space
REVIEW GHOST OF YōTEI
PS5
Minggu, 28 Sep 2025
prev
1 dari 4
next

Ghost of Yotei akan resmi hadir secara eksklusif di PlayStation 5 sebagai sekuel sekaligus suksesor dari Ghost of Tsushima. Dikembangkan oleh Sucker Punch Productions, game ini membawa kita menelusuri salju abadi Ezo (yang kini dikenal sebagai Hokkaido) di awal era Edo. Dengan atmosfer yang melankolis, pertarungan yang brutal, dan visual memukau, Ghost of Yotei menegaskan bahwa Sucker Punch masih menjadi salah satu pengembang terbaik dalam menghadirkan pengalaman samurai sinematik.

Dengan keindahan dan tema balas dendam yang disuguhkan,
Ghost of Yotei berhasil menjadi sekuel yang telah lama dinanti oleh para fans. Tapi apakah game ini berhasil memenuhi ekspektasi para fans? Apakah berhasil menyaingi sekuelnya?

KotakGame dapat kesempatan untuk coba game ini lebih awal, yuk simak Review nya!



Kisah Balas Dendam yang Penuh Emosi



Kisah Ghost of Yotei berpusat pada Atsu, seorang onna-musha (pejuang wanita) yang kehilangan keluarganya karena kekejaman kelompok pembunuh bayaran bernama Yotei Six. Dalam perjalanan membalas dendam, Atsu harus menghadapi bukan hanya musuh-musuh tangguh, tapi juga bayangan moral dan kemanusiaannya sendiri.

[BACAJUGA]



Narasinya kuat, emosional, dan penuh refleksi tentang kehormatan, pengkhianatan, serta harga diri dalam dunia yang berubah. Meskipun premis “balas dendam” ini bukan sesuatu yang baru, Yotei berhasil menyajikannya dengan kedalaman karakter yang lebih manusiawi dan dialog yang terasa personal.

Atsu bukan hanya simbol kemarahan, tapi juga refleksi dari dunia samurai yang perlahan kehilangan makna kehormatannya, layaknya Onryo (makhluk penuh hasrat balas dendam dari mitologi Jepang).

Gunung Yotei yang Luar Biasa Indah



Satu hal yang langsung memukau begitu bermain Ghost of Yotei adalah dunianya yang luar biasa indah. Dari hutan berkabut, desa pesisir yang diterpa badai, hingga puncak Gunung Yotei yang diselimuti salju — setiap sudut terasa seperti lukisan hidup.



Alih-alih memenuhi layar dengan ikon dan waypoint, game ini kembali menggunakan pendekatan natural: angin, hewan, dan tanda alam menjadi pemandu utama pemain. Eksplorasi terasa organik, seperti perjalanan spiritual, bukan sekadar membuka peta.

Namun, di balik keindahan itu, terkadang dunia Yotei terasa terlalu sunyi. Ia menakjubkan untuk dilihat, tapi tidak selalu interaktif. Ada kalanya kamu lebih banyak mengagumi pemandangan ketimbang berinteraksi dengan dunianya.



Pertarungan yang Brutal, Elegan, dan Penuh Gaya



Jika Ghost of Tsushima adalah tentang ketepatan dan kehormatan, maka Ghost of Yotei adalah tentang kebrutalan yang penuh makna. Pada game ini, pemain dapat menggunakan berbagai jenis senjata:

  • Katana
  • Dual Katana
  • Odachi (pedang besar)
  • Yari (tombak)
  • Kusarigama (rantai dengan sabit)
  • 2 jenis panah, dan
  • Senjata api kuno


Setiap senjata memiliki gaya dan ritme pertarungan unik, dengan sistem “batu-gunting-kertas” yang mendorong pemain untuk cepat beradaptasi. Misalnya, tombak unggul melawan kusarigama, sedangkan dual katana efektif melawan tombak.

[BACAJUGA]



Berbeda dengan Ghost of Tsushima yang lebih terbatas pada empat stance dan satu jenis katana, Yotei menghadirkan variasi senjata yang jauh lebih luas dan fleksibel. Kini, pemain benar-benar bisa memilih gaya bertarung sesuai preferensi entah menjadi pendekar yang mengandalkan kecepatan dengan dua katana, petarung yang agresif dengan odachi, atau penyerang jarak jauh dengan busur dan senapan kuno. Setiap senjata tidak hanya berbeda dalam animasi, tapi juga membawa filosofi dan teknik unik yang dipelajari dari berbagai master di penjuru Ezo, memberi kesan perkembangan karakter yang lebih personal dan mendalam.

Pertarungannya terasa fluid, cepat, dan penuh presisi. Parry dan finisher menghasilkan momen sinematik yang begitu memuaskan, terutama jika dimainkan dengan Miike Mode, filter baru yang menambahkan efek darah, lumpur, dan intensitas brutal yang menyerupai film samurai khas Jepang.

DualSense yang Dimanfaatkan Maksimal



Sebagai game eksklusif PS5, Ghost of Yotei memanfaatkan fitur DualSense dengan sangat efektif dan detail. Setiap tarikan busur terasa berbeda berkat adaptive trigger tension, sementara haptic feedback menghadirkan sensasi realistis mulai dari hentakan kaki kuda di salju, suara bilah katana yang menebas udara, hingga getaran halus saat daun beterbangan di hutan.



Menariknya, fitur touchpad tidak hanya menjadi alat navigasi seperti di Tsushima, tetapi kini digunakan lebih beragam, mulai dari menyalakan api unggun dengan sapuan jari, hingga melukis pemandangan. Kombinasi ini membuat pengalaman bermain terasa lebih intim dan imersif, seolah pemain benar-benar terlibat dalam setiap tindakan kecil yang dilakukan Atsu.

[BACAJUGA]


Eksplorasi yang Realistis, tapi Kurang Variasi



Sucker Punch jelas ingin membuat dunia Yotei terasa hidup. Ada banyak aktivitas sampingan seperti melukis pemandangan, menyelamatkan hewan liar, melatih teknik pedang, hingga membangun “Wolf Pack” yang terdiri dari karakter unik seperti pedagang, pembunuh bayaran, dan bahkan seekor serigala.



Namun, sayangnya, sebagian besar side quest terasa generik. Aktivitas seperti memburu bandit atau menolong warga kerap berulang tanpa variasi signifikan. Struktur misinya solid, tetapi jarang ada momen tak terduga yang benar-benar membekas.

Satu elemen menarik adalah bagaimana pemain bisa memilih urutan memburu anggota Yotei Six. Fitur ini memberi kesan kebebasan strategis ala sistem “open contract”, walau pada akhirnya tetap berakhir dalam jalur naratif yang linear.

Masih Terasa Main Aman



Meski Ghost of Yotei tampil memukau di hampir semua sisi, game ini tetap tidak luput dari beberapa kekurangan yang kami rasakan saat memainkannya. Hal yang paling menonjol adalah pacing cerita yang terkadang tidak konsisten, terutama di bab pertengahan yang berjalan lebih lambat dan membuat ketegangan yang kami rasakan sebelumnya sempat mereda sebelum kembali naik di bagian akhir.



Elemen eksplorasi dan pendakian yang dulu terasa segar di Ghost of Tsushima kini mulai terasa repetitif setelah beberapa jam bermain, dengan pola eksplorasi yang jarang menawarkan kejutan baru. Selain itu, Ghost of Yotei juga terkesan bermain aman tanpa inovasi besar yang benar-benar membedakannya dari pendahulunya. Kami rasa game ini dibuat lebih sebagai penyempurnaan formula lama ketimbang evolusi yang masif dan inovatif.

[BACAJUGA] Beberapa misi sampingan pun terasa datar dan kurang memberikan dampak emosional atau naratif yang signifikan terhadap keseluruhan cerita. Meski begitu, kelemahan-kelemahan ini tidak sampai mengurangi pesona utama
Ghost of Yotei sebagai karya yang indah, atmosferik, dan tetap mampu meninggalkan kesan mendalam bagi para pemainnya.



Kesimpulan: Balas Dendam Membara yang Dikemas Indah!



Sebagai sebuah sekuel, Ghost of Yotei berhasil menunjukkan bahwa Sucker Punch masih menguasai formula open-world sinematik yang memadukan aksi brutal dan keindahan visual dalam satu kesatuan yang harmonis. Game ini mungkin tidak membawa inovasi besar atau terobosan baru dibanding pendahulunya, namun setiap elemennya terasa matang dan dikerjakan dengan dedikasi tinggi untuk menghadirkan detail serta atmosfer Jepang feodal.



Dunia bersalju Ezo yang menawan, karakter utama yang kuat dan emosional, serta sistem pertarungan yang lebih dalam menjadikannya pengalaman yang wajib dirasakan dan dinikmati oleh para gamer. Meski kami merasa Sucker Punch ini main aman dan kurang variasi dalam eksplorasi, Ghost of Yotei tetap tampil sebagai sebuah karya yang indah, dengan premis sebuah perjalanan balas dendam yang penuh makna, dibalut dengan nuansa sinematik yang hanya bisa dihadirkan oleh Sucker Punch.

Buat yang mau mainin juga,
Ghost of Yotei akan rilis pada 2 Oktober 2025 dan tersedia eksklusif untuk PlayStation 5.

Kesimpulan Review: Ghost of Yotei

90KotakGame.com RATING
  • (+) KELEBIHAN
  • Visual Memukau
  • Sinematik dan Elegan
  • Variasi Senjata Beragam
  • Gimmick DualSense yang Beragam
    • (-) HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
    • Pacing Cerita Kurang Konsisten
    • Eksplorasi Cukup Repetitif
    • Minim Inovasi Besar

prev
1 dari 4
next
BACA JUGA BERITA INI