space
ANAK MUDA JAMAN SEKARANG ASING DENGAN EMAIL, DEVELOPER GAME INI BILANG GAME-NYA JADI SEMAKIN SUSAH
PC
2 Hari yang lalu

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Gen Z dan Gen Alpha belakangan sering disorot karena dianggap kurang mandiri dan terlalu bergantung pada bantuan instan. Mulai dari guru, orang tua, hingga media, banyak yang menuding adanya gejala learned helplessness—ketidakmampuan menyelesaikan masalah sederhana tanpa petunjuk langsung. Kini, keluhan serupa datang dari arah yang tak terduga: seorang developer game.

Baca ini juga :
» Investor Ingin Game Cepat-Cepat Rilis, MUDANG: Two Hearts Gagal Rilis Setelah Studio Ditutup
» Perusahaan Gaming Jepang Minta Calon Karyawan Test Gambar Secara Langsung Untuk Hindari Gen-AI
» Pemerintah China Aktif Dukung Developer Game Dengan Dana dan Fasilitas Gratis
» Gamecom Team Persiapkan Kolaborasi Dengan Game Dev Lokal Indonesia
» Bank Jepang Blokir Transaksi Game 18+, Dev Game Dewasa Kehilangan Pendapatan
» Kunto Aji Siap Kerja Sama Dengan Dev Game Lokal, Untuk Mengisi Musik!

Petter Malmehed, kreator game indie After Hours, mengungkapkan bahwa semakin banyak pemain mudanya yang kesulitan dengan hal-hal mendasar di luar konteks game. Ironisnya, masalah ini justru berdampak buruk pada reputasi game miliknya di Steam.


Dirilis pada 2018, After Hours adalah sebuah alternate reality game (ARG) yang menantang pemain untuk menyelidiki hilangnya seorang ilmuwan puluhan tahun lalu. Ceritanya terungkap lewat catatan, surat, dan file yang tersembunyi di dalam sebuah komputer virtual.

Game ini merupakan versi remake dari 128k, sebuah game populer di Newgrounds, yang kemudian dikembangkan ulang dengan puzzle baru setelah sukses lewat Kickstarter.

Berbeda dari game pada umumnya, After Hours tidak hanya meminta pemain memecahkan teka-teki di layar. Sebagai ARG sejati, game ini mendorong pemain mencari jawaban di luar game, memanfaatkan logika, internet, dan alat-alat dunia nyata.


Deskripsi resminya bahkan menantang pemain secara langsung:
Jika kamu menemukan komputer tua berisi hal-hal yang tidak kamu pahami, apa yang akan kamu lakukan? Cari jawabannya di Google, bukan?

Saat pertama rilis, After Hours bukanlah game yang meledak secara komersial. Namun, respons pemain cukup solid. Banyak ulasan memuji pendekatan puzzle-nya yang unik dan menantang, meski diakui tidak cocok untuk semua orang.

Sebagian pemain menganggap tingkat kesulitannya lebih tinggi dari dugaan, tapi tetap adil dan tidak terlalu panjang. Singkatnya, game ini berhasil menemukan audiens yang menikmati tantangan berpikir di luar kebiasaan.

Untuk membantu pemain yang mentok, Malmehed menyiapkan sistem bantuan yang cerdik. Di dalam game, pemain berkomunikasi dengan sebuah karakter yang alamat email-nya terlihat jelas. Triknya: pemain diharapkan mengirim email sungguhan ke alamat tersebut.

Email itu akan dibaca oleh sistem otomatis yang mendeteksi kata kunci di isi pesan, lalu membalas dengan petunjuk agar pemain bisa melanjutkan permainan.

Di tahun-tahun awal, sebagian besar pemain langsung memahami konsep ini. Tapi situasinya berubah drastis beberapa tahun kemudian.

Memasuki 2024, Malmehed mulai menerima email aneh. Bukan karena isinya, tapi karena tidak ada isi sama sekali. Banyak pemain hanya menuliskan pertanyaan mereka di kolom subjek email—tanpa mengetik apa pun di badan pesan.


Masalahnya, sistem bantuan After Hours tidak dirancang untuk membaca subjek email. Alhasil, sistem tidak merespons, pemain merasa buntu, dan frustrasi pun meningkat.

Lebih parah lagi, sebagian pemain tampak benar-benar tidak memahami cara kerja email itu sendiri—jauh sebelum mereka mencoba memecahkan misteri utama game.

Akibat kesalahpahaman sederhana ini, ulasan After Hours di Steam mulai merosot. Beberapa pemain melabeli game tersebut sebagai “terlalu sulit”, padahal hambatan utamanya bukan teka-teki, melainkan kurangnya pemahaman dasar tentang alat digital sehari-hari.

Salah satu ulasan singkat di 2024 bahkan hanya menulis: “Keterlaluan susahnya.”

Kisah After Hours menjadi contoh unik bagaimana perubahan generasi bisa memengaruhi cara orang berinteraksi dengan game. Sebuah mekanik yang dulu dianggap intuitif, kini justru menjadi penghalang besar.

Bagi Malmehed, ini bukan sekadar soal desain game, tapi pertanyaan lebih besar:
Apakah pemain modern masih siap untuk game yang menuntut inisiatif, rasa ingin tahu, dan kemampuan dasar di luar layar?

Dan untuk After Hours, jawaban itu—sayangnya—berdampak langsung pada reputasinya.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close