space
VALVE DITUNTUT OLEH AKTIVIS INGGRIS KARENA DIANGGAP MONOPOLI DAN TIDAK ADIL
Pop
Kamis, 29 Jan 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Valve kembali jadi sorotan. Raksasa di balik platform distribusi game PC terbesar di dunia itu kini menghadapi gugatan hukum senilai £656 juta (sekitar $903 juta) di Inggris. Gugatan ini diajukan oleh aktivis hak digital Vicki Shotbolt, yang menuduh Valve menyalahgunakan dominasinya lewat Steam dan membebani gamer serta developer dengan biaya yang tidak adil.

Menurut laporan BBC, jika gugatan ini dimenangkan, sekitar 14 juta pengguna Steam di Inggris berpotensi menerima kompensasi. Bahkan, kasus ini bisa membuka jalan bagi gugatan serupa di negara lain.

Shotbolt menilai Valve membatasi kompetisi dengan melarang game yang dijual di Steam untuk dipasarkan lebih murah di platform lain. Praktik ini disebut menghambat pasar bebas karena developer tidak bisa menawarkan harga lebih rendah di toko digital pesaing.


Selain itu, Valve juga dituduh menerapkan sistem pembelian yang “mengunci” pemain ke Steam. Add-on atau DLC sebuah game hanya bisa digunakan jika game utamanya dibeli melalui Steam, yang dinilai sebagai bentuk anti-steering practice — praktik yang mencegah konsumen diarahkan ke alternatif yang lebih murah.

Poin terbesar gugatan ini adalah soal komisi. Valve dianggap mengambil potongan terlalu besar dari penjualan game, yang pada akhirnya dibebankan ke konsumen dalam bentuk harga lebih tinggi.

Valve sendiri menolak tuduhan tersebut. Perusahaan menyatakan bahwa pihak penggugat tidak memiliki metodologi yang jelas untuk menghitung secara akurat besaran komisi efektif yang mereka terapkan.


Ini bukan pertama kalinya Valve dikritik soal komisi. CEO Epic Games, Tim Sweeney, selama bertahun-tahun menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap model bisnis Steam. Ia bahkan pernah menyebut Valve sebagai “IRS-nya developer game”. Epic juga sempat membawa Apple dan Google ke jalur hukum atas isu serupa, yang berujung pada ditariknya Fortnite dari kedua platform tersebut.

Baca ini juga :
» Gara-Gara Malware, FBI Turun Tangan Investigasi Steam!
» Square Enix Gelar "March Sale" di Steam: Diskon Besar Menanti Game Favoritmu
» Steam Machine 6x Lebih Kuat Dari Steam Deck, Target 30 FPS/1080p Untuk Game Agar Dapatkan Machine Verified
» IGRS Akhirnya Resmi Terintegrasi Dalam Steam
» Diskon Gila-gilaan! Game ATLUS & SEGA Turun Harga di Steam Year of the Horse Sale
» Rayakan Tahun Baru Imlek dengan Diskon Besar dari Square Enix di Steam!
» Game Gratis di Epic Games Malah Bikin Penjualan di Steam Melonjak? Ini Alasannya!
» Jadwal Lengkap Steam Sale 2026: Catat Tanggalnya!

Steam selama ini menerapkan komisi standar 30% untuk pendapatan game hingga sekitar $10 juta. Di atas angka tersebut, komisi turun menjadi 25%, dan untuk penjualan di atas $50 juta, potongan Valve menjadi 20%.

Namun penting dicatat, angka 30% bukan eksklusif milik Steam. Tarif serupa juga digunakan oleh Nintendo, PlayStation, Xbox, hingga GOG. Salah satu pengecualian besar adalah Epic Games Store, yang hanya mengambil komisi 12%, jauh di bawah standar industri.

Terlepas dari kontroversi, Steam tetap tumbuh pesat. Valve bahkan dikenal sebagai salah satu perusahaan paling efisien di dunia, dengan estimasi pendapatan mencapai $50 juta per karyawan. Dominasi inilah yang menjadi inti perdebatan: apakah Steam sukses karena inovasi dan layanan, atau karena kekuatan pasar yang terlalu besar?

Hasil gugatan ini berpotensi menjadi preseden penting bagi masa depan distribusi game digital — bukan hanya di Inggris, tapi secara global. Jika pengadilan berpihak pada penggugat, model bisnis toko game digital bisa berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close