



Sang G.O.A.T kembali jadi sorotan. Bukan karena trofi atau performa luar biasa di panggung turnamen, melainkan sikap tegasnya dalam menjaga integritas Ranked Match League of Legends.
Baca ini juga :» BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Malaysia, Siapa Menyusul?
» Dominasi Tim Indonesia di APAC Predator League 2026: BOOM Esports & REKONIX Sabet Gelar Runner-Up!
» Resmi, M8 World Championship Digelar di Turki, Jadi M Series Pertama di Eropa
» Punya Masalah Mental dan Hilang Arah, Kai Cenat Pilih Rehat dari Dunia Streaming
» Izin Serius, NAVI Bawa Ynot dari Filipina untuk Perkuat Roster MLBB
» PMPL ID Kembali Digelar, Buka Peluang Tim Baru Tembus Liga Profesional
» Monitor Idaman Pro Player! ASUS ROG Resmi Rilis Strix XG27AQNGV di Januari 2026
» ONIC Hampir Kepleset, Boostgate Bikin Swiss Stage M7 Panas Sejak Hari Pertama
Dalam sesi Solo Queue High Elo di server Korea, Faker secara terbuka melaporkan Feather, pemain dari ThunderTalk Gaming, yang satu tim dengannya. Feather diketahui bermain sebagai Rakan dan dinilai melakukan trolling, mulai dari tidak memberikan cover di momen krusial hingga akhirnya AFK dan meninggalkan permainan.
Menariknya, Faker tidak hanya melaporkan sekali. Ia menggunakan sistem in game report sebanyak dua kali untuk memastikan perilaku tersebut tercatat. Bagi Faker, tindakan seperti ini bukan sekadar soal kalah atau menang dalam Ranked Match, melainkan soal rasa hormat terhadap League of Legends dan pemain lain yang sama sama berjuang menaikkan peringkat.
Sikap ini sejalan dengan reputasi Faker yang selama bertahun tahun dikenal profesional, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas, baik di kompetisi resmi maupun Solo Queue.
Insiden ini kembali memanaskan isu klasik di Ranked Korea, di mana sejumlah oknum, termasuk pemain pro lintas region, kerap dianggap merusak kualitas permainan. Server Korea sendiri dikenal sebagai salah satu Solo Queue paling kompetitif di dunia, sehingga tindakan trolling atau AFK sering mendapat sorotan tajam dari komunitas.
Dengan nama besar Faker yang terlibat, perhatian publik pun langsung tertuju pada nasib Feather. Jika laporan tersebut terbukti valid, bukan tidak mungkin sanksi dari Riot Games akan dijatuhkan. Selain itu, konsekuensi dari pihak League of Legends Pro League juga bisa menanti, mengingat Feather merupakan pemain aktif di liga tersebut.
Kasus ini mempertegas pesan bahwa Ranked Match, khususnya di level tertinggi, bukan tempat untuk bermain main. Sikap Faker seolah mengingatkan bahwa status sebagai pemain pro justru membawa tanggung jawab lebih besar untuk memberi contoh yang baik.
Kini, komunitas menunggu langkah lanjutan dari Riot Games dan pihak terkait. Apakah hukuman berat perlu dijatuhkan demi menjaga sportivitas Ranked, atau cukup dengan sanksi ringan sebagai peringatan?