Sebagai gamers yang sudah memainkan setidaknya puluhan lebih soulslike mengingat ini genre favorit saya, saya bisa katakan bahwa jarang sekali sebuah game debut bisa memantik intrik sekaligus frustrasi dalam kadar yang sama seperti Wuchang: Fallen Feather. Karya pertama dari Leenzee Games ini tiba dengan gemuruh janji, sebuah soulslike yang berani menyelami mitologi Tiongkok yang kaya, namun pada akhirnya, ia berjuang untuk menyeimbangkan ambisinya yang menjulang tinggi dengan eksekusi yang konsisten.
Sebuah Kanvas Visual yang Memukau

Sejak detik pertama Wuchang: Fallen Feather, kita disuguhi presentasi visual yang memukau. Berlatar belakang era Dinasti Ming yang dilanda kekacauan dan pengaruh supernatural, dunia game ini adalah sebuah mahakarya artistik.
[BACAJUGA]Dari rawa-rawa berkabut yang diselimuti kabut mistis hingga kuil-kuil kuno yang megah dan reruntuhan kota yang dihuni kegelapan, setiap lokasi terasa dirancang dengan cermat dan penuh detail.
Desain karakter, terutama para bos, sungguh imajinatif dan menakutkan, memadukan elemen sejarah dengan fantasi gelap yang mengerikan. Ada keindahan yang suram dalam estetika "Wuchang," sebuah atmosfer yang berhasil menangkap esensi horor dan epik secara bersamaan. Jika ada satu hal yang tak terbantahkan dari game ini, itu adalah kemampuannya untuk memanjakan mata dan membangun dunia yang kohesif secara visual.
Sebagai game eyecandy memang Wuchang: Fallen Feathers bisa dibilang lebih dari memuaskan. Grafik yang ditawarkan sangat indah walau memang ada downside, yakni performa.
Game ini seperti berjalan tidak konsisten di PC dimana dengan spek PC yang kuat bisa lag di beberapa sektor. Jika game ini game kasual memang tidak masalah, tetapi ada frame drop atau lag yang tidak jelas di game soulslike memang sulit dimaafkan.
Fleksibilitas Bertarung yang Membebaskan

Di jantung pengalaman Wuchang: Fallen Feather terletak sistem pertarungannya yang fluid dan sangat memuaskan. Ini bukan sekadar soulslike biasa; Leenzee Games telah berusaha menyuntikkan identitasnya sendiri.
Pertarungan terasa cepat, responsif, dan memberikan umpan balik taktil yang memuaskan dari setiap serangan. Yang benar-benar bersinar adalah kedalaman kustomisasi karakter. Dengan beragam senjata yang memiliki moveset unik, kemampuan khusus yang dapat dibuka, dan, yang paling penting, "Impetus Repository," sebuah skill tree kolosal yang mengingatkan kita pada Sphere Grid ikonik dari Final Fantasy X, Wuchang mendorong pemain untuk bereksperimen.
[BACAJUGA]Kemampuan untuk dengan bebas mereset poin skill memungkinkan Anda mencoba berbagai build tanpa repot, sebuah keunggulan bagi mereka yang suka mengoptimalkan atau sekadar bermain-main dengan gaya bertarung yang berbeda. Sistem "Feathering," di mana dodge dan kombo yang tepat mengisi meteran "Skyborn Might" untuk buff dan spell, menambahkan lapisan strategis yang menarik, mengubah setiap pertarungan menjadi tarian berisiko tinggi antara agresi dan pertahanan. Ini adalah sistem yang kaya, memberikan agensi nyata kepada pemain atas bagaimana mereka ingin menghadapi tantangan.
Animasi Yang Fluid, Terasa Menonton Wuxia

Satu lagi yang patut diapresiasi adalah bagaimana game ini mampu memperlihatkan animasi yang sangat halus dan membuat tiap gerakan terlihat sangat indah. Terutama untuk beberapa senjata yang gesit seperti Dual Blades atau yang bombastis seperti Longswords atau Spear.
Tiap animasi yang keren dan bagaimana Bai Wuchang seperti berdansa, tidak hanya bertarung ketika melawan musuh. Visual wise, Wuchang: Fallen Feathers adalah game yang benar-benar memanjakan mata dan terutama bagi para fans Wuxia, ini seperti sebuah fan service bagi mereka.
Namun, seindah apa pun pemandangannya dan seasyik apa pun pertarungannya, Wuchang: Fallen Feather tidak luput dari noda yang cukup besar, yang sayangnya, menghantam inti pengalaman soulslike: kesulitan.
Difficulty Curve yang Berantakan

Inilah Achilles' heel dari Wuchang. Game ini menderita dari lonjakan kesulitan yang liar dan tak terduga yang dapat dengan cepat mengubah kegembiraan menjadi kemarahan. Sementara soulslike dikenal karena tantangannya, Wuchang terkadang terasa unfair daripada sekadar sulit.
Beberapa pertarungan bos, terutama di paruh akhir game, adalah contoh utama dari desain yang kurang matang. Pola serangan yang tidak jelas, jendela serangan yang terlalu sempit, dan serangan area yang sulit dihindari seringkali membuat kemenangan terasa seperti hasil keberuntungan murni, bukan penguasaan mekanika.
[BACAJUGA]Sebenarnya hal ini bukan masalah besar. Wuchang yang memang seperti mixbag antara Sekiro dan Dark Souls memang di-expect akan mengeluarkan hal seperti ini. Tetapi masalah lag dan bahkan hitbox yang seperti mengingatkan kita bermain Dark Souls 2 jadi kombinasi yang buruk. Inkonsistensi ini jadi membuat pengalaman bermain jadi aneh kesulitan bukan dari pintarnya dev menaruh hal itu di game, tetapi terasa “murahan” saja.
Selain itu, ada masalah minor namun berulang seperti animasi recovery setelah terjatuh yang seringkali tidak memiliki invincibility frames. Ini berarti satu pukulan bisa berujung pada combo kematian yang tak terhindarkan, membuat momen-momen tertentu terasa murah dan menghukum. Ketika soulslike bekerja dengan baik, setiap kematian adalah pelajaran; di "Wuchang," kadang-kadang itu hanya desahan kekalahan yang tak berdaya.
Combat Game Kurang “Oomph,” Kurang Berikan Impresi Kuat

Ya ini lagi keluhan yang saya rasa di Wuchang: Fallen Feathers yang ironisnya seharusnya mereka bagus disini, yakni combat. Combat di Wuchang jujur agak sedikit dipertanyakan karena mau diarah kemana sebenarnya hal ini?
Pertama dari pace. Pace Wuchang terasa cukup cepat yang mungkin bisa dijelaskan sebagai sedikit mirip Nioh, Wo Long, dan Sekiro. Tetapi game ini punya variasi pace lagi dari senjata yang mana Dual Blades akan sangat cepat tetapi ya Spear atau Axe lebih lambat. Tetapi bukan itu masalah game ini, yakni varian ini jadi tidak ada gunanya dengan sistem break.
[BACAJUGA]Sistem stance break disini ya kurang lebih mirip Sekiro atau Souls lain tetapi terlalu bergantung kepada heavy attack dari punggung jadi membosankan. Belum lagi game ini seperti tidak terasa ada hitstun yang mana semua serangan terasa lembek dan membosankan, seperti tidak ada power.
Semua keluhan tersebut ditambah bagaimana game ini punya hitbox yang aneh, jujur terasa jika game ini masih butuh polesan. Terasa jika dev terlalu fokus kepada visual dan grafis tetapi lupa jika ada gameplay yang harus mereka urus lebih baik lagi.
Kisah yang Hilang dalam Kabut

Di luar pertarungan, narasi Wuchang: Fallen Feather gagal untuk sepenuhnya memikat. Dengan latar belakang Dinasti Ming yang penuh intrik dan mitologi yang kaya, ada potensi besar yang belum tergali. Namun, ceritanya sendiri cenderung klise, sulit diikuti, dan disajikan secara terfragmentasi.
Karakter datang dan pergi tanpa penjelasan yang memadai, dan referensi budaya yang tidak dijelaskan membuat narasi terasa kabur dan membingungkan. Sang protagonis, Bai Wuchang, meskipun memiliki latar belakang yang menarik, terasa seperti sebuah alat untuk gameplay daripada karakter yang sepenuhnya terbentuk, yang sangat disayangkan mengingat potensi tematiknya.
Lagi-lagi, mungkin Wuchang terinspirasi besar dari Sekiro tetapi masalahnya lore Sekiro juga bukan hal terkuat mereka sehingga penyampaian cerita atau lore di game ini jadi berantakan. Wuchang tidak pintar membuat lore dari item misalnya Bloodborne atau Elden Ring, tetapi juga tidak mengantarkan cerita dari NPC dan world seperti Dark Souls 3 dan Demon’s Souls.
Sebuah Harapan untuk Title Berikutnya

Pada akhirnya, Wuchang: Fallen Feather adalah game debut yang ambisius dengan kekurangan yang mencolok. Ini adalah pengalaman soulslike yang akan menguji kesabaran bahkan bagi veteran paling tangguh sekalipun, namun juga memberikan momen-momen gameplay yang sangat memuaskan dan visual yang tak terlupakan.
Bagi para "pecandu soulslike" yang mencari tantangan baru, yang bersedia memaafkan beberapa kekasaran demi sistem pertarungan yang kaya dan eksplorasi dunia yang menarik, Wuchang: Fallen Feather mungkin layak dicoba. Namun, bagi mereka yang mencari pengalaman yang lebih halus, narasi yang kohesif, atau kurva kesulitan yang adil, mungkin lebih baik menunggu atau mendekatinya dengan ekspektasi yang disesuaikan.
[BACAJUGA]Tidak akan saya rekomendasikan game ini kepada gamers pemula yang ingin coba main game soulslike karena first impression game ini yang agak buruk dari beragam aspek. Mulai dari lag dan frame drop, hitbox yang buruk, juga difficulty yang tidak natural seperti mereka buat game ini sulit tanpa alasan, yang penting sulit saja.
Leenzee Games telah menunjukkan bahwa mereka memiliki visi artistik dan dasar mekanika yang kuat. Jika mereka dapat belajar dari feedback ini, terutama mengenai kalibrasi kesulitan dan penceritaan, proyek mereka berikutnya bisa menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan di genre soulslike.
Untuk saat ini, Wuchang: Fallen Feather adalah langkah awal yang indah namun penuh gejolak, sebuah permata mentah yang masih membutuhkan sedikit polesan.
Kesimpulan
Wuchang: Fallen Feathers adalah game yang jelas sangat ambisius, tetapi ambisi mereka yang jadi alasan utama jatuhnya game ini. Punya potensi besar, punya ide yang jelas ada di depan mata tetapi sayangnya masih belum bisa dimainkan dengan maksimal.
Diharapkan Leenzee Games bisa belajar dari game ini dan porject selanjutnya bisa jauh lebih baik. Tetapi untuk sementara ini Wuchang: Fallen Feathers seharusnya masih bisa lebih baik lagi, terutama dari sisi performa game dan juga identitas combat mereka.
Kesimpulan Review
Buy Wuchang: Fallen Feathers
- (+) KELEBIHAN
- Grafik yang menawan
- Animasi yang fluid dan ciamik
- Sistem leveling yang unik dan implementasinya yang solid
- (-) KEKURANGAN
- Masalah performa yang sangat buruk
- Enemy placement seperti Dark Souls 2, tetapi lebih buruk
- Hitbox dan hurtbox yang tidak konsisten, terkadang bahkan sampai ada rubberband
- Combat kurang menohok

