space
BOCORAN DARI JASON SCHREIER UNGKAP ALASAN PLAYSTATION HENTIKAN PORT GAME KE PC
PS5
Senin, 22 Jun 2026

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Sony sepertinya bener‑bener balik ke akarnya: game single player naratif andalan mereka bakal dikunci di ekosistem PlayStation, sementara yang lebih cocok live service dan multiplayer tetap diarahkan ke model rilis lintas platform PS5 dan PC. Buat gamer PC yang sempat berharap tren port first party berlanjut, kabar ini cukup bikin patah hati, tapi dari sisi strategi bisnis dan hardware Sony, keputusan ini justru terasa sangat masuk akal.

Pemicunya adalah pernyataan internal dari Hermen Hulst yang dibocorkan Jason Schreier: di sebuah townhall beberapa minggu lalu, Hulst menjelaskan ke staf bahwa game naratif single player mereka akan jadi eksklusif PlayStation saja. Alasannya cukup to the point: rilis PC selama ini dianggap tidak konsisten, uang yang dihasilkan tidak sebanding dengan effort, dan Sony ingin IP mereka tetap selaras dengan platform mereka sendiri. Informasi ini dikonfirmasi lagi ke dua orang yang ikut mendengar langsung, jadi ini bukan sekadar salah kutip forum.

Ini langsung “ngebanting” narasi sebelumnya soal rilis PC yang katanya akan dilihat case by case. Secara publik, bos PlayStation seperti Nishino masih pakai bahasa aman dengan kalimat yang kesannya fleksibel, tapi di balik layar, arahnya jauh lebih tegas: game single player naratif andalan bukan lagi komoditas yang akan mereka sebarkan ke platform lain beberapa tahun kemudian. Makanya di thread diskusi, begitu Schreier muncul dan bilang tidak ada case by case di sini, banyak user yang langsung bilang kalau strategi Sony sekarang sebenarnya tidak ambigu sama sekali.

Di sisi lain, game multiplayer dan judul yang diarahkan jadi layanan jangka panjang masih akan punya jalur ke PC. Sony sadar bahwa judul model begini butuh ekosistem besar, crossplay, dan umur produk yang panjang, dan itu jauh lebih masuk akal kalau mereka tidak dikurung di satu konsol saja. Jadi buat proyek seperti game fighting berbasis Marvel dari Arc System Works, para member forum yakin potensi suksesnya tetap tinggi karena kombinasi nama besar IP, reputasi developer, dan jangkauan multiplatform.

Diskusinya juga nyentuh soal kenapa Sony “ngegas” lagi ke hardware di 2026, ketika banyak orang merasa lebih logis mengejar uang lewat penjualan game di PC. Ada yang menyorot bahwa margin dari potongan penjualan di PlayStation Store (PSN cut) masih jauh lebih menggiurkan daripada potensi revenue tambahan dari PC, bahkan jika rilisnya day one. Selama jutaan pemain tetap belanja digital di dalam ekosistem PSN, Sony punya alasan kuat untuk mempertahankan konsol sebagai mesin utama buat menghidupkan bisnis mereka.

Kekhawatiran lain datang dari masalah harga dan masa depan generasi baru. Beberapa user mengaku tidak habis pikir kenapa masih ngotot jual konsol mahal di situasi sekarang, apalagi di wilayah yang basis PC‑nya kuat dan daya beli buat konsol relatif rendah. Namun ada juga yang mengingatkan bahwa PS5 tidak akan langsung ditinggal ketika PS6 hadir; cross‑gen akan memastikan PS5 tetap relevan bertahun‑tahun, dan Sony akan terus berusaha menurunkan biaya produksinya.

Dari sisi desain hardware, kabarnya PS6 direncanakan sejak awal supaya lebih murah diproduksi, membuka peluang harga yang bisa lebih kompetitif meski kondisi industri chip dan memori lagi tidak bersahabat. Dalam skenario ini, Sony butuh pembeda yang kuat dibanding PC, dan eksklusivitas game naratif kelas atas adalah senjata paling jelas yang mereka punya. Tidak heran ada komentar bahwa baik Sony maupun Xbox sama‑sama gelisah soal masa depan konsol mahal, dan akhirnya menjadikan eksklusivitas sebagai tameng untuk bikin produk mereka tetap terlihat “wajib punya”.

Baca ini juga :

» Jadi Gorengan! Statement PS Stop Produksi Game Fisik Jadi Bahan Parodi Brand Lain
» Shuhei Yoshida Bagikan "Review" Experiencenya Mencoba Steam Machine
» Hideo Kojima Peramal Sejak Dulu, Sudah Prediksi Masalah Game Fisik PlayStation
» Setelah 20 Tahun, PlayStation Mengumumkan Penutupan PlayStation Store Untuk PS3 & PSVita
» Xbox Uji Coba Langkah Sony Buat Beralih Dari Game Fisik Ke Digital
» Sony Mengumumkan Produksi Game Fisik Mereka Akan Berakhir Di Tahun 2028
» Sony PlayStation Masih Percaya Dengan Potensi Game Live Service!
» SanDisk Rilis SSD Baru, Harganya Setara Buat Beli 5 PlayStation 5?!

Di tengah perdebatan, muncul juga perspektif soal PC sebagai kompetitor serius yang mulai menggerus pengguna potensial konsol. Ada member yang berpendapat, selama game single player besar mereka tidak jadi bencana finansial, kecil kemungkinan Sony akan kembali rutin merilisnya di PC. Harapannya mungkin tinggal di judul‑judul lama, di mana sebagian fans merasa masuk akal kalau game 15–20 tahun lalu dibawa ke PC demi preservasi dan akses jangka panjang, apalagi dengan benefit setting grafis lebih tinggi dan mod.

Menariknya, tidak semua orang sepakat bahwa PC dan konsol itu pasar yang benar‑benar saling memakan. Ada yang bilang, sebagian besar pemain konsol tetap lebih pilih kenyamanan dan kesederhanaan, sementara pengguna PC hardcore akan tetap stay di ekosistem seperti Steam apa pun yang terjadi. Dalam pandangan ini, beberapa eksklusif first party saja tidak cukup kuat untuk membuat pemain PC pindah, sehingga keputusan mengunci game naratif di PS lebih banyak soal memperkuat value konsol daripada benar‑benar “merebut” pasar PC.

Buat gamer PC yang sudah mulai menikmati port seperti God of War, Horizon, atau Spider‑Man, ini terasa seperti pintu yang pelan‑pelan ditutup lagi. Tapi buat Sony, terutama di generasi di mana biaya pengembangan game AAA makin gila‑gilaan dan penjualan hardware makin menantang, menjaga identitas PlayStation lewat eksklusiv single player tampaknya dianggap lebih penting daripada mengejar uang tambahan yang hasilnya tidak seberapa di PC. Gamer yang pengin menikmati cerita sinematik ala PlayStation tampaknya harus siap menerima satu kenyataan lama yang kembali diulang: kalau mau main day one, ya harus punya konsolnya

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close