space
REVIEW DEATH STRANDING 2: ON THE BEACH (PC)
Rabu, 25 Mar 2026
prev
1 dari 2
next

Kalau ada satu hal yang bisa langsung disimpulkan dari memainkan Death Stranding 2: On the Beach di PC, ini adalah pengalaman yang terasa seperti evolusi… tapi bukan revolusi. Sebuah sekuel yang jelas lebih matang, lebih “ramah”, lebih halus, namun di saat yang sama juga sedikit kehilangan rasa keras kepala yang dulu justru jadi identitas kuatnya. Dan seperti karya Hideo Kojima pada umumnya, ini bukan game yang mencoba menyenangkan semua orang. Ini game yang tetap berdiri di jalurnya sendiri—hanya saja sekarang jalurnya dibuat sedikit lebih lebar.

Versi PC di sini menarik karena bukan sekadar “port biasa”. Ini adalah bentuk paling fleksibel dari pengalaman Death Stranding 2, sebuah versi yang secara teknis bisa jadi yang terbaik… tapi juga paling inkonsisten, tergantung siapa yang memainkannya.

Lebih Halus, Lebih Cepat, Tapi Tidak Lagi Seberat Dulu

 

Kalau kamu pernah memainkan game pertamanya, kamu pasti tahu bahwa Death Stranding bukan soal aksi, tapi soal perjalanan. Loop gameplay-nya masih sama: mengantar barang, menembus medan ekstrem, dan membangun koneksi antar wilayah. Tapi di sekuel ini, semuanya terasa lebih “gamey”.

Pergerakan lebih responsif, traversal lebih fleksibel, dan sistem pendukung seperti kendaraan, equipment, hingga opsi combat terasa lebih berkembang. Game ini tidak lagi terasa seberat dulu. Friksi yang dulu terasa seperti tembok besar sekarang sudah dipangkas, diganti dengan sistem yang lebih bersahabat.

Masalahnya, di sinilah muncul dilema. Di satu sisi, ini membuat game jauh lebih mudah dinikmati. Bahkan pemain baru sekalipun bisa langsung “klik” dengan ritmenya. Tapi di sisi lain, rasa struggle yang dulu menjadi inti pengalaman justru berkurang. Dunia yang dulunya terasa mengintimidasi, sekarang terasa lebih bisa dikontrol.

Apalagi dengan kembalinya sistem online asinkron—di mana struktur buatan pemain lain akan muncul di duniamu—banyak tantangan traversal jadi terasa lebih ringan. Jalan sudah dibangun, jembatan sudah tersedia, dan kadang rasa “bertahan hidup” itu sedikit memudar. Ini bukan hal buruk, tapi jelas mengubah rasa dari perjalanan itu sendiri.

Dunia yang Tetap Menjadi Bintang Utama

 

Terlepas dari perubahan gameplay, satu hal yang tidak berubah adalah kekuatan dunia yang ditawarkan. Death Stranding 2 masih menjadi salah satu game dengan atmosfer paling kuat di industri saat ini.

Lingkungan bukan hanya sekadar latar belakang, tapi bagian dari gameplay itu sendiri. Setiap gunung, lembah, hujan, hingga tekstur tanah memiliki peran. Navigasi bukan hanya soal arah, tapi soal membaca dunia. Dan di sinilah game ini tetap bersinar terang.

[BACAJUGA]

Di PC, semua ini terasa semakin hidup. Resolusi yang lebih tinggi, frame rate yang lebih stabil (setidaknya dalam kondisi ideal), dan detail visual yang lebih tajam membuat setiap perjalanan terasa lebih imersif. Ini adalah game yang memang didesain untuk dinikmati perlahan, dan versi PC memberimu cara terbaik untuk melakukannya—secara visual.

Cerita: Lebih Mudah Dicerna, Tapi Tetap “Kojima Banget”

 

Soal cerita, Death Stranding 2 masih bermain di wilayah yang sama: koneksi manusia, isolasi, dan hubungan manusia dengan sistem yang semakin otomatis. Bedanya, kali ini penyampaiannya terasa lebih “ramah”.

Narasi dibuat sedikit lebih mudah diikuti, tidak se-membingungkan dulu. Tapi jangan salah, ini tetap karya Kojima. Absurditas masih ada. Momen-momen yang terasa over-the-top masih muncul. Kadang dalam satu adegan kamu bisa merasa emosional, lalu di adegan berikutnya kamu hanya bisa geleng-geleng kepala karena keanehannya.

Dan anehnya, justru di situlah kekuatannya. Game ini tidak mencoba menjadi konsisten dalam tone, tapi justru memanfaatkan ketidakkonsistenan itu sebagai identitas. Hasilnya memang terasa “messy”, tapi juga sangat manusiawi.

Performa PC: Antara Showcase Teknologi dan Realita Stutter

 

Sekarang kita masuk ke bagian paling krusial: performa PC. Karena di sinilah versi ini benar-benar diuji.

Secara teknis, Death Stranding 2 di PC adalah port yang sangat solid. Game ini mendukung berbagai teknologi modern seperti DLSS, FSR, frame generation, dynamic resolution scaling, hingga berbagai opsi latency reduction. Untuk pemain yang suka tweaking setting, ini adalah playground yang menyenangkan.

Di atas kertas, game ini bisa berjalan sangat impresif. Resolusi tinggi dengan frame rate di atas 100 FPS bukan hal mustahil, bahkan di setting tinggi. Visualnya tetap konsisten indah, dan skalabilitasnya cukup baik untuk berbagai jenis hardware.

Namun, performa ini tidak selalu stabil. Salah satu masalah paling konsisten yang muncul adalah stuttering. Bukan sesuatu yang terus-menerus, tapi cukup sering untuk terasa mengganggu, bahkan di sistem dengan spesifikasi tinggi. Ada momen di mana frame rate terlihat tinggi, tapi terasa tidak “smooth” secara pengalaman.

Menariknya, penggunaan frame generation kadang justru memperparah sensasi ini. Game bisa terasa seperti “mengejar performa”, menciptakan efek aneh di mana pergerakan terasa tidak sepenuhnya natural.

Ini bukan masalah yang menghancurkan pengalaman, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan port yang sempurna.

Kontrol dan Fleksibilitas: PC Menang Telak

 

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah bagaimana baiknya kontrol mouse dan keyboard di game ini. Movement terasa natural, aiming lebih presisi, dan overall experience terasa sangat playable tanpa harus bergantung ke controller.

Tapi kalau kamu tetap ingin menggunakan controller, terutama DualSense, pengalaman yang ditawarkan justru lebih lengkap dibanding versi konsol. Fitur-fitur seperti adaptive trigger tetap ada, bahkan dengan tambahan seperti gyro aiming yang justru terasa lebih optimal di PC.

Di sinilah versi PC benar-benar unggul: fleksibilitas. Kamu bisa memilih bagaimana ingin memainkan game ini, dan hampir semua opsi terasa viable.

Versi Terbaik… Tergantung Siapa yang Main

 

Yang membuat versi PC dari Death Stranding 2 menarik adalah fakta bahwa ini bisa jadi versi terbaik… atau justru versi yang paling bermasalah, tergantung kondisi.

Kalau kamu punya hardware yang kuat dan mau meluangkan waktu untuk mengatur setting, kamu akan mendapatkan pengalaman visual dan performa terbaik dari game ini. Tapi kalau tidak, kamu mungkin akan menghadapi pengalaman yang tidak sehalus yang diharapkan.

Berbeda dengan konsol yang memberikan pengalaman lebih konsisten, PC menawarkan potensi—bukan jaminan.

Kesimpulan

Death Stranding 2 di PC adalah paket yang kompleks. Ini adalah game yang lebih polished, lebih accessible, dan secara teknis lebih fleksibel dibanding pendahulunya. Tapi di saat yang sama, ia juga sedikit kehilangan rasa “keras” yang dulu membuatnya begitu membekas.

Versi PC sendiri memperkuat semua kelebihan itu, sekaligus memperlihatkan kelemahannya. Visual lebih indah, kontrol lebih fleksibel, fitur lebih lengkap—tapi masih dibayangi oleh masalah performa kecil yang seharusnya bisa dihindari.

[BACAJUGA]

Pada akhirnya, ini tetap sebuah pengalaman yang sulit dibandingkan dengan game lain. Bukan karena sempurna, tapi karena berani menjadi berbeda. Dan mungkin itu yang paling penting.

Karena di tengah industri yang penuh formula, Death Stranding 2: On the Beach tetap memilih untuk jadi… aneh. Dan di tangan yang tepat, keanehan itu justru jadi sesuatu yang layak dirayakan.

Kesimpulan Review

Death Stranding 2: On The Beach

90 KOTAKGAME RATING
  • (+) KELEBIHAN
  • Performa di PC yang optimal
  • Fleksibilitas settings dan controller
  • Fitur seperti upscale dan framegen
  • (-) KEKURANGAN
  • Game dengan formula yang tidak untuk semua orang

prev
1 dari 2
next
BACA JUGA BERITA INI