space
GAME GRATIS DI EPIC GAMES MALAH BIKIN PENJUALAN DI STEAM MELONJAK? INI ALASANNYA!
PC
Rabu, 21 Jan 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Jika Steam dikenal dengan ritual diskon besarnya yang "menyiksa" dompet, Epic Games Store (EGS) punya senjata andalan yang berbeda: Game Gratis. Strategi bagi-bagi game ini sudah menjadi ciri khas Epic untuk menarik pengguna. Bahkan, CEO Epic, Tim Sweeney, menyebut strategi ini tetap menjadi langkah "ekonomis" meski beberapa kesepakatan lisensi diakuinya tidak selalu menguntungkan.

Namun, ada fenomena unik yang baru saja terungkap. Alih-alih mematikan pasar di platform lain, bagi-bagi game gratis di Epic justru memberikan berkah tak terduga bagi kompetitor terbesarnya, Steam.

CEO New Blood, Dave Oshry, baru-baru ini membagikan data menarik melalui akun X miliknya. Saat game mereka, Blood West, digratiskan di Epic Games Store, hasil yang didapat sungguh mengejutkan. Alih-alih penjualannya mati, Blood West justru mengalami lonjakan penjualan hingga 200% di Steam pada hari yang sama.

Oshry yang sebelumnya menganggap EGS sebagai "lubang hitam pemasaran", kini justru melihat platform tersebut sebagai sarana iklan yang sangat efektif untuk mendongkrak penjualan di Steam dan konsol.

Mengapa orang rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bisa mereka dapatkan secara gratis? Ada beberapa alasan kuat di balik perilaku konsumen ini:

User Experience (UX) yang Superior: Steam bukan sekadar toko, tapi ekosistem. Fitur seperti Steam Workshop, Cloud Saves yang stabil, komunitas, hingga sistem achievement membuat gamer merasa lebih nyaman.

Performa Launcher: Tim Sweeney sendiri mengakui bahwa launcher Epic terkadang merepotkan. Dalam ulasan teknis, EGS sering dikritik karena fiturnya yang minim, performa yang berat, dan visual yang kurang menarik dibandingkan Steam atau GOG Galaxy.

Sentimen "Perpustakaan Tunggal": Gamer PC cenderung malas memecah koleksi game mereka di banyak aplikasi. Mereka lebih suka membayar beberapa dolar agar koleksinya tetap rapi dalam satu library Steam.

Baca ini juga :
» IGRS Akhirnya Resmi Terintegrasi Dalam Steam
» Diskon Gila-gilaan! Game ATLUS & SEGA Turun Harga di Steam Year of the Horse Sale
» Valve Dituntut Oleh Aktivis Inggris Karena Dianggap Monopoli dan Tidak Adil
» Rayakan Tahun Baru Imlek dengan Diskon Besar dari Square Enix di Steam!
» Jadwal Lengkap Steam Sale 2026: Catat Tanggalnya!
» Fitgirl Minta Bantuan Untuk Analisa Malware, Banyak Repack Games Terinfeksi
» Game Dev Ini Hapus AI Slop Game Karena Sang Pacar Tidak Suka AI Gen
» Dev Peak Gembira Akhirnya Kantor Mereka Dikirimi Coklat Oleh Valve Setelah Sukses di Steam

Psikologi Harga: Di dunia gaming, ada candaan bahwa "harga 5 dolar itu terasa seperti 2 dolar, dan 2 dolar itu praktis gratis." Jadi, daripada membuka launcher yang tidak mereka sukai, mereka lebih memilih membayar harga kopi untuk memilikinya di Steam.

Meskipun banyak pengembang merasa Steam memiliki dominasi yang hampir monopolistik, para pemain tetap setia karena kualitas layanannya. Kasus Blood West membuktikan bahwa strategi "bakar uang" dengan membagikan game gratis belum cukup untuk mengalahkan loyalitas pengguna terhadap platform yang memiliki UX matang.

Bagi para pengembang indie, ini adalah kabar baik. Muncul di daftar game gratis Epic ternyata bukan berarti "kematian" potensi pendapatan, melainkan kampanye pemasaran masif yang justru mengarahkan pemain kembali ke platform favorit mereka: Steam.



Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close