



Universitas di Silicon Valley lagi jadi sorotan gara-gara program beasiswa yang isinya cukup unik: mahasiswa bisa dapat bantuan dana sampai 15 ribu dolar AS kalau mereka bisa membuktikan pencapaian langka di video game. Program ini langsung menarik perhatian banyak orang karena biasanya beasiswa identik dengan prestasi akademik, olahraga, atau kegiatan organisasi, bukan dari raihan achievement di game.
A California university is offering scholarships to students who have completed some of gaming’s toughest challenges.
— Pirat_Nation 🔴 (@Pirat_Nation) July 14, 2026
The University of Silicon Valley offers up to $15,000 a year through its Max Achievement Scholarship.
To qualify, students must earn specific achievements in… pic.twitter.com/NPHBc2Tgn5
Program yang diberi nama Max Achievement Scholarship ini membuka peluang buat mahasiswa yang memang serius main game dan punya pencapaian yang bisa dibuktikan. Daftar game yang masuk juga lumayan beragam, mulai dari Final Fantasy XIV, Old School RuneScape, Hades, Risk of Rain 2, sampai Minecraft. Artinya, kampus ini tidak cuma melihat game sebagai hiburan, tapi juga sebagai ruang buat menunjukkan ketekunan, strategi, dan kemampuan menyelesaikan target yang sulit.
Ada dua tingkat penghargaan yang ditawarkan, yaitu Mastery dan Legendary. Untuk level Mastery, mahasiswa bisa dapat sampai 2.500 dolar AS per term, sedangkan Legendary bisa sampai 5.000 dolar AS per term, dengan satu tahun akademik terdiri dari tiga term. Jadi kalau dihitung, nominalnya memang bukan kecil dan bisa sangat membantu biaya kuliah atau kebutuhan pendidikan lainnya.
Contoh syaratnya juga cukup spesifik. Untuk Old School RuneScape, mahasiswa bisa mengajukan pencapaian Max Cape, yang didapat setelah semua 24 skill mencapai level 99. Sementara di Final Fantasy XIV, salah satu syarat Legendary adalah menaikkan semua 20 combat job serta 8 crafter dan gatherer job ke level 100. Jadi yang dicari bukan sekadar pernah main, tapi benar-benar level dedikasi yang tinggi.
Pihak kampus sendiri bilang kalau program ini dibuat untuk menghargai kualitas yang sama seperti dalam prestasi akademik, yaitu latihan disiplin, pemecahan masalah, dan dorongan untuk mencapai mastery di atas standar minimum. Mereka juga menekankan bahwa kemampuan seperti itu bisa muncul dalam banyak bentuk, entah lewat kode, seni, desain, atau dunia virtual. Dengan kata lain, buat kampus ini, prestasi di game tetap bisa dianggap serius kalau memang ada proses dan usaha nyata di baliknya.
Baca ini juga :
» Sukses Besar Berkat Elden Ring, CEO Kadokawa Malah Ingin Digulingkan Pemegang Saham
» Game Baru HoYoverse Ini Bikin Heboh, Closed Beta Honkai: Nexus Anima Sudah Dibuka!
» Genshin Impact Versi Nintendo Akhirnya Tidak Lagi "Ghoib"? Dataminer Temukan Indikasi Menuju Switch 2
» Film Live-Action ELDEN RING Resmi Diumumkan: Alex Garland Jadi Sutradara, Ini Daftar Pemainnya!
» Developer Arknight: Enfield Akui Sulit Bikin Game Gacha Pasca Genshin Impact
» Set Shooting Elden Ring Ditemukan Fans, Ada Church of Marika!
» Siap Menjelajah Galaksi? HoYoverse Buka Pendaftaran "Tes Stardrift" Petit Planet!
» Eksplorasi Mondstadt Utara & Debut Linnea! Bocoran Lengkap Genshin Impact Versi Candra VI
Hal yang menarik, kalau game yang dimainkan tidak ada di daftar, mahasiswa tetap bisa mengajukan diri. Syaratnya, mereka harus menunjukkan bukti bahwa pencapaian itu langka, dengan completion rate di bawah 5 persen, lalu menjelaskan tingkat kesulitan dan bentuk mastery yang mereka capai. Semua pengajuan akan dinilai satu per satu oleh komite beasiswa, jadi hasil akhirnya tetap tergantung kualitas bukti yang masuk.
Program ini sendiri baru debut tahun ini dan ditargetkan untuk memberi penghargaan ke 10 sampai 15 mahasiswa di kalender akademik 2026 2027. Kalau responsnya bagus dan kualitas pesertanya tinggi, bukan tidak mungkin program ini bakal diperluas lagi ke depannya. Di tengah banyaknya kampus yang mulai melirik esports dan game development, langkah ini terasa seperti versi yang lebih ekstrem, karena langsung memberi nilai finansial ke pencapaian gaming yang sulit didapat.
Fenomena ini juga menunjukkan kalau dunia game makin dianggap punya nilai di luar hiburan. Dulu, prestasi gaming sering cuma dipandang sebagai hobi, tapi sekarang bisa dilihat sebagai bukti konsistensi, fokus, dan kemampuan menaklukkan target yang kompleks. Buat sebagian orang, ini mungkin terdengar aneh, tapi buat gamer yang terbiasa ngejar platinum trophy atau completion rate tinggi, beasiswa seperti ini justru terasa masuk akal.
Kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, program ini bisa jadi sinyal kalau pendidikan tinggi mulai mencari cara baru untuk menarik mahasiswa dengan bakat nontradisional. Selama prestasi itu bisa diukur, dibuktikan, dan dianggap punya nilai keterampilan, rupanya peluangnya makin terbuka. Jadi sekarang, main game bukan cuma soal menang atau naik rank, tapi juga bisa jadi jalan buat dapet bantuan biaya kuliah.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!