



Rewatch anime favorit biasanya jadi momen nostalgia, ngingetin lagi kenapa sebuah seri dulu terasa begitu spesial. Tapi buat sebagian penonton Attack on Titan, momen rewatch justru berujung ke hal yang tidak terduga: salah fokus gara-gara desain karakter Titan yang terasa familiar.
Baca ini juga :» Streamer Mr. Trashdubbing Kena Rujak Netizen Karena Isu Dengan Vtuber
» Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Meta AI Umumkan Fitur langganan Berbayar
» Gak Dapet Charizard, Pria Florida Ini Malah Bobol Toko Pokémon Pakai Gergaji Mesin
» Tara Arts Curhat di Media Sosial, Komunitas Kreator Indonesia Beri Dukungan
» CBN Fiber Hadirkan Koneksi Super Cepat di Comic Frontier 22 ICE BSD, Intip Keseruannya!
» Comic Frontier 22: Pesta Kreativitas Budaya Pop Terbesar Siap Digelar Mei 2026!
» Parfum “Wangi Bra” dari Jepang Viral, Aneh Tapi Nyata?
» Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Finis P3 di Moto3
Hal ini ramai dibicarakan di media sosial setelah sebuah unggahan memperlihatkan dua Titan di Attack on Titan yang secara visual dianggap mirip dengan dua petinggi Indonesia. Unggahan tersebut langsung menuai reaksi netizen, terutama mereka yang sedang atau baru saja melakukan rewatch serial karya Hajime Isayama tersebut.
Dalam salah satu adegan berlatar hamparan alam terbuka, terlihat dua Titan dengan ekspresi wajah yang cukup menonjol. Bukan karena horornya, tapi karena raut muka keduanya dianggap punya kemiripan dengan figur publik di Indonesia.
Mulai dari bentuk wajah, potongan rambut, hingga ekspresi datar yang khas, netizen merasa sulit untuk “unsee” kemiripan tersebut setelah menyadarinya. Alhasil, adegan yang seharusnya terasa mencekam justru berubah jadi bahan candaan.
Beberapa komentar bahkan menyebut bahwa sejak melihat unggahan tersebut, mereka tidak bisa lagi menonton Attack on Titan dengan fokus penuh ke cerita. Setiap kemunculan Titan tersebut, perhatian langsung teralihkan.
Sebenarnya, kejadian seperti ini bukan hal baru di dunia popkultur. Banyak karakter anime, film, atau game yang secara tidak sengaja dianggap mirip dengan tokoh dunia nyata. Terlebih lagi, Attack on Titan memang dikenal punya desain karakter yang realistis, dengan proporsi wajah dan ekspresi yang terasa “manusiawi”.
Gaya visual ini yang kemudian membuka ruang bagi penonton untuk melakukan asosiasi liar, apalagi jika sudah dibumbui konteks lokal. Begitu sebuah perbandingan viral muncul, persepsi penonton pun ikut berubah.
Terlepas dari kemiripan yang dianggap menggelitik ini, Attack on Titan tetaplah salah satu anime paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir. Cerita yang kompleks, tema politik dan kemanusiaan yang berat, serta pembangunan dunianya tetap solid, baik ditonton pertama kali maupun saat rewatch.
Namun, fenomena ini menunjukkan satu hal menarik: cara penonton menikmati sebuah karya bisa berubah seiring konteks dan budaya yang melekat pada mereka. Apa yang bagi sebagian orang terasa lucu, bagi yang lain justru jadi distraksi permanen.
Kalau kamu sendiri gimana? Rewatch Attack on Titan masih bisa fokus ke ceritanya, atau justru ikut salah fokus gara-gara dua Titan ini?