space
REVIEW MARATHON
PS5
Kamis, 02 Apr 2026

Ya memang belakangan ini mungkin ada banyak orang yang kenyang dengan pilihan game competitive atau game extraction shooters. Rasanya belum lama kita memainkan Arc Raiders dan Marathon sudah ada lagi sebagai extraction shooters terbaru yang mana menimbulkan pertanyaan—apakah worth it main game extraction shooters lagi?

Ada satu hal yang langsung terasa begitu kamu masuk ke dalam Marathon: game ini tidak peduli apakah kamu siap atau tidak.

Dari detik pertama, ia sudah menetapkan satu aturan sederhana—atau mungkin lebih tepatnya, satu filosofi: bertahan hidup adalah pilihan, bukan jaminan. Dan di tengah industri yang semakin sering mencoba “memanjakan” pemain dengan berbagai sistem proteksi dan kenyamanan, keberanian Marathon untuk tetap keras kepala justru terasa… menyegarkan. Sekaligus mengintimidasi bagi banyak orang.

Sebagai game extraction shooter, fondasi Marathon sebenarnya tidak asing. Kamu masuk ke sebuah map, mengumpulkan loot, bertahan hidup dari ancaman pemain lain, lalu mencoba keluar dengan selamat. Gagal? Semua yang kamu bawa bisa hilang. Sukses? Hadiah yang kamu dapatkan bisa jadi penentu progres berikutnya.

Tapi yang membuat Marathon berbeda bukanlah apa yang ia lakukan, melainkan bagaimana ia melakukannya.

Game Extraction Shooters Paling Satisfying


Entah kenapa bermain Marathon punya feel satisfying yang sangat berbeda dengan game lainnya, terutama dari hitreg dan juga feel menembak. Belum jelas apakah jika tickrate dari Marathon resmi di 60Hz, tapi memang terasa sehalus itu. Bandingkan dengan game lainnya seperti Apex dan Arc Raiders di 20Hz atau Tarkov di 12-16Hz memang Marathon punya keunggulan dari server side. Ya tapi jangan dibandingkan dengan Valorant dan Counterstrike 2 yang punya 128Hz tick rate dan fokus ke competitive.

Marathon juga dibantu dengan bagaimana senjata yang hadir di-desain langsung oleh Bungie yang punya pengalaman tinggi dengan senjata sci-fi dari HALO. Semua senjata yang digunakan dan ditembaki baik ke UESC bots atau ke Runners lain, semuanya terasa punya impact yang asik dan memang sangat memuaskan untuk digunakan.

Marathon terasa tepat juga punya tempo yang tidak selambat Tarkov tapi tidak se-hectic Arc Raiders yang mana menurut saya jatuh di ranah yang tepat. Tapi jangan salah karena Marathon juga punya movement yang fluid dan smooth dan bagi beberapa Shells yang bisa kalian gunakan, game ini bisa terasa seperti Titanfall.

Ketika Setiap Detik Terasa Penting


Hal pertama yang benar-benar mencolok adalah bagaimana combat di game ini terasa begitu cepat dan mematikan. Ini bukan tipe shooter di mana kamu punya waktu untuk berpikir panjang di tengah baku tembak. Di sini, satu kesalahan kecil—entah itu positioning yang buruk, keputusan untuk peek di waktu yang salah, atau sekadar terlambat satu detik dalam bereaksi—bisa langsung mengakhiri run kamu.

Hal ini semakin dirasa di map dengan value tinggi dimana semua orang menyiapkan dirinya dengan full equipment mahal dan level tinggi. Sangat menyenangkan, tapi memang mati di menit-menit awal bermain terkadang terasa mengesalkan—tapi justru di situlah letak seru dan kekuatannya.

Gunplay yang ditawarkan terasa sangat presisi. Setiap tembakan punya bobot. Setiap encounter terasa tegang. Tidak ada ruang untuk “main santai” ketika kamu tahu bahwa di balik setiap sudut, ada kemungkinan seseorang sudah mengincar kamu lebih dulu.

Namun, intensitas ini datang dengan konsekuensi yang tidak kecil.

Baca ini juga :
» Tips Pemula Biar Jadi Pendekar Martial Arts Terhebat! Tips dan Trick Moonlight Blade M
» Farlight 84
» Tembak-Tembakkan Dulu Bos! Deretan Game FPS Yang Wajib Kalian Pantau Di Tahun 2022!
» Jago Main Tembak-Tembakan? Ini Dia 7 Game Shooter PC Terbaik di Indonesia 2021!
» Battlefield 2042
» Hindari 7 Kesalahan Ini Biar Kamu Makin Jago Main Game FPS dan TPS!
» One Shoot One Kill! 7 AWP Man Terbaik di Dunia Esports!
» Sausage Man

Karena ketika semuanya berjalan begitu cepat, game ini juga menjadi sangat tidak forgiving. Banyak momen di mana kamu bahkan tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba layar gelap, dan semua yang kamu kumpulkan dalam 20 menit terakhir… hilang begitu saja.

Untuk sebagian pemain, ini akan terasa thrilling. Tapi untuk yang lain, ini bisa terasa seperti pengalaman yang melelahkan.

Shoot First, Ask Questions Later


Dunia Marathon bukan dunia yang ramah. Ini bukan game yang mendorong interaksi sosial dalam arti tradisional. Tidak ada momen di mana kamu benar-benar “bernegosiasi” dengan pemain lain, atau mencoba membangun trust secara organik.

Sebaliknya, hampir setiap pertemuan berujung pada satu hal: tembak-menembak.

Mentalitas “shoot-on-sight” terasa sangat dominan. Dan ini bukan karena pemainnya toxic, tapi karena desain gamenya memang mendorong ke arah sana. Risiko terlalu besar untuk mengambil pendekatan lain. Dalam situasi di mana satu kesalahan bisa menghapus semua progres, kebanyakan pemain akan memilih opsi paling aman: eliminasi ancaman secepat mungkin.

Hasilnya adalah dunia yang terasa sangat hostile. Tegang, penuh paranoia, dan kadang-kadang… sedikit terlalu dingin.

BACA JUGA BERITA INI
close