariknya secara konsisten di setiap musim. Menurutnya, menghadirkan pengalaman yang selalu segar dan menarik untuk jutaan pemain bukanlah hal yang mudah, dan hal tersebut mulai berdampak pada performa bisnis perusahaan.
Information on today's layoffshttps://t.co/ota1m1FCnK
— Epic Games Newsroom (@EpicNewsroom) March 24, 2026
Selain faktor internal, Sweeney juga menyinggung kondisi industri game secara umum yang ikut memberikan tekanan. Salah satunya adalah penjualan konsol generasi terbaru yang dinilai tidak sekuat generasi sebelumnya. Hal ini secara tidak langsung memengaruhi pertumbuhan ekosistem gaming secara keseluruhan, termasuk performa game live service seperti Fortnite.
Epic juga masih merasakan dampak dari pertarungan hukum panjang melawan Apple dan Google. Meski pada akhirnya Epic berhasil meraih kemenangan dalam beberapa aspek penting, proses hukum tersebut memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Sweeney menyebut bahwa perjuangan tersebut baru memasuki tahap awal dalam hal manfaat jangka panjang, khususnya terkait kembalinya Fortnite ke platform mobile dan upaya optimalisasi untuk miliaran pengguna smartphone di seluruh dunia.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Sweeney menegaskan bahwa keputusan PHK ini tidak ada kaitannya dengan penggunaan teknologi AI. Ia menekankan bahwa langkah ini murni diambil untuk menjaga keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang, mengingat tekanan finansial yang terus berlangsung.
Baca ini juga :» Epic Games Akui Jika Launcher Mereka Sampah: "Terima Saja"
» Kado Natal! Epic Games Store Bagikan Disco Elysium - The Final Cut Secara Gratis
» Epic Games Siapkan Game Gratis Spesial Untuk TGA 2025, Apa Nih?
» Epic Games Bagikan 3 Game Gratis yang Wajib Kamu Klaim!
» Anak 90an Pecinta Power Rangers Absen di Fortnite! Sudah Bisa Kamu Mainkan Mulai 7 Agustus Ini
» Epic Bagikan Game Sifu dan Deliver At All Cost gratis, Buruan Claim!
» Free Game Hunter Alert! Epic Games Bagi Game Jurassic World Evolution 2 Gratis
» Pro Player Fortnite Di-Ban Seumur Hidup & Denda Oleh Epic Games Karena Joki Saat Turnamen
Ke depan, Epic Games berencana untuk kembali fokus pada kekuatan utamanya, yaitu menghadirkan pengalaman bermain Fortnite yang menarik melalui konten musiman baru, gameplay inovatif, pengembangan cerita, serta event live yang spektakuler. Selain itu, Sweeney juga memberikan teaser mengenai “generasi berikutnya dari Epic” yang direncanakan meluncur menjelang akhir tahun ini, meskipun belum ada detail lebih lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut.
In the coming days, employers will see a stream of resumes of once-in-a-lifetime quality folks. An important thing to understand is that Epic never lowered our hiring standards as we grew, and the layoff wasn't a performance-based "rightsizing" as companies call it nowadays. It's… https://t.co/3SvyWNC04k
— Tim Sweeney (@TimSweeneyEpic) March 25, 2026
Ia juga mengakui bahwa kondisi pasar saat ini merupakan salah satu yang paling menantang sejak Epic berdiri pada 1991. Meski demikian, Sweeney tetap optimistis bahwa akan ada peluang besar bagi perusahaan yang mampu bertahan dan beradaptasi di tengah situasi sulit ini.
Perlu dicatat, ini bukan pertama kalinya Epic melakukan pemangkasan karyawan dalam jumlah besar. Pada September 2023, perusahaan juga melakukan PHK terhadap lebih dari 800 karyawan dengan alasan serupa, yaitu pengeluaran yang melampaui pendapatan. Bahkan pada 2024, Epic sempat menyatakan kondisi keuangannya mulai stabil setelah melakukan berbagai penyesuaian. Namun, tekanan biaya operasional—termasuk kenaikan biaya menjalankan Fortnite yang bahkan sempat mendorong kenaikan harga V-Bucks—kembali memaksa perusahaan mengambil langkah drastis.
Dengan kondisi yang ada saat ini, langkah Epic Games mencerminkan tantangan besar yang tengah dihadapi industri game global, terutama bagi perusahaan yang mengandalkan model live service. Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Epic akan bangkit dan berinovasi di fase berikutnya.