space
POST-GAME DEPRESSION, GAMER HARUS WASPADA?
PC
Kamis, 26 Mar 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Post-game depression ternyata bukan cuma istilah curhat gamer di medsos, sekarang sudah ada studi ilmiah yang bilang fenomena ini itu nyata, dan yang paling “beracun” bikin baper justru game RPG.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Current Psychology ini mengklaim sebagai upaya kuantitatif pertama buat ngukur fenomena P-GD. Mereka melibatkan 373 partisipan dan mengurai pengalaman pemain ke dalam empat aspek: Game-related Ruminations, Challenging End of Experience, Necessity of Repeating the Game, dan Media Anhedonia.

Media anhedonia di sini maksudnya adalah kondisi ketika hal-hal yang biasanya bikin senang (termasuk game lain atau hiburan lain), tiba-tiba kerasa hambar karena nggak ada yang bisa “ngisi” kekosongan yang ditinggalkan game sebelumnya.

Penelitian ini juga ngutip kerjaan sebelumnya dari Piotr Klimczyk di 2023, yang sudah lebih dulu memetakan empat aspek utama P-GD dan menghubungkannya dengan well-being, suasana hati, sampai bagaimana pemain merenung dan memproses emosi. Intinya, semakin dalam keterikatan emosimu dengan karakter dan cerita, terutama ketika ada karakter yang mati atau konflik berat di dalam narasi, semakin keras juga “tamparan” emosi saat game berakhir.

Hal yang menarik, laporan terbaru ini menyimpulkan kalau versi empat faktor dari skala P-GDS (Post-Game Depression Scale) yang mereka kembangkan itu konsisten dan valid untuk mengukur intensitas P-GD. Dari situ, mereka melihat adanya korelasi positif antara kuat-lemahnya P-GD dengan gejala depresi yang lebih berat, kecenderungan overthinking/rumination, gangguan pemrosesan emosi, serta level kesejahteraan psikologis yang lebih rendah.

Baca ini juga :

» POCO X8 Pro Series Siap Gebrak Indonesia 2 April 2026: Definisi Performa "Rata Kanan"!
» Review Crimson Desert: Visual Indah, Gameplay Asyik. Tapi Yaudah, Gitu Aja
» Jensen Huang Berubah Pikiran Soal AI Di Game, Apakah Karakter Development?
» Pearl Abyss Resmi Rilis Crimson Desert Secara Global!
» Akhirnya Bethesda Kini Fokus Penuh Garap The Elder Scrolls 6
» Predator Helios 16 AI: Laptop "Monster" Terbaru untuk Kreator & Gamer di Indonesia
» ASUS ROG Rilis 3 Monitor Strix OLED 27 Inci Terbaru: Visual Sultan, Harga Lebih Terjangkau!
» Lini Inovasi Lenovo di MWC 2026: Masa Depan AI, Kreativitas 3D, dan Gaming Portabel

Dan di sinilah RPG naik ke panggung utama: dari semua genre yang disampling, role-playing games tercatat paling kuat memicu post-game depression dibanding genre lain. Nggak heran, karena RPG biasanya punya dunia luas, cerita panjang, dan karakter-karakter yang dibangun pelan-pelan sampai lo ngerasa mereka itu “teman sendiri”.Penelitian juga menyoroti perubahan generasi gamer: mereka yang dulu main game sebagai anak-anak kini sudah dewasa, dengan kebutuhan emosi yang lebih kompleks.

Industri game pun ngikut, makin banyak judul yang sengaja dirancang bukan cuma buat fun, tapi juga buat memantik kontemplasi, kesedihan, sampai refleksi eksistensial. Beberapa game sengaja bermain di ranah horror dan survival untuk menanamkan rasa takut, sementara genre soulslike bikin frustasi dan menantang, lalu “menghadiahi” pemain dengan rasa pencapaian dan kompetensi begitu berhasil menaklukkannya.

Kalau ditarik ke pengalaman sehari-hari gamer, deskripsi studi ini kedengarannya sangat familiar: ada yang ngerasa ending datang terlalu cepat, ada yang nggak rela mengakui bahwa petualangannya benar-benar selesai.

Lalu muncul kesadaran pahit bahwa nggak akan pernah ada lagi “first playthrough” kedua kalinya, dan emosi intens yang dulu muncul (entah tegang, bahagia, atau sedih), hal itu nggak bisa direplikasi persis sama. Perasaan ini bisa nempel berhari-hari bahkan berminggu-minggu, sementara game atau hiburan lain terasa nggak memuaskan.

Studi ini nggak bilang “game itu buruk”, tapi lebih ke ngingetin bahwa keterlibatan emosional yang dalam punya konsekuensi psikologis nyata. Di sisi lain, hal ini juga nunjukin seberapa jauhnya medium game sudah berkembang: dari sekadar hiburan ringan jadi pengalaman naratif dan emosional yang bisa nempel di kepala dan hati pemain dalam jangka panjang.

Baca ini juga :

» POCO X8 Pro Series Siap Gebrak Indonesia 2 April 2026: Definisi Performa "Rata Kanan"!
» Review Crimson Desert: Visual Indah, Gameplay Asyik. Tapi Yaudah, Gitu Aja
» Jensen Huang Berubah Pikiran Soal AI Di Game, Apakah Karakter Development?
» Pearl Abyss Resmi Rilis Crimson Desert Secara Global!
» Akhirnya Bethesda Kini Fokus Penuh Garap The Elder Scrolls 6
» Predator Helios 16 AI: Laptop "Monster" Terbaru untuk Kreator & Gamer di Indonesia
» ASUS ROG Rilis 3 Monitor Strix OLED 27 Inci Terbaru: Visual Sultan, Harga Lebih Terjangkau!
» Lini Inovasi Lenovo di MWC 2026: Masa Depan AI, Kreativitas 3D, dan Gaming Portabel

Buat gamer, mungkin jawabannya bukan berhenti main, tapi lebih sadar kalau rasa kosong setelah tamat game besar itu wajar aja, bedanya cuma sekarang resmi diakui ilmuwan. Jadi, kalau lo ngerasa down setelah menyelesaikan game yang lo cintai, itu bukan berarti lo lemah atau nggak bisa move on, tapi justru bukti kalau lo benar-benar terhubung dengan dunia dan karakter di dalamnya. Dan siapa tahu, mungkin perasaan itu juga bisa jadi bahan refleksi buat lo tentang apa yang sebenarnya bikin game itu spesial buat lo, dan kenapa lo begitu terikat secara emosional.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close