Membawa Mahakarya ke Genggaman

Kalau ngomongin soal kasta tertinggi genre action hack-and-slash modern, nama Devil May Cry 5 (DMC 5) buatan Capcom jelas duduk santai di singgasana teratas. Pas pertama kali rilis tahun 2019 lalu, game ini sukses bikin gamer sedunia melongo lewat visual fotorealistik dan animasi karakter yang super mulus—semuanya berkat keandalan RE Engine. Nah, setelah sebelumnya dapet upgrade mewah di PS5 dan Xbox Series X|S lewat Special Edition, sekarang Capcom bikin manuver yang nekat sekaligus genius: membawa game super berat ini ke konsol hybrid anyar Nintendo lewat judul resmi Devil May Cry 5: Devil Hunter Edition di Switch 2!
Baca ini juga :
» Review Pragmata
» Review Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflectio
» Review Resident Evil Requiem
» Review Ghost of Yōtei
» Review Once Human
» Review - Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii
» Pemenang KotakGame Awards 2024 Mobile dan Esports! Ada Game dan Pro Player Favorit Kamu?
» Review Kunitsu-Gami: Path of the Goddess
Awalnya, proyek porting ini bikin banyak pihak skeptis. Pertanyaannya satu: apa iya mesin portabel sekecil itu sanggup ngangkat game sekelas DMC 5? Apalagi Switch 2 harus pintar-pintar bagi tugas antara menghemat baterai pas mode handheld dan geber performa pas dicolok ke dock. Tapi, berdasarkan ulasan dari media raksasa kayak Digital Foundry, Nintendo Life, dan Creative Bloq, Capcom sukses besar. Ini bukan sekadar port malas-malasan, tapi bukti kalau performa Switch 2 emang sudah jauh melompati era PS4.
Mengulik Keajaiban DLSS dan Tensor Cores

Buat game aksi berkecepatan tinggi yang butuh refleks secepat kilat, frame-rate yang stabil itu harga mati. Di sinilah Switch 2 benar-benar unjuk gigi. Pas main di Docked Mode (dicolok ke TV), game ini sukses jalan di target 60fps dengan sangat konsisten. Capcom sengaja mengunci frame-rate di angka 60 ini supaya input kontrol kita tetap instan dan visualnya enggak naik-turun. Keputusan ini patut diacungi jempol, mengingat versi PS4 dulu sering banget framerate-nya drop pas pertarungan lagi ramai-ramainya.
Tapi, rahasia dapur aslinya ada di balik sulap resolusinya. Di mode Docked, Switch 2 sebenarnya cuma merender game ini di resolusi internal dasar sekitar 540p aja untuk meringankan beban kerja GPU. Nah, di sinilah teknologi AI milik NVIDIA, yaitu DLSS (Deep Learning Super Sampling), masuk sebagai pahlawan. Chip kustom NVIDIA di Switch 2 ini sudah dibekali hardware khusus pemroses AI yang namanya Tensor Cores.
Data gambar 540p yang masih mentah tadi, digabung sama data arah gerak objek (motion vectors) dari RE Engine, langsung diproses oleh algoritma pintar DLSS. Karena AI ini sudah dilatih pakai jutaan gambar beresolusi raksasa hingga 16K, dia bisa menebak dengan akurat di mana harus nambahin piksel baru untuk mendongkrak gambar 540p tadi jadi kelihatan tajam di resolusi 1080p pada layar TV. Hasilnya? Gokil banget. Gambarnya terasa jauh lebih bersih dibanding versi PS4 dulu yang sering kelihatan buram atau bergerigi (jaggies) pas karakter bergerak cepat. Ditambah lagi, waktu loading yang dulu lama banget di PS4, sekarang cuma butuh hitungan detik berkat SSD Switch 2.



