space
BTR BAL JADI KORBAN RASISME DARI SOSIAL MEDIA TIONGKOK
iOS
Senin, 03 Aug 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!
Kabar kurang menyenangkan kembali berhembus dari kancah esports internasional. Di tengah perjuangannya membela nama Indonesia di ajang Honor of Kings World Cup (KWC) 2026, pro player Honor of Kings (HOK) dari tim Bigetron by Vitality, Bal (@btr_ball), justru menjadi sasaran tindakan rasisme di media sosial Tiongkok. Insiden ini mendadak viral dan memicu gelombang simpati serta amarah dari komunitas esports lokal maupun global.

Kasus ini bermula dari unggahan seorang kreator di platform media sosial Tiongkok. Dalam postingan tersebut, identitas Bal diubah dan ia digambarkan secara fiktif berasal dari daerah kumuh di Afrika. Narasi rasis tersebut tidak hanya merendahkan Bal secara pribadi, tetapi juga menyinggung perasaan masyarakat Indonesia serta komunitas di Benua Afrika.

Rasisme yang dibungkus sebagai bahan konten ini dianggap telah melampaui batas dan mencederai nilai-nilai dasar olahraga. Meski begitu, tidak semua netizen lokal Tiongkok mendukung aksi melenceng tersebut. Banyak pengguna di platform tersebut yang mengecam tindakan sang kreator dan secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan mereka di kolom komentar.

View this post on Instagram

A post shared by Bigetron by Vitality (@bigetronesports)

Menanggapi tindakan diskriminatif yang menimpa pemainnya, manajemen Bigetron by Vitality langsung mengecam keras insiden tersebut dan merilis pernyataan resmi untuk pasang badan membela Bal:

"Esports dibangun atas semangat kompetisi, kerja keras, dan rasa saling menghormati. Apa pun hasil pertandingan, tidak ada ruang untuk ujaran kebencian, terlebih lagi tindakan rasisme.

Kami akan selalu berdiri bersama pemain kami, mendukung mereka bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai manusia yang berhak mendapatkan rasa aman dan hormat.

Kepada seluruh komunitas, mari kita buktikan bahwa esports dapat menjadi ruang yang kompetitif tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Berikan dukungan, sampaikan kritik dengan bijak, dan jadikan sportivitas sebagai standar kita bersama."

Esports adalah panggung global yang menyatukan individu dari berbagai negara, latar belakang, budaya, dan ras. Diskriminasi dan rasisme bukan sekadar candaan biasa, melainkan tindakan destruktif yang merusak nilai sportivitas dengan mengalihkan fokus persaingan sehat menjadi serangan pribadi.

Baca ini juga :
» Bigetron dan Nemesis Berhasil Lanjut Ke Playoffs KWC at EWC 2026
» Kelra Belum Pernah Finis di Atas EMANN Sejak MPL PH S9. Kesempatan Pertamanya Ada di MPL ID S17
» Review Honor Of Kings: World - Game Gacha Open-World Tapi Gak Wajib Gacha?
» Bigetron Terancam Gagal Playoff MPL ID S17, Lose Streak Bikin Fans Panik!
» Dominator Resmi Ganti Nama Jadi Team Nemesis untuk KWC x EWC 2026, Bakal Jadi Lebih Gahar?
» Dominator Resmi Jadi Team Nemesis untuk KWC x EWC 2026, Sekadar Rebranding atau Ada Agenda Lebih Besar?
» Resmi Berpisah, BTR by Vitality Farewell dengan Coach Barbossa
» OHEB Resmi Pindah ke Honor of Kings, Tinggalkan MLBB Setelah Karier Gemilang

Selain itu, tindakan tersebut merusak inklusivitas karena membuat lingkungan kompetitif menjadi tidak aman bagi atlet dari latar belakang tertentu. Rasa saling menghormati dan hubungan persaudaraan antarkomunitas esports antarnegara pun ikut mencederai. Tidak hanya di dunia esports, rasisme tidak pernah memiliki tempat di mana pun dalam aspek kehidupan kita.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close