



The Pokémon Company lagi serius banget mau beresin masalah scalper dan kecurangan di dunia Pokemon Trading Card Game di Jepang dengan cara yang cukup ekstrem tapi masuk akal buat kondisi sekarang ini. Mulai sekitar Agustus 2026 nanti mereka lagi mempertimbangkan sistem verifikasi identitas pakai kartu My Number yaitu kartu identitas resmi pemerintah Jepang yang juga nyambung ke nomor jaminan sosial warga. Tujuannya simpel supaya kesempatan beli produk TCG dan ikutan event resmi bisa lebih adil dan aman buat semua pemain bukan cuma mereka yang punya modal dan jaringan scalper.
【お知らせ】
— ポケモン公式 (@Pokemon_cojp) May 21, 2026
ポケモンカードゲームの商品販売・イベントにおいて、マイナンバーカードを使用した本人確認システムの導入を予定しております。
詳細はこちらをご確認ください。https://t.co/OdgllUa36l pic.twitter.com/3sVP4Pdbam
Masalah scalping kartu Pokemon sendiri udah lama jadi penyakit di Jepang dan global harga booster box dan kartu langka sering langsung melonjak gila gilaan gara gara diborong spekulan yang niatnya cuma dijual lagi lebih mahal. Selain itu di scene turnamen juga sempat muncul kasus stand in alias orang lain yang main menggantikan pemain resmi yang namanya terdaftar demi ngejar prestasi atau hadiah. Dari situ lumayan kebayang kenapa perusahaan akhirnya kepikiran pakai sistem yang lebih ketat berbasis identitas asli bukan cuma akun online biasa.
Rencananya sistem ini bakal dipakai di beberapa titik penting dalam ekosistem TCG Pokemon di Jepang. Pertama buat lotere prioritas produk misalnya rilis set baru atau barang yang stoknya terbatas jadi yang daftar bukan lagi akun abal abal yang dipakai banyak orang sekaligus buat ngerek peluang menang. Kedua buat pembelian produk tertentu di Pokemon Center Online jadi yang bisa beli benar benar pengguna yang diverifikasi bukan bot atau deretan akun clone. Ketiga buat ikut turnamen dan event resmi tertentu di Jepang supaya panitia bisa yakin peserta yang tampil di meja itu benar sama dengan identitas yang terdaftar.
Secara teknis verifikasinya bakal dihubungkan ke akun Trainer Club milik pemain. Pengguna disuruh autentikasi dengan cara memindai kartu My Number lewat smartphone pakai layanan eksternal yang sudah mereka tunjuk. Perusahaan juga menegaskan kalau mereka tidak akan menyimpan atau mengambil nomor ID pribadi dari kartu tersebut jadi yang dipakai lebih ke fungsi cek identitas bukan nyimpen data sensitif buat hal lain. Ini penting karena di Jepang sendiri isu privasi dan keamanan data My Number Card sempat jadi topik sensitif jadi wajar kalau mereka buru buru klarifikasi soal itu.
Baca ini juga :
» [VIDEO] Healing ke Jepang Sambil Drifting dan Balapan Lawan Gundam? | Review Forza Horizon 6
» Pihak Bandara Soekarno Hatta Tahan Kartu Pokemon Senilai Rp 1.2 Miliar Rupiah
» Kartu Mainan TCG Pokemon Diperiksa Bea Cukai di Bandara Soetta, Wanita Ini Akui Sampai Trauma
» TOKYO GAME SHOW 2026: Perayaan Anniversary ke-30 dengan Durasi Terpanjang dalam Sejarah!
» Ramai Pokemon TCG Sampai Harga Miliaran, Mendag Buka Suara
» Solusi Untuk Lawan Scalper? Toko Bic Camera di Jepang Wajibkan Pembeli Ikuti Ujian Pokemon!
» 30 Miliar Foto Pokemon Go Susun Peta Dunia Untuk Robot Pengantar
» Teori Starters Pokemon Winds dan Pokemon Waves, Terinspirasi Kultur Indonesia!
Menariknya sistem ini masih dalam tahap dipertimbangkan tapi targetnya bisa mulai diberlakukan secepatnya pada Agustus 2026. Masalahnya di Jepang kepemilikan My Number Card sendiri belum wajib jadi belum semua orang punya kartu ini. Karena itu perusahaan sekarang sudah menganjurkan para pemain dan calon peserta event yang belum punya kartu tersebut supaya mulai mengurus aplikasi dari sekarang biar nanti begitu sistem berjalan mereka tidak ketinggalan kesempatan ikut lotere pembelian atau turnamen resmi.
Kalau dilihat dari sudut pandang pemain langkah ini pasti bakal memicu pro kontra. Di satu sisi pemain yang selama ini kesal karena tidak kebagian produk rilis baru akibat diborong scalper mungkin bakal senang karena aturannya makin ketat. Pembatasan berbasis identitas biasanya bikin orang susah bikin banyak akun buat ikut lotere berulang ulang jadi peluang pemain biasa untuk dapat produk mestinya naik. Di sisi lain ada kekhawatiran soal aksesibilitas misalnya pemain muda yang belum bisa urus My Number sendiri atau orang yang tidak nyaman pakai identitas resmi hanya untuk beli kartu atau ikut event hobi.
Dari sisi turnamen penggunaan My Number juga berpotensi bikin kompetisi jadi lebih fair. Kasus stand in yang pernah muncul di ajang besar seperti Pokemon Champions League di Yokohama jadi salah satu contoh kenapa penyelenggara merasa perlu langkah tambahan. Kalau setiap akun turnamen terikat ke identitas resmi akan jauh lebih susah buat orang main pakai jasa joki atau tukar pemain diam diam di tengah kompetisi. Hal ini juga bisa bantu melindungi staf dan juri yang sebelumnya sempat kena tekanan dan gangguan dari sebagian pemain atau penonton yang tidak puas.
Secara keseluruhan langkah ini nunjukin kalau The Pokémon Company makin menganggap serius ekosistem TCG bukan cuma sebagai hobi tapi juga sebagai ruang kompetitif dan bisnis besar yang perlu dijaga dari praktik nakal. Dengan kombinasi verifikasi identitas digital dan aturan turnamen yang lebih ketat mereka berharap semua orang punya kesempatan yang lebih adil buat menikmati produk dan kompetisi tanpa harus bersaing dengan bot scalper atau trik curang di meja pertandingan. Tinggal ke depan kita lihat apakah langkah pakai kartu My Number ini akan jadi standar baru di dunia TCG Jepang atau malah memicu perdebatan panjang soal privasi dan hak konsumen.