



Dunia esports kembali disorot setelah Elon Musk melontarkan tantangan terbuka yang melibatkan kecerdasan buatan miliknya, Grok. Melalui unggahan di platform X, Musk menyebut bahwa Grok versi terbaru dirancang untuk menantang pemain profesional League of Legends, salah satu game kompetitif paling kompleks di ranah esports global.
Baca ini juga :» BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Malaysia, Siapa Menyusul?
» Standar Baru Esports 2026: ASUS ROG Resmi Jadi Mitra Perangkat Utama PGL Season 2026
» Brigida Menolak Beras? Lebih Pilih Balas Chat Pak AP Ketimbang Ko Delwyn?
» Skandal AoV SEA Games 2025: Screen Sharing Berujung Penangkapan dan Ban Seumur Hidup
» Alter Ego Ares Umumkan Roster PMPL ID Spring 2026, Zuxxy Resmi Kembali!
» Isyarat Skin FMVP? Postingan Aurora Gaming MLBB Bikin Fans Curiga Franco Jadi Pilihan Light
» Resmi, Pelaku Ringing di PMNC ID Spring Kena Diskualifikasi dan Sanksi 3 Tahun
» Team Liquid ID Resmi Farewell SaintDelucaz, Siapa Coach Baru Musim Depan?
Tantangan tersebut bukan sekadar wacana. Musk secara spesifik menyebut bahwa Grok 5 akan diuji untuk bertanding melawan tim esports papan atas pada tahun 2026. AI tersebut dikembangkan oleh xAI, perusahaan riset AI yang didirikan Musk untuk menyaingi pemain besar di industri kecerdasan buatan.
Berbeda dengan bot game pada umumnya, Grok disebut tidak akan memiliki akses langsung ke data internal game. AI ini hanya diperbolehkan membaca kondisi permainan melalui tampilan layar, layaknya pemain manusia. Kecepatan reaksi dan input juga dibatasi agar setara dengan kemampuan manusia, sehingga fokus utama pengujian berada pada pengambilan keputusan, strategi, dan adaptasi dalam situasi real time.
Tantangan tersebut langsung memancing reaksi dari komunitas esports global. Salah satu tim tersukses League of Legends, T1, menyatakan ketertarikan untuk menghadapi Grok. Bahkan, ikon esports dunia Faker turut menanggapi wacana tersebut dengan optimisme bahwa kerja sama tim, insting, dan pengalaman manusia masih menjadi keunggulan utama dibanding AI.
Ketertarikan juga datang dari pihak pengembang. Riot Games disebut membuka peluang untuk menjadikan duel manusia versus AI ini sebagai eksperimen sekaligus tontonan esports berskala global, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait format pertandingan.
Bagi industri esports, tantangan Grok vs pro player bukan hanya soal menang atau kalah. Duel ini berpotensi menjadi momen penting yang mempertemukan dunia teknologi dan kompetisi digital. Jika AI mampu bersaing di level tertinggi League of Legends, maka diskusi soal batas kemampuan manusia dan peran AI dalam kompetisi real time akan semakin menguat.
Hingga akhir 2025, detail terkait jadwal, format pertandingan, serta tim yang akan benar benar bertanding masih belum diumumkan. Namun satu hal sudah pasti, tantangan dari Elon Musk ini sukses mencuri perhatian dunia dan membuka babak baru dalam perdebatan AI versus manusia di ranah esports.