



Dunia esports kembali disorot setelah Elon Musk melontarkan tantangan terbuka yang melibatkan kecerdasan buatan miliknya, Grok. Melalui unggahan di platform X, Musk menyebut bahwa Grok versi terbaru dirancang untuk menantang pemain profesional League of Legends, salah satu game kompetitif paling kompleks di ranah esports global.
Baca ini juga :» Boostgate Esports dan Team Zone Lolos ke Swiss Stage M7, Siap Tempur Mulai 10 Januari di Jakarta
» Jelang M7, MLBB Ajak Pemain Indonesia Ikut Pesta Cuan
» Pemenang Kotakgame Awards Kategori 2025 Mobile & Esports
» Elon Musk Cetak Rekor: Manusia Pertama Berharta $700 Miliar Usai Menangkan Gugatan Tesla
» ONIC Esports Juara Turnamen Internasional Games of the Future 2025
» Dominasi Predator Gaming Indonesia: Dorong Talenta Lokal ke Panggung Esports Dunia 2025
» Nenek Berusia 92 Tahun Juarai Turnamen Tekken 8: Bukti Esport Milik Semua Usia!
» M7 World Championship Resmi Perkenalkan Opening Ceremony Perdana, Drawing Turnamen, dan M7 Pass
Tantangan tersebut bukan sekadar wacana. Musk secara spesifik menyebut bahwa Grok 5 akan diuji untuk bertanding melawan tim esports papan atas pada tahun 2026. AI tersebut dikembangkan oleh xAI, perusahaan riset AI yang didirikan Musk untuk menyaingi pemain besar di industri kecerdasan buatan.
Berbeda dengan bot game pada umumnya, Grok disebut tidak akan memiliki akses langsung ke data internal game. AI ini hanya diperbolehkan membaca kondisi permainan melalui tampilan layar, layaknya pemain manusia. Kecepatan reaksi dan input juga dibatasi agar setara dengan kemampuan manusia, sehingga fokus utama pengujian berada pada pengambilan keputusan, strategi, dan adaptasi dalam situasi real time.
Tantangan tersebut langsung memancing reaksi dari komunitas esports global. Salah satu tim tersukses League of Legends, T1, menyatakan ketertarikan untuk menghadapi Grok. Bahkan, ikon esports dunia Faker turut menanggapi wacana tersebut dengan optimisme bahwa kerja sama tim, insting, dan pengalaman manusia masih menjadi keunggulan utama dibanding AI.
Ketertarikan juga datang dari pihak pengembang. Riot Games disebut membuka peluang untuk menjadikan duel manusia versus AI ini sebagai eksperimen sekaligus tontonan esports berskala global, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait format pertandingan.
Bagi industri esports, tantangan Grok vs pro player bukan hanya soal menang atau kalah. Duel ini berpotensi menjadi momen penting yang mempertemukan dunia teknologi dan kompetisi digital. Jika AI mampu bersaing di level tertinggi League of Legends, maka diskusi soal batas kemampuan manusia dan peran AI dalam kompetisi real time akan semakin menguat.
Hingga akhir 2025, detail terkait jadwal, format pertandingan, serta tim yang akan benar benar bertanding masih belum diumumkan. Namun satu hal sudah pasti, tantangan dari Elon Musk ini sukses mencuri perhatian dunia dan membuka babak baru dalam perdebatan AI versus manusia di ranah esports.