



Di Singapura, lagi heboh banget soal satu turnamen Beyblade level nasional yang dimenangkan oleh seorang perempuan yang awalnya dikira makcik, tapi setelah dilihat lebih dekat ternyata lebih cocok dipanggil kakak. Turnamen ini bukan sembarang event, karena statusnya G1 Qualifiers, alias kualifikasi nasional resmi yang jadi pintu masuk ke level kompetisi yang lebih tinggi di scene Beyblade dunia. Jadi bayangin, di tengah kerumunan pemain yang kebanyakan masih muda dan vibe nya kayak anime, muncul satu sosok kakak yang dengan tenang, senyum lebar, dan gaya santai justru keluar sebagai juara.
WTF GUYS SOME MAKCIK WON A BEYBLADE G1 QUALIFIERS NATIONAL TOURNAMENT HERE IN SINGAPORE LETS GOOOOOOOOOOOO pic.twitter.com/iko1qJN9fh
— delty (@DeltyThe73rd) July 8, 2026
Momen kemenangan ini viral karena vibe nya benar benar berasa kayak adegan klimaks di anime shonen. Di video yang beredar, keliatan jelas bagaimana ia berdiri percaya diri di arena, memegang launcher Beyblade dengan penuh fokus, lalu meluncurkan bey dengan timing yang pas dan positioning yang matang. Setiap benturan di stadium bikin penonton teriak, dan ketika bey lawan akhirnya kalah, ekspresi senyum tulus dari sang kakak bikin semua orang yang nonton ikutan senyum. Ada yang sampai bilang senyumnya bikin mereka ikutan bahagia dan nyebut dia sebagai diva kecil yang harus terus menang.
Banyak netizen langsung refleks manggil dia makcik karena mungkin dari angle video kelihatan lebih dewasa, tapi kemudian sang kreator konten yang pertama kali mengunggah momen itu mengoreksi sendiri dengan bilang setelah diperhatiin, dia lebih layak disebut kakak. Ini jadi bahan bercandaan yang makin nambah rame, karena orang orang Asia Tenggara pasti relate sama panggilan akak, makcik, dan sebagainya yang sering dipakai buat nunjukin kedekatan dan rasa hormat. Bahkan ada yang komentar jangan pernah meremehkan skill masa kecil main gasing, karena sekarang kemampuan itu kebuka lagi dalam bentuk Beyblade di panggung kompetisi modern.
Hal yang bikin cerita ini makin seru, ada yang ngaitin dengan kejadian serupa di Jakarta beberapa tahun lalu. Seorang makcik di sini pernah menang lomba Tamiya dan datang bawa anak anaknya yang teriak semangat persis kayak di anime. Jadi kelihatannya ada pattern unik di Asia Tenggara, di mana figur orang dewasa terutama perempuan justru mencuri perhatian di kompetisi yang biasanya didominasi anak muda dan identik dengan kultur pop Jepang. Komentar komentar seperti bismillah semoga Allah mengalahkan Beyblade lawanku dan candaan religius lainnya juga muncul, nunjukin betapa beragamnya reaksi netizen terhadap turnamen yang kelihatannya sepele ini tapi ternyata punya dampak emosional yang besar.
Baca ini juga :
» Persaingan Game Anime Makin Ketat, PlayPark Mulai Bidik Talenta di Indonesia
» Kreator Detective Conan, Gosho Aoyama Spill Storyboard Ending Seri Ini
» It’s a Wrapped! Film Elden Ring by A24 Sudah Selesai Syuting
» Aktor Spider-Man: No Way Home Mary Rivera Meninggal Dunia. Fly High, Lola
» Keajaiban Dimulai! Anime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
» Keren Banget! Mahasiswa S2 Ini Cosplay Satria Baja Hitam Untuk Sidang Proposal Tesisnya
» Akhirnya Juara Dunia! Kalahin 64 Negara, Indonesia Jadi Juara Pertama Stick Nation Wood Cup 2026
» IShowSpeed Bakal Dikasih Panggung Bernyanyi Saat Penutupan FIFA World Cup 2026
Ada juga yang menyoroti betapa seriusnya dunia Beyblade sekarang. Dari luar, orang mungkin lihatnya cuma mainan pusing kecil yang diputer di arena, tapi di balik itu ada komunitas, klub latihan, teknik khusus, bahkan analisis meta layaknya game kompetitif lain. Poster dan konten lanjutan dari kreator kreator Beyblade nunjukin betapa detailnya mereka membedah gaya bermain sang kakak ini, dari cara dia mengatur sudut launcher sampai pemilihan komposisi part Beyblade yang dipakai. Semuanya itu bikin makin jelas kalau Beyblade sudah jadi bagian serius dari kultur gaming dan hobi mekanik di Asia.
Respons dari figur publik juga ikut bikin hype naik. Ada komentator dan kreator konten game yang bilang kalau ini adalah salah satu hal paling keren yang pernah mereka lihat, nunjukin bahwa kompetisi Beyblade bisa punya daya tarik cinematic yang nggak kalah dari turnamen fighting game atau card game besar. Di sisi lain, ada juga yang ngeramein dengan bilang mana ada makcik, dia masih muda, sambil ngeluarin candaan khas lokal yang bikin thread komentar makin panjang. Kombinasi antara rasa kagum, humor, dan respect ke pemain ini bikin cerita turnamen Beyblade di Singapura ini bukan cuma sekadar berita juara, tapi jadi simbol bahwa dunia hobi dan kompetisi selalu punya ruang buat kejutan dari orang orang yang mungkin nggak sesuai stereotip pemain pada umumnya.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!