Bisa dikatakan Resident Evil adalah tambang emas milik Capcom dimana seri ini sudah berjalan sudah lebih dari beberapa dekade dan seringkali merilis haymaker dengan game-game mereka. Tapi untuk Requiem kali ini, jujur ada mixed feelings sebagai fans berat Resident Evil.
Terasa memang Requiem adalah game yang bisa jadi langkah dan arah baru bagaimana serial ini berjalan. Bagaimana para karakter yang kita sudah kenal dalam konteks ini Leon sudah cukup tua dan hadirnya Grace yang terlihat akan mengisi sepatu milik Leon itu. Tapi memainkan game ini bukannya saya merasa lega atau senang malah semakin bingung.
Oke, untuk konteks penulisan, review ini ditulis setelah saya menamatkan Resident Evil Requiem dan ada rencana untuk speedrun di NG+ untuk menyelesaikan semua challenges dan trophy yang ada — jadi konten penulisan dan opini bisa berubah sepanjang permainan lagi.
Perkenalkan Karakter Utama Baru, Grace

Resident Evil Requiem terasa menjadi “RE7” nya kita di tahun 2026 dimana kita diperkenalkan oleh karakter baru seperti Ethan saat itu, yakni Grace. Grace seperti Ethan seperti dua karakter yang mirip dimana mereka adalah seperti orang yang di waktu dan tempat yang salah — akhirnya terjebak di masalah B.O.W. Tapi berbeda dengan Ethan, Grace adalah orang yang terlatih di FBI jadi penggunaan senjata api bukan hal yang asing.
Hadirnya Grace juga bisa dibilang membuat Resident Evil: Outbreak semakin canon dengan adanya Alyssa Ashcroft yang merupakan ibu dari Grace. Ya mungkin bisa kalian bilang ini hanya sebuah fan service saja tapi saya bisa pastikan adanya Alyssa merupakan hal yang penting di Requiem walau sayangnya saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh lagi dan di review ini saya akan coba buat spoiler free sebisa mungkin.
Dari sisi gameplay, Grace terasa sangat berbeda dengan MC Resident Evil sebelumnya (kecuali Ethan). Di Requiem kalian akan memainkan Grace dan Leon dan keduanya terasa sangat berbeda dimana bermain sebagai Leon terasa bermain RE4, bermain sebagai Grace seperti bermain RE7.
[BACAJUGA]Tempat yang sempit membuat claustrophobic, absennya cahaya di beberapa tempat membuat tiap langkah menakutkan, sampai resources yang benar-benar sangat terbatas membuat kita bermain sebagai Grace lebih imersif. Tapi tentunya tidak sempurna dan ada beberapa kritik yang hadir untuk gameplay Grace disini.

Capcom terasa sangat berusaha membuat gameplay Grace seperti “RE klasik” dimana kita terjebak di satu tempat yang luas dan harus navigasi layaknya maze yang sangat besar. Tempat pertama yakni Rhodes Hill Clinic Grace bermain sangat mirip Spencer’s Mansion dari RE1 dimana satu gedung terbelah jadi dua di West Wing dan East Wing. Tapi berbeda dengan Spencer’s Mansion dimana layout memiliki interkoneksi yang sangat baik, di Resident Evil Requiem tidak seperti itu. Bahkan navigasi jadi merepotkan dan bagaimana resources yang terbatas ditambah banyaknya zombie berkeliaran terasa seperti untuk Rhodes Hill Clinic ini hadir sebagai artificial difficulty saja.
Selain itu berbeda misalnya dengan Spencer’s Mansion, Baker’s House, RPD, dan tempat-tempat lainnya dimana mengecek tiap belokan, sudut, dan ruangan jadi hal yang asik — disini tiap menitnya saya hanya ingin cepat-cepat keluar saja. Walau begitu Capcom tetap memberikan desain Rhodes Hill Clinic yang sangat baik dan jujur, jauh lebih baik dibandingkan menyusuri kastil terkutuk di Resident Evil 8 sebelumnya.
Tapi bukannya setiap kritik saya buruk disini karena Rhodes Hill Clinic cukup fun juga terutama dari sisi penyajian. Mulai dari files, detail koridor dan ruangan, layout ruangan dan bagaimana masing-masing saling terkoneksi cukup memuaskan. Favorit saya mungkin ada di bagaimana Capcom membuat tiap ruangan ada arti. Maksud saya tiap ruangan selalu ada tujuan untuk di-explore dan backtracking jadi semakin seru.
Leon si Anak Emas Benar-Benar Dimanjakan

Leon sudah bukan Rookie Cop lagi disini dan bahkan sudah bukan polisi lagi karena di Resident Evil Requiem, dirinya sudah menjadi anggota DSO (oke ini bukan spoiler ya karena sudah ada di trailer.) DSO sendiri mungkin bisa dikatakan sebagai paralel dari BSAA tapi berbeda tempat otoritas mereka.
Leon saya pikir benar-benar dimanjakan di Resident Evil Requiem karena setelah memainkan Grace dan mengganti ke Leon (yang mana akan kalian rasakan terus disana karena Capcom membuat gameplay selalu ganti-ganti karakter), Leon terasa lebih polished.
Kenapa saya katakan Leon terasa lebih polished karena terasa memang pengalaman Capcom ketika membuat Resident Evil 4 Remake dan Resident Evil 8 lalu masih terbawa sampai sekarang. Bagaimana movement Leon, pacing cerita, layout map, level design, dan lainnya terasa lebih oke. Dalam level design dan layout map bukan di tempat yang sama ya, tapi setelah kita masuk ke fase selanjutnya.

Leon juga entah kenapa diberikan 12+ senjata lebih untuk kalian gunakan dan saya tidak mengerti hal ini karena Grace hanya diberikan 2 jenis senjata saja yang mana tidak masuk akal. Oke saya mengerti jika Grace seharusnya menjadi pengalaman horror dan Leon lebih action, tapi setidaknya Ethan saja di RE7 punya koleksi senjata yang lebih beragam dan dirinya hanya warga sipil sedangkan Grace seharusnya punya pengalaman lebih luas dan bisa diberikan senjata yang lebih beragam juga.
[BACAJUGA]Lebih parahnya, Leon yang punya banyak jenis senjata saya rasa seperti tidak diperlukan dan berlebihan. Hal ini karena dirinya punya 3 jenis pistol, 3 shotgun, 2 SR, dll. Kalian bisa bayangkan bagaimana jenis-jenis senjata ini kurang penting mengingat ini bukan RE4 dimana kita hanya memainkan Leon saja. Sementara itu Grace hanya diberikan 2 jenis senjata saja DAN SEMUANYA HANYA HANDGUN? Di titik ini saya hanya lebih bingung dan kecewa saja karena hal ini hanya membuat pengalaman bermain kedua karakter jadi berbanding terbalik.
Coba Campur Action dan Horror, Tapi Gagal Keduanya

Dengan membagi sisi horror ke Grace dan sisi action ke Leon terasa malah game ini jadi hilang identitas. Di sisi Grace, ada beberapa bagian yang menyeramkan memang, tapi kebanyakan hanya jumpscare saja — dan bagaimana membuat pengalaman Grace jadi seram hadir di resources yang terbatas.
Sebaliknya, di Leon dari sisi actionnya sebenarnya cukup baik, tapi kontennya tidak cukup panjang dan alhasil malah membuat gameplay jadi kurang berkembang. Malah, konten Leon sendiri malah terasa bloat dimana ada banyak hal yang bisa dilakukan tapi tidak punya impact besar yang membuat saya berpikir jadi sia-sia dan percuma. Jika saja beberapa persen konten yang ada di Leon dimodifikasi dan diberikan ke Grace mungkin bisa lebih baik lagi.
Capcom juga membuat Resident Evil Requiem seperti membangun rumah dengan menggabungkan blueprint dari game-game sebelumnya, tidak sadar jika blueprint yang hadir kurang cocok satu sama lain. Contoh besarnya adalah antagonis yang hadir di Resident Evil Requiem. Mereka saya akui cukup seram dan karismatik, tapi ada satu hal yang membuat saya sering berpikir yakni bagaimana para villain yang ada tidak membuat saya clicked.
Para villain yang hadir benar-benar bisa diganti dan bahkan jika tidak ada mereka pun rasanya game ini tidak berbeda sangat jauh. Tentunya saya tidak bisa memberikan spoiler, tapi bisa saya yakinkan bahwa mereka adalah villain yang paling “lemah” dari sisi penyajian dibandingkan game-game sebelumnya dan sangat mengecewakan.
AI B.O.W dan Variant Yang Hadir Memuaskan

Tapi satu hal yang cukup positif hadir di zombie dan B.O.W yang ada di Resident Evil Requiem. Bagaimana masing-masing zombie yang punya karakter mereka sendiri dan masih ingat atau punya memori ketika masih hidup membuat kita sebagai player jadi semakin takut.
Mereka masih diambang mati dan hidup dan sebagai Grace yang harus terpaksa menembak kepala mereka ada beban moral yang berbeda. Capcom berhasil membuat zombie yang hadir tidak generik, tapi punya identitas mereka sendiri. Termasuk juga B.O.W yang hadir dan sayangnya tidak bisa saya sebutkan karena kalian harus merasakannya sendiri, mereka punya “otak” dan “pikiran” sendiri yang membuat permainan sangat fun.
Tapi sayangnya untuk bossfight… agak mengecewakan. Ya, beberapa bossfight yang hadir bahkan terasa semuanya hampir seperti gimmick fight yang sebenarnya bukan masalah, tapi jika hampir setengahnya adalah gimmick fight jadi membosankan.
[BACAJUGA]Bandingkan dengan bossfight yang hadir di RE8 Village dan RE4 Remake, Capcom berhasil homerun disana yang mana membuat tiap fight jadi makin seru. Di RE Requiem sayangnya tidak seperti itu dan malah jadi terasa slog yang membuat saya merasa ingin cepat-cepat selesai saja.
Kesimpulan
Resident Evil Requiem adalah game horror yang punya karakteristik Resident Evil kuat, tapi sayangnya masih ada belenggu identitas yang mengikat, membagi dua jenis Resident Evil jadi satu membuat mereka kehilangan arah.
Replayability yang sangat kuat seperti game RE sebelumnya dan penuh fanservice juga nods kepada game klasik, dirasa Resident Evil Requiem butuh satu hal penting yang ada di video game yaitu pacing. Sangat disayangkan karakter-karakter keren yang hadir seperti Grace dan para antagonis yang ada, kekurangan waktu untuk membuat karakter mereka lebih kokoh. Seandainya Capcom membuat para karakter ini lebih polished, ini mungkin jadi salah satu game RE terbaik yang rilis belakangan ini di serialnya.
Masih kurang mengerti bagaimana dari sisi mainline games, Capcom berhasil critical hit di Resident Evil 7 dan Resident Evil 8 (ya, RE8 adalah game yang menurut saya sangat oke), tidak memanfaatkan pacing yang bagus di Resident Evil Requiem, membuat game ini seperti game horror generik dengan bumbu RE saja.
Kesimpulan Review
Resident Evil Requiem
- (+) KELEBIHAN
- Bermain sebagai Grace sangat memuaskan dan horror
- Rhodes Hill Clinic punya desain yang sangat oke
- Variant B.O.W dan zombies yang hadir cukup baik
- Replayability yang oke, cocok bagi kalian pecinta NG+ dan speedrunner
- (-) KEKURANGAN
- Pacing yang kurang baik dari sisi story
- Karakter kurang polished dari sisi character building
- Ada beberapa sesi “kejutan” yang malah membuat bingung atau kecewa
- Cast yang kecil tidak dimanfaatkan untuk character depth
- Armory senjata karakter yang tidak seimbang

