space
SHUHEI YOSHIDA CURHAT DIRINYA TERNYATA "DIPECAT" SAAT JADI BOSS PLAYSTATION, KOK BISA?
PC
Selasa, 21 Apr 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Shuhei Yoshida baru-baru ini buka-bukaan soal momen ketika dirinya sebenarnya dipecat dari posisi bos studio first party PlayStation oleh Jim Ryan, dan ceritanya cukup santai tapi pedas di saat yang sama. Di balik itu, ada perjalanan panjang 31 tahun di PlayStation, cinta berat ke game indie, sampai kecanduannya terhadap Marvel Snap yang ia sebut hampir menghancurkan hidupnya sendiri. Dari luar mungkin kelihatan seperti drama kantor biasa, tapi kalau ditarik garis ke belakang, keputusan dan sikap Yoshida justru nunjukin seberapa keras ia bertahan pada prinsip soal arah game yang menurutnya ideal.

Yoshida mengungkapkan cerita ini ketika tampil di festival game ALT: GAMES di Australia, sambil flashback ke masa ia memimpin studio first party. Ia mengenang bagaimana dirinya ikut mendukung Santa Monica dengan God of War, Naughty Dog dengan Uncharted dan The Last of Us, sampai Sucker Punch yang akhirnya merilis Ghost of Tsushima sebagai salah satu proyek terakhir di bawah masa kepemimpinannya. Setelah 11 tahun menjabat sebagai presiden Sony Worldwide Studios, titik balik datang pada 2019 ketika Jim Ryan memutuskan untuk menggeser Yoshida dari jabatannya dan merombak struktur menjadi PlayStation Studios.

Dalam sesi tersebut, Yoshida menyebut bahwa Jim Ryan ingin menyingkirkan dirinya dari posisi bos first party karena dia tidak mendengarkan instruksi. Ia menjelaskan bahwa Ryan beberapa kali mengajukan permintaan yang menurutnya kurang masuk akal, dan ia memilih untuk menolak. Salah satu konteks yang terasa nyambung dengan era kepemimpinan Ryan adalah dorongan kuat menuju model game live service dan pendekatan bisnis yang sangat mengutamakan keberlanjutan pendapatan. Sementara PlayStation di bawah Ryan mendorong banyak proyek live service dan ekspansi agresif ke PC, Yoshida justru dikenal lebih condong ke game single player yang kuat secara narasi dan karya kreator independen.

Tanpa menyebut satu judul spesifik, sikap Yoshida terhadap arah live service ini terasa dari cara ia bicara. Ia menggambarkan bagaimana beberapa ide dan permintaan di internal perusahaan tidak sejalan dengan pandangannya tentang apa yang membuat game jadi spesial. Ketika manajemen ingin lebih mengejar tren layanan jangka panjang, monetisasi, dan konten berulang, Yoshida lebih tertarik mendukung karya kreator yang mengutamakan pengalaman unik, cerita menyentuh, atau mekanik yang berani berbeda. Di sinilah muncul kesan bahwa ia tidak terlalu mendukung dorongan keras ke game live service, dan memilih tidak sekadar mengiyakan arahan yang menurutnya tidak cocok.

Setelah dicopot dari jabatan presiden studio first party, Jim Ryan menawarkan peran baru untuk Yoshida, fokus di ranah game indie lewat inisiatif PlayStation Indies. Alih-alih merasa dibuang, Yoshida justru mengaku sangat menikmati posisi barunya ini, karena seluruh perusahaan tahu betapa cintanya ia terhadap game indie. Ia menjadi semacam juru bicara dan penggerak game indie, membantu developer kecil mendapatkan sorotan lebih besar di ekosistem PlayStation.

Baca ini juga :

» DRM Kembali Berulah, Game PS5 Lisensinya Bisa Hilang Kalo Gak Online Sebulan?
» Mantan Boss Playstation Shuhei Yoshida: Masa Depan Gaming ada di Game Indie
» SQUARE ENIX SPRING SALE Part 2: Diskon Gede-Gedean di PlayStation Store Segera Tiba!
» Program Baru PlayStation: The Playerbase, Kesempatan Fans PS Masuk Game Secara Resmi
» Rumor God of War Remake: Akankah "Mini-Game" Legendaris Kratos Kembali?
» SEGA Spring Sale Maret 2026: Diskon Gila-Gilaan Like a Dragon & Metaphor: ReFantazio!
» Beli Game Harganya Gacha? Sony Eksperimen Dynamic Pricing Di PlayStation Store!
» Ghost Of Yotei Selamanya Hanya di PS5

Sementara itu, di era kepemimpinan Ryan, Sony terlihat all in terhadap strategi live service, ekspansi ke PC, serta penguatan lini adaptasi film dan serial TV. Berbagai studio diakuisisi, dari Insomniac dan Housemarque sampai Bungie, untuk menopang rencana jangka panjang tersebut. Dorongan ini kontras dengan figur seperti Yoshida yang lebih sering menyorot game seperti Journey, Before Your Eyes, Inscryption, Doki Doki Literature Club, Dead Cells, Nine Sols, hingga Fall Guys dan Marvel Snap sebagai contoh pengalaman game yang berkesan, bukan semata karena mereka bisa hidup sebagai layanan, tapi karena mereka punya identitas yang kuat dan membuat pemain benar-benar merasa terhubung.

Di sisi lain, sisi manusiawi Yoshida muncul ketika ia mengaku kecanduan Marvel Snap sampai punya tiga akun sekaligus di tahun pertama rilis game itu. Ia bercanda bahwa hidupnya seperti hanya jeda di antara sesi Marvel Snap, sebelum akhirnya pelan-pelan berhenti dengan cara mengurangi satu akun tiap tahun sampai benar-benar lepas pada akhir 2025. Pengakuan ini justru bikin penonton tertawa dan merasa dekat, karena menunjukkan kalau bahkan veteran industri pun bisa kejebak dalam loop game yang sangat adiktif.

Setelah resmi meninggalkan PlayStation pada Januari 2025, Yoshida tidak menjauh dari industri, melainkan mendirikan perusahaan konsultasi indie bernama Yosp Inc. Lewat perusahaannya ini, ia melanjutkan misinya membantu publisher dan developer indie, namun kini dari luar struktur korporat besar. Ia juga mengaku senang bisa bebas hadir di berbagai podcast dan acara, serta bisa membahas Nintendo, Xbox, dan Steam tanpa batasan platform tertentu, sekaligus mengamati bagaimana masing-masing ekosistem memperlakukan game indie.

Di penghujung sesi, Yoshida membagikan pandangannya soal apa yang membuat game indie bisa sukses. Ia menekankan bahwa bila developer hanya ikut tren, pada dasarnya mereka sudah terlambat, dan menyarankan agar kreator berusaha mencari identitas unik yang membedakan karya mereka dari yang lain. Dari cara ia bercerita, terlihat jelas kalau Yoshida lebih percaya pada kekuatan visi kreatif ketimbang sekadar mengejar format populer seperti live service. Pada akhirnya, kisahnya menggambarkan sosok yang rela kehilangan jabatan penting demi tetap setia pada prinsip, dan yang akan terus berpihak pada game serta para kreatornya, terutama dari skena indie.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close