



Nongshim RedForce resmi jadi juara VCT Masters Santiago 2026 setelah menumbangkan Paper Rex di Grand Final dengan skor telak 3-0. Hasil ini bukan cuma soal kemenangan, tapi juga menunjukkan dominasi yang jarang terlihat di panggung internasional Valorant.
Baca ini juga :» Nggak Ada Tim Full Indo Lagi? Rekonix Memutuskan untuk Disband
» NT RRQ! Divisi Valorant Tersingkir dari VCT Pacific Stage 2 2026
» Timnas MLBB Women Amankan Slot ke Global Esports Games 2026 di Los Angeles!
» Wujudkan Mipim Pro Player Anak Muda, realme 828 Gaming Tournament Bertepuk Tema “Make Passion Real”
» ASUS Prime AP304: Casing PC ATX Panoramik Keren dengan Sirkulasi Udara Optimal
» Baloyskie Resmi "Pulang" ke ONIC: Mengisi Jajaran Coaching Staff ONIC ID
» Vtuber Bikin PC Desktop Ditenagai 200 Baterai AA Sukses Booting ke Hannah Montana Linux & Main FreeDoom
» ASUS Zenni Claw: AI Agent Praktis yang Mengubah Produktivitas dan Aktivitas Harian
Masuk ke pertandingan, banyak yang menjagokan Paper Rex karena pengalaman dan gaya bermain agresif mereka yang selama ini sering merepotkan tim-tim besar. Tapi di final ini, Nongshim RedForce justru tampil jauh lebih siap. Mereka langsung mengontrol permainan sejak awal seri dan tidak memberi ruang bagi PRX untuk berkembang.
Map pertama masih berjalan cukup ketat dengan skor 13-11, tapi setelah itu pertandingan berubah jadi sepihak. Nongshim tampil sangat disiplin, baik dari segi eksekusi strategi maupun duel individu. Map kedua ditutup dengan skor 13-4, lalu dilanjutkan dominasi total di map ketiga dengan skor 13-3. PRX yang biasanya dikenal dengan permainan cepat dan kreatif justru terlihat kehilangan arah.
Salah satu faktor utama kemenangan Nongshim adalah performa individu yang konsisten sepanjang seri. Xross tampil solid sebagai ujung tombak tim, sementara Dambi jadi penggerak utama dengan permainan agresif yang efektif. Kombinasi keduanya membuat pertahanan PRX terus runtuh, bahkan sebelum mereka sempat membangun momentum.
Di sisi lain, Paper Rex bukan tanpa perlawanan sepanjang turnamen. Mereka berhasil menembus Grand Final lewat jalur lower bracket dan sempat mengalahkan beberapa tim kuat di perjalanan. Namun di laga puncak, mereka berhadapan dengan tim yang secara performa memang sedang berada di level yang berbeda.
Yang membuat kemenangan ini semakin menarik adalah status Nongshim RedForce sebagai tim yang belum lama naik ke level tertinggi. Mereka bukan tim lama yang sudah mapan di scene internasional, tapi mampu langsung menembus puncak dan menjadi juara Masters. Ini menjadikan mereka salah satu cerita paling mengejutkan di musim kompetitif tahun ini.
Kemenangan ini juga memperkuat dominasi region Pacific di kancah internasional. Dalam beberapa turnamen terakhir, tim-tim dari region ini terus menunjukkan peningkatan signifikan, dan Nongshim RedForce kini jadi simbol kekuatan baru yang patut diperhitungkan.
Hasil akhir Grand Final ini cukup jelas menggambarkan jalannya pertandingan. Bukan sekadar Paper Rex yang tampil di bawah performa, tapi Nongshim RedForce benar-benar bermain hampir tanpa celah. Jika mereka bisa menjaga konsistensi ini, bukan tidak mungkin kita sedang melihat awal dari kekuatan baru di scene kompetitif Valorant.