



Selama ini Hideo Kojima dikenal sebagai salah satu kreator paling unik di industri gim. Gaya permainannya yang berani, cerita yang tidak biasa, serta ambisinya dalam membuat proyek besar membuat banyak orang percaya bahwa hampir semua idenya layak mendapatkan dukungan. PlayStation pun pernah menjadi salah satu pihak yang memberikan ruang besar kepada Kojima setelah perpisahannya dengan Konami.
Bloomberg reports on why PlayStation ended its partnership with Hideo Kojima for Physint:
— CharlieIntel (@charlieINTEL) September 11, 2026
- Game was missing deadlines
- Development was 'well over budget' despite being years from release
- Death Stranding 1 & 2 performance missed revenue targets
- PlayStation wasn't happy… pic.twitter.com/W7uqkJjHjU
Kerja sama tersebut kemudian melahirkan Death Stranding, sebuah gim yang sejak awal sudah menuai banyak perdebatan. Tidak semua pemain langsung memahami konsepnya, tetapi gim ini tetap berhasil membangun komunitas dan reputasi tersendiri. Setelah itu, Kojima Productions kembali mengembangkan Death Stranding 2 dan mengumumkan Physint, proyek yang disebut akan menggabungkan elemen gim dengan pengalaman sinematik.
Namun, hubungan antara PlayStation dan Hideo Kojima kini dikabarkan tidak lagi berjalan mulus. Laporan terbaru menyebut PlayStation telah mengakhiri kerja sama untuk Physint. Kabar ini tentu mengejutkan, mengingat proyek tersebut sebelumnya dianggap sebagai salah satu kolaborasi besar antara Sony dan kreator ternama asal Jepang tersebut.
Salah satu alasan yang disebut menjadi pemicu adalah masalah jadwal. Physint dikabarkan mengalami keterlambatan dalam proses pengembangan. Padahal, proyek tersebut masih membutuhkan waktu cukup panjang sebelum akhirnya dirilis. Keterlambatan memang bukan hal baru dalam pengembangan gim berskala besar, tetapi situasinya bisa menjadi masalah serius ketika biaya produksi terus meningkat dan jadwal rilis belum terlihat jelas.
Selain masalah waktu, pengembangan Physint juga disebut sudah jauh melebihi anggaran. Artinya, PlayStation kemungkinan harus mengeluarkan biaya lebih besar dari perkiraan awal untuk proyek yang masih berada dalam tahap pengembangan. Bagi perusahaan besar, proyek ambisius tetap harus memiliki batas anggaran dan target yang jelas agar risiko kerugiannya bisa dikendalikan.
Performa Death Stranding dan Death Stranding 2 juga kabarnya ikut menjadi pertimbangan. Kedua gim tersebut disebut belum memenuhi target pendapatan yang diharapkan PlayStation. Hal ini bukan berarti gimnya gagal total, apalagi Death Stranding memiliki basis penggemar yang cukup kuat. Namun, dari sisi bisnis, Sony tampaknya membutuhkan angka penjualan dan pendapatan yang lebih besar untuk membenarkan biaya serta dukungan terhadap proyek-proyek Kojima.
Masalah lain yang disebut cukup penting adalah soal eksklusivitas. PlayStation kabarnya tidak puas karena tidak bisa memastikan gim-gim Kojima tetap eksklusif di platform mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi Sony memang mulai berubah. Sebagian gim PlayStation akhirnya hadir di PC, sementara perusahaan juga berusaha memperluas jangkauan pemain dan sumber pendapatannya.
Baca ini juga :
» Rangkuman Lengkap State of Play September 2026: Deretan Pengumuman Besar yang Bikin Gamer Nggak Sabar Menanti
» PlayStation Resmi Umumkan DualSense GTA VI Limited Edition, Dibanderol Rp1,5 Juta-an!
» Ada Apa dengan Sony? Ini Kronologi Lengkap Tuntutan Hukum yang Membelit PlayStation dari 2019 Hingga 2026
» PlayStation Umumkan Dua State of Play Sekaligus, Siap-Siap Begadang di Awal September!
» Bikin Gamer Penasaran! PlayStation Akhirnya Umumkan State Of Play 3 September 2026
» Xbox Bikin Sony Ketar-Ketir? PS Dirumorkan Pertimbangkan Tunda Rencana Full Digital
» Sony Ingatkan Gamer: Game Digital PlayStation Ternyata “Dilindungi Lisensi”, Bukan Dijual
» PlayStation Mulai Terapkan Verifikasi Umur untuk Game R18+ di Australia
Bagi Sony, investasi besar pada sebuah gim tentu akan lebih mudah dibenarkan jika proyek tersebut mampu menjadi daya tarik utama bagi ekosistem PlayStation. Jika sebuah gim juga dirilis di platform lain, nilai eksklusivitasnya otomatis berkurang. Di sisi lain, Kojima Productions mungkin memiliki pertimbangan sendiri untuk menjangkau lebih banyak pemain dan tidak terlalu bergantung pada satu platform.
Hubungan personal juga disebut menjadi faktor yang memengaruhi situasi ini. Beberapa eksekutif Sony yang sebelumnya dekat dengan Hideo Kojima dikabarkan sudah meninggalkan perusahaan. Perubahan tersebut bisa membuat hubungan kerja yang sebelumnya berjalan lancar menjadi berbeda. Dukungan dari pihak internal sangat penting dalam proyek besar, terutama ketika pengembang membutuhkan waktu tambahan atau anggaran yang lebih besar.
Meski begitu, belum ada penjelasan resmi dari PlayStation maupun Kojima Productions mengenai masa depan Physint. Karena itu, kabar mengenai pembatalan kerja sama ini masih perlu diperlakukan sebagai laporan, bukan keputusan final yang sudah dikonfirmasi oleh semua pihak. Belum jelas pula apakah Physint benar-benar dihentikan, dipindahkan ke penerbit lain, atau tetap dilanjutkan dengan format kerja sama yang berbeda.
Kabar ini juga memunculkan perdebatan di kalangan pemain. Sebagian menganggap alasan bisnis Sony cukup masuk akal karena proyek besar harus memiliki batas anggaran, jadwal, dan target pendapatan. Namun, sebagian lainnya menilai perusahaan besar seharusnya tetap memberikan ruang bagi kreator untuk menghasilkan karya yang berbeda, bukan hanya mengejar gim dengan potensi pendapatan paling aman.
Jika laporan ini benar, berakhirnya kerja sama tersebut menjadi perubahan besar bagi masa depan Physint dan Kojima Productions. PlayStation kehilangan salah satu kolaborator paling terkenal, sementara Kojima harus mencari cara baru untuk membiayai serta menerbitkan proyek ambisiusnya. Pada akhirnya, nasib Physint akan menunjukkan apakah proyek ini memang bergantung pada dukungan PlayStation atau masih bisa berjalan tanpa perusahaan tersebut.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!