



Gelombang restrukturisasi di tubuh Ubisoft kembali memakan korban. Kali ini, publisher asal Prancis tersebut resmi menutup Ubisoft Halifax, studio yang berbasis di Kanada, tak lama setelah tim di sana berhasil membentuk serikat pekerja.
Informasi ini dikonfirmasi Ubisoft melalui pernyataan kepada GamesIndustry. Penutupan tersebut berdampak langsung pada 71 karyawan, yang kini harus menghadapi awal tahun 2026 dengan mencari peluang kerja baru. Ubisoft Halifax sendiri bukanlah studio kecil atau baru. Studio ini telah beroperasi selama sekitar 15 tahun, diakuisisi Ubisoft pada 2015, dan selama ini menangani berbagai proyek mobile untuk IP besar seperti Assassin’s Creed dan Rainbow Six.
Solidarity with the workers of Ubisoft Halifax.
— Avi Lewis (@avilewis) January 7, 2026
Just weeks after they formed the company’s first union in North America, Ubisoft has shut down the shop rather than bargain in good faith. 71 talented folks thrown out of work.
Outrageous!
Ubisoft has taken millions in public…
Yang membuat situasi ini menuai sorotan adalah waktu penutupannya. Baru dalam pekan yang sama, tim Ubisoft Halifax mengumumkan bahwa serikat pekerja mereka—yang menjadi serikat buruh pertama di Ubisoft wilayah Amerika Utara—resmi mendapatkan pengakuan setelah lebih dari enam bulan melalui proses panjang dan birokrasi. Meski demikian, Ubisoft menegaskan bahwa penutupan studio tersebut tidak berkaitan dengan pembentukan serikat, melainkan bagian dari langkah efisiensi yang lebih luas.
Dalam pernyataan resminya, Ubisoft menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir perusahaan telah melakukan berbagai upaya untuk merampingkan struktur internal, meningkatkan efisiensi operasional, dan menekan biaya.

“Sebagai bagian dari proses tersebut, Ubisoft mengambil keputusan sulit untuk menutup studio Halifax. Sebanyak 71 posisi terdampak. Kami berkomitmen memberikan dukungan penuh kepada para karyawan yang terdampak, termasuk paket pesangon yang komprehensif serta bantuan karier tambahan,” tulis pihak Ubisoft.
Baca ini juga :» Ubisoft Kena Hacked, Rainbow Six Siege Kena Dampak Paling Besar!
» FX Resmi Angkat Serial “Far Cry”, Adaptasi Yang Ambisius?
» Assassin's Creed Shadows Overperforming Menurut Ubisoft, Untung Besar!
» Far Cry Dikabarkan Akan Mendapatkan Adaptasi TV Show, Akan Jadi Anthology?
» Dicancel! Star Wars Outlaws 2 Gagal Digarap Setelah Penjualan Turun
» Avatar: Frontiers of Pandora Dapatkan Mode 3rd Person, Ubisoft Akhirnya Dengarkan Fans
» Ubisoft Tegaskan Adanya Microtransactions di Game Single Player Buat Pengalaman Gaming Makin Seru
» Sukses Rilis Clair Obscur: Expedition 33, Rupanya Sandfall Interactive Berisikan Ex-Ubisoft!
Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan yang sebelumnya sudah disampaikan oleh CEO Ubisoft, Yves Guillemot. Pada Oktober 2024, ia menyatakan bahwa perusahaan perlu “mengembalikan tingkat kreativitas dan inovasi” yang menjadi fondasi kesuksesan Ubisoft—sebuah target yang, ironisnya, turut ditempuh lewat pemangkasan tenaga kerja dalam skala besar.
Bahkan hingga Oktober 2025, gelombang pengurangan karyawan masih berlanjut. Studio Massive Entertainment, pengembang Star Wars Outlaws, menerapkan apa yang disebut sebagai voluntary career transition program, yang pada praktiknya menjadi bentuk PHK tidak langsung.
Di sisi lain, restrukturisasi Ubisoft juga diiringi dengan masuknya investasi besar dari raksasa teknologi Tiongkok, Tencent. Investasi tersebut melahirkan entitas baru bernama Vantage Studios, anak perusahaan yang kini memegang kendali atas IP-IP utama Ubisoft seperti Assassin’s Creed—sebuah langkah yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai “wajah baru” Ubisoft di masa depan.
Penutupan Ubisoft Halifax pun menjadi satu lagi tanda bahwa industri game global tengah berada dalam fase penuh ketidakpastian, di mana efisiensi bisnis kerap berbenturan dengan stabilitas tenaga kerja dan dinamika internal perusahaan.