
Sesi uji coba eksklusif berdurasi dua jam di kantor pusat SEGA memberikan gambaran mendalam mengenai mekanikal utama Stranger Than Heaven. Secara kasat mata, gim ini tampak mengadopsi estetika dan lanskap dunia yang serupa dengan seri Like a Dragon atau Yakuza. Namun, begitu dimainkan, perbedaannya terasa sangat signifikan. Gim ini bukan mengusung genre beat 'em up kasual, melainkan sebuah gim aksi yang sangat teknis dan membutuhkan presisi tinggi.
Keunikan utama gim ini terletak pada skema kontrolnya yang memisahkan fungsi tangan kanan dan kiri secara independen. Pada pengontrol Xbox, tombol RB digunakan untuk serangan normal tangan kanan, sementara RT dialokasikan untuk heavy attack dengan daya rusak yang lebih tinggi. Pembagian ini memberikan sensasi pertarungan yang terukur dan berbobot pada setiap pukulan utama.
Sementara itu, kontrol tubuh bagian kiri diatur melalui tombol LB dan LT. Tombol LB berfungsi melancarkan serangan poking atau sodokan cepat. Meskipun daya rusaknya relatif kecil, serangan ini sangat efektif untuk menginterupsi pergerakan musuh atau menyambung combo. Di sisi lain, tombol LT melancarkan serangan pendorong seperti tendangan untuk menjaga jarak dan memaksa musuh mundur.

Sistem pertahanan dirancang secara taktis melalui tombol B. Pemain dapat memilih untuk melakukan blokade dua tangan demi menghemat stamina, atau menerapkan teknik single-hand guard dengan mengombinasikan tombol B dan tombol serangan kanan. Keunggulan dari blokade satu tangan ini adalah menjaga tangan kiri tetap bebas sehingga dapat langsung melancarkan serangan balasan.
Apabila waktu pemblokiran tepat dengan arah datangnya serangan musuh, gim akan memicu mekanisme perfect block atau parry. Momen ini ditandai dengan efek slow-motion yang membuka pertahanan musuh, memberi kesempatan bagi pemain untuk mendaratkan serangan balasan berdaya rusak masif.
Mekanisme penghindaran (dodge) dalam Stranger Than Heaven hadir dalam bentuk elakan cepat (sway) tanpa membekali karakter dengan invincibility frames (i-frames) seperti pada gim bergenre Soulslike. Pemain dituntut untuk membaca pola serangan secara akurat; tebasan vertikal harus dihindari dengan sway ke arah berlawanan, sedangkan serangan horizontal dapat dihindari dengan gerakan menunduk pada momen yang tepat.

Pendekatan pertarungan yang mengandalkan kalkulasi jarak, posisi, dan pembacaan arah ini membuat pengalamannya terasa sangat mirip dengan gim pertarungan klasik SEGA, Virtua Fighter. Keseluruhan sistem pertempuran lebih mengutamakan taktik dan ritme permainan ketimbang sekadar refleks spontan.
Opsi senjata yang disediakan pada demo juga memiliki karakteristik yang kontras. Senjata tajam berukuran kecil seperti pisau menawarkan efisiensi tinggi berkat kecepatan eksekusinya yang fleksibel untuk serangan beruntun. Sebaliknya, senjata berat seperti linggis raksasa memberikan daya rusak yang sangat besar, namun dikompensasi oleh lambatnya animasi ayunan yang berisiko tinggi memicu serangan balasan lawan.
Baca ini juga :» Wawancara Ekslusif: Kupas Tuntas Proyek Ambisius RGG, Stranger Than Heaven
» Review Yakuza Kiwami 3 & Dark Ties
» Interview Toru Ohara dan Takaharu Terada, Producer dan Director SHINOBI: Art of Vengeance
» Review Two Point Museum
» Review - Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii
» Interview Seiji Aoki, Legacy VIRTUA FIGHTER Project Producer - VF Akan Totalitas!
Sesi preview ini menyediakan tiga tingkat kesulitan, yakni Beginner, Intermediate, dan Expert. Pertarungan boss pada mode Expert terbukti menyajikan tantangan yang sangat tinggi. Pihak pengembang mengindikasikan adanya kemungkinan penyesuaian tingkat kesulitan agar lebih seimbang saat versi resminya dirilis mendatang.
Secara keseluruhan, Stranger Than Heaven bukanlah gim beat 'em up ramah pemula yang mengandalkan penekanan tombol secara acak. Bagi para pemain veteran Yakuza, gim ini mengharuskan proses belajar ulang dari dasar. Mekanisme yang kompleks, tingkat kesulitan yang menantang, serta kebutuhan skill yang dominan menjadikan gim ini sangat memuaskan dan layak untuk dinantikan.



