space
WAWANCARA EKSLUSIF: KUPAS TUNTAS PROYEK AMBISIUS RGG, STRANGER THAN HEAVEN
-
3 Hari yang lalu

Eksklusif Wawancara & Preview: Kupas Tuntas Proyek Ambisius RGG Studio, "Stranger Than Heaven"



Ryu Ga Gotoku (RGG) Studio kembali membuat gebrakan radikal yang siap mendobrak zona nyaman mereka lewat IP baru berjudul "Stranger Than Heaven". KotakGame dapet kesempatan untuk wawancara eksklusif bersama pihak RGG Studio dan melakukan preview game ini, Masayoshi Yokoyama selaku director menegaskan bahwa proyek besar ini sengaja menanggalkan formula lama yang serba heboh dan komedik. Sebagai gantinya, studio di bawah naungan SEGA tersebut menghadirkan narasi biografi historis yang jauh lebih kelam, intim, dan tanpa kompromi.

Salah satu poin paling menarik dalam sesi wawancara dan preview ini adalah keputusan pemilihan judul global Stranger Than Heaven yang dipertahankan sepenuhnya dalam bahasa Inggris untuk seluruh pasar global tanpa lokalisasi Jepang. Keputusan tersebut sempat memicu perdebatan internal hingga ditentang keras oleh CEO perusahaan karena dianggap tidak konvensional. Kendati demikian, tim pengembang bersikeras mempertahankannya demi membangun feel sinematik layaknya film layar lebar, sekaligus merefleksikan identitas sang protagonis utama, Makoto Daito. Sebagai pria blasteran Jepang-Amerika di era masa lalu, Daito digambarkan sebagai seorang "orang asing" (stranger) yang tercerabut dari akarnya dan tidak pernah sepenuhnya diterima oleh masyarakat Jepang maupun Amerika.

 

Dari segi narasi dan struktur permainan, preview ini menunjukkan adanya perbedaan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan seri utama RGG tradisional seperti Yakuza atau Like a Dragon. Jika game-game sebelumnya hanya memotret cuplikan krisis jangka pendek berkisar antara seminggu hingga sepuluh hari, Stranger Than Heaven justru mengusung pendekatan biografi naratif penuh. Game ini merekam keseluruhan lintasan hidup Makoto Daito dari awal hingga akhir hayatnya, membentang melintasi lima kota berbeda yang bermula dari Kokura pada tahun 1915. Karena skala lintas dekade yang begitu masif ini, volume mini-game atau tempat hiburan modern mengalami pemangkasan drastis, namun dibayar tuntas dengan durasi dan bobot cerita utama yang jauh lebih panjang serta mendalam.

Baca ini juga :

» Exclusive Preview Persona 4 Revival
» Exclusive Preview Stranger Than Heaven
» Review Yakuza Kiwami 3 & Dark Ties
» Interview SEGA Football Club Champions 2026
» Football Manager 26
» Review SEGA FOOTBALL CLUB CHAMPIONS 2025
» Review RAIDOU Remastered
» Review - Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii

Yokoyama menjelaskan bahwa pemilihan latar tahun 1915-an memberikan keuntungan naratif yang kuat karena manusia pada era tersebut memiliki motivasi hidup dan keyakinan yang jauh lebih murni, baik itu demi bertahan hidup, memperjuangkan keadilan, maupun terjebak dalam kejahatan. Hal ini dikontraskan secara tajam dengan masyarakat modern di mana banyak tindak kriminal terjadi tanpa motif jelas sehingga terasa hampa. Karakter-karakter di era tersebut dirancang memiliki tujuan hidup yang sangat tegas, lugas, dan terkotak dalam batasan hitam-putih yang nyata.

Perombakan total juga terjadi pada sistem pertarungan. Seluruh elemen aksi over-the-top atau gerakan superhuman yang sempat mewarnai era modern seri RGG dibuang total. Studio mengembalikan mekaniknya ke akar pertarungan jalanan yang kasar, berat, dan realistis. Terinspirasi dari ketegangan psikologis game seperti Heavy Rain, sistem kontrol dirancang untuk menanamkan rasa rentan dan cemas. Pemain dihadapkan pada skenario bertahan hidup murni (survival) di mana kesalahan taktis sekecil apa pun atau gempuran musuh bersenjata pedang dapat berujung pada kematian instan (one-hit kill), sangat selaras dengan prinsip realitas "membunuh atau dibunuh" pada rentang tahun 1915 hingga 1965.



Komitmen terhadap keaslian historis ini turut diterapkan secara ketat pada ranah audio, di mana genre musik modern berbasis alat elektronik seperti rap atau trap dilarang mutlak agar seluruh instrumen suara benar-benar valid dengan teknologi era 1915-an. Meskipun demikian, preview memperlihatkan adanya fitur sampingan berskala besar bernama "Showbiz". Dalam fitur ini, Daito Makoto bertindak sebagai promotor untuk merekrut talenta penyanyi, memproduksi lagu, dan mengadakan konser. Fitur ini bersifat opsional bagi pemain yang ingin fokus penuh pada alur utama, namun menjadi instrumen pengumpul dana paling efektif saat cerita menuntut modal besar.



Proses casting global pun diungkapkan murni berlandaskan kebutuhan narasi, seperti terpilihnya ikon hip-hop Snoop Dogg untuk mengisi peran mentor musik bagi Makoto Daito. Menutup pemaparan eksklusif tersebut, RGG Studio menyadari besarnya basis penggemar setia di Asia Tenggara dan merancang game ini sebagai kisah universal yang didukung lokalisasi bahasa Inggris yang mudah diakses, memastikan para pemain di kawasan regional dapat menikmati drama emosional ini tanpa hambatan kultural.

Kesimpulan

"Stranger Than Heaven" menandai titik balik paling berani bagi Ryu Ga Gotoku Studio dalam melepaskan diri dari bayang-bayang formula Yakuza maupun Like a Dragon. Melalui pendekatan biografi historis lintas dekade (1915–1965) yang intim, kelam, dan tanpa kompromi, RGG membuktikan kapasitas mereka dalam mengeksplorasi narasi matang berskala sinematik.

Meskipun harus menanggalkan berbagai elemen ikonis seperti aksi over-the-top, minigame masif, dan musik modern, perombakan radikal ini diganti secara tuntas dengan bobot cerita yang jauh lebih dalam, sistem pertarungan jalanan yang brutal dan realistis, serta eksplorasi identitas manusia yang universal. Pertaruhan besar Masayoshi Yokoyama dan timnya ini tidak hanya menjanjikan sebuah game drama historis yang segar, tetapi juga standar baru bagi narasi video game kelas dunia yang siap dinikmati oleh basis penggemar global, termasuk di Asia Tenggara.

BACA JUGA BERITA INI
close