space
MANAGER AGE RATING RIOT GAMES KRITIK KOMDIGI TERKAIT IGRS
PC
1 Hari yang lalu

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Sebelum dihentikan sementara, kontroversi soal penerapan sistem rating gim di Indonesia kembali mencuat setelah salah satu petinggi Riot Games angkat bicara. Nic McConnell, Manajer Age Rating di Riot Games, menyampaikan kekhawatirannya soal infrastruktur IGRS di Indonesia yang menurutnya belum aman dan masih terlalu manual dalam menangani proses penilaian gim. Sebagai perusahaan besar yang menggarap judul populer seperti Valorant dan League of Legends, suara Nic tentu cukup diperhitungkan di industri.

Lewat unggahan di platform media sosial Bluesky, Nic menyoroti cara kerja IGRS yang disebut masih mengandalkan proses verifikasi manual menggunakan platform pihak ketiga. Ia menjelaskan bahwa, sejauh pengetahuannya, banyak materi yang dikirim pengembang untuk proses rating dicek melalui tautan Google Drive. Pola kerja seperti ini memunculkan kekhawatiran serius soal keamanan dan kerahasiaan data, karena file yang dikirim biasanya berisi video gameplay internal, build pengembangan, hingga aset yang belum dirilis ke publik. Jika sampai terjadi kebocoran, dampaknya tidak hanya sebatas spoiler konten, tapi juga bisa memicu kerugian finansial besar dan merusak strategi peluncuran gim.

Karena itu, Nic menyarankan pengembang dan penerbit gim untuk lebih selektif dalam mengirim materi ke IGRS. Ia menganjurkan agar mereka hanya mengirimkan cuplikan atau konten yang benar-benar relevan untuk proses penilaian rating, bukan seluruh aset atau build mentah yang terlalu sensitif. Dengan begitu, risiko kebocoran bisa ditekan, sekaligus tetap memenuhi kebutuhan regulator untuk menilai isi gim secara akurat. Saran ini pada dasarnya adalah kompromi sementara di tengah sistem yang belum ideal, supaya kedua pihak (seperti regulator dan developer) masih bisa berjalan tanpa terlalu banyak mengorbankan keamanan.

Menariknya, Nic tidak menembak langsung individu yang bekerja di balik IGRS. Ia justru mengapresiasi tim di sana sebagai orang-orang baik yang bekerja di bawah tekanan besar. Menurutnya, masalah utama bukan di sumber daya manusia, melainkan di sistem, infrastruktur, dan keterbatasan sumber daya. Tim yang kecil harus menangani banyak sekali judul dalam waktu singkat dengan dukungan teknologi yang belum memadai, sehingga proses jadi lambat, manual, dan rawan masalah teknis maupun kebocoran data.

Baca ini juga :

» Viral Isu Kebocoran Data, Komdigi Stop IGRS Sementara
» Wikimedia Diancam Blokir Oleh Komdigi Jika Tidak Mau Menuruti Pendaftaran PSE
» Patuhi PP Tunas, TikTok Hapus 780.000 Akun Anak Di Bawah 16 Tahun
» Komdigi Sebut YouTube dan Roblox Masih Belum Patuhi PP Tunas
» Kebocoran Data IGRS Spoilerin Game 007: First Light Dan Banyak Game Lain?
» Keamanan Data di IGRS Dipertanyakan, Besar Potensi Buruk?
» Komdigi Buka Forum Bareng Gamedev Indo Bahas Isu IGRS
» Steam Resmi Minta Maaf Mengenai Isu Rating Sistem IGRS

Dalam penjelasannya, Nic juga menyinggung pengalaman lembaga rating lain seperti ClassInd di Brasil. Ia menggambarkan situasi di sana mirip: lembaga rating dipaksa memproses banyak gim dalam waktu singkat dengan sistem yang belum sepenuhnya modern. Perbandingan ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia bukan kasus tunggal, tetapi bagian dari problem yang juga muncul di negara lain ketika infrastruktur digital regulator tidak berkembang secepat industrinya. Namun, bagi Indonesia, sorotan dari sosok global seperti perwakilan Riot Games membuat isu ini terasa lebih mendesak.

Kritik ini muncul di tengah kekacauan soal rating gim dewasa di Steam yang sempat salah dilabel sebagai konten ramah anak, sehingga menimbulkan keresahan dan kebingungan. Kasus itu menjadi contoh nyata betapa pentingnya sistem rating yang rapi, transparan, dan didukung teknologi kuat, karena kesalahan label bisa memukul balik reputasi industri dan membuat regulator kehilangan kepercayaan publik. Dalam konteks ini, komentar Nic bisa dibaca sebagai alarm dan sekaligus undangan bagi pembuat kebijakan untuk lebih serius membenahi IGRS, mulai dari mekanisme pengiriman dan penyimpanan aset hingga sistem verifikasi yang lebih aman dan terotomatisasi.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan cukup jelas: niat baik dan kerja keras tim di lapangan tidak akan cukup jika tidak ditopang sistem yang modern dan aman. Jika Indonesia ingin ekosistem gimnya dipandang kredibel di mata pelaku industri global, isu keamanan data, efisiensi proses, dan pembaruan infrastruktur rating harus diperlakukan sebagai prioritas, bukan sekadar pekerjaan rumah jangka panjang. Kritik dari Riot Games ini mungkin terasa tajam, tapi bisa jadi momentum untuk mendorong transformasi sistem rating gim di tanah air agar lebih siap menghadapi arus judul baru yang terus mengalir setiap hari.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close