



Sony Interactive Entertainment sepertinya lagi serius banget ngurus pasar Jepang buat PS5, dari strategi harga sampai cara mereka dorong ekosistem game dan layanan digitalnya supaya makin rame di sana.
Sony to continue releasing live service games despite setbacks https://t.co/5ao4Os7YDv
— Gadgets 360 (@Gadgets360) June 29, 2026
Di wawancara terbaru, Hideaki Nishino yang sekarang jadi presiden sekaligus CEO SIE cerita kalau bisnis game PlayStation baru aja tembus rekor, termasuk penjualan PS5 yang tembus angka 16 juta unit dalam setahun dan performa PlayStation Plus yang terus naik. Dia bilang ini bukan hasil kerja satu tahun, tapi buah dari pondasi yang mereka bangun selama bertahun‑tahun, dari sisi hardware, layanan online, sampai dukungan konten dari first party dan third party. Nishino juga menyorot beberapa judul yang lagi dibanggakan, kayak Ghost of Yōtei dan Marathon yang dapat respons positif dari pemain.
Hal yang paling bikin heboh tentu langkah mereka merilis PS5 Digital Edition versi khusus Jepang dengan harga yang jauh lebih rendah dibanding model multi‑bahasa. Nishino jelasin kalau sebelumnya sempat terjadi fenomena PS5 dari Jepang diekspor ke luar negeri karena selisih kurs, dan itu bikin distribusi ke gamer lokal jadi nggak ideal. Makanya mereka bikin model yang hanya bisa dipakai dengan akun Jepang, supaya bisa kasih harga unik khusus pasar domestik dan memastikan mesin ini benar‑benar nyampe ke tangan gamer Jepang. Harga sekitar 55 ribu yen untuk versi digital khusus Jepang ini diakui Nishino sebagai bentuk investasi strategis: secara hitung‑hitungan mungkin nggak manis di awal, tapi rencananya dikompensasi lewat keseluruhan bisnis PlayStation.
Menariknya, Nishino bilang mereka nggak menganggap ada satu negara yang diistimewakan dan yang lain dianaktirikan, tapi dari sisi alokasi dana memang Jepang lagi jadi fokus karena mereka pengen nambah jumlah pengguna PlayStation di sana dan menghidupkan kembali komunitas lokal. Contoh lain perhatian ke gamer Jepang adalah program State of Play Japan yang mereka jalankan, lengkap dengan kemunculan Nishino sendiri untuk ngejelasin PS5 dan ngasih konteks soal kenapa sekarang waktunya orang melirik PS5 lagi di harga baru. Dia sadar banyak orang yang sudah punya PS5 paham betul value‑nya, tapi masih banyak calon pembeli yang belum benar‑benar ngerti apa bedanya PS5 dan apa yang bikin konsol ini spesial.
Di sisi layanan, PlayStation Plus jadi pilar penting yang terus mereka poles. Sejak transformasi besar tahun 2022 dengan tiga tier—Essential, Extra, dan Premium—Nishino bilang kalau pengguna tier atas, yaitu Extra dan Premium, sekarang sudah menyumbang sekitar 40 persen total user. Di Jepang, tren ini bahkan lebih kencang karena fitur cloud streaming di tier Premium ternyata laku keras sampai mereka harus nambah kapasitas server. Game katalog Plus diisi campuran indie dan AAA, dan mereka pakai strategi menarik minat IP besar dengan cara masukin game lama menjelang rilis game baru, misalnya Biohazard Village yang dimasukkan ke katalog sebelum peluncuran Biohazard Requiem.
Nishino juga bahas soal PlayStation Portal yang ternyata performanya cukup oke. Dia nyeritain kalau perangkat ini lahir dari banyak debat internal: dari ukuran layar, bentuk kontroler, sampai gimana orang bakal pakai device ini di rumah atau di luar. Portal dan fitur cloud streaming dianggap bagian dari eksperimen mereka buat menyesuaikan diri dengan perubahan gaya hidup, supaya orang bisa main PS5 dengan cara yang lebih fleksibel tanpa ninggalin konsep utama konsol. Data pemakaian cloud di Portal juga naik cepat, dengan pengguna Januari 2026 meningkat sekitar 1,5 kali dibanding Desember sebelumnya, dan Nishino merasa itu tanda kalau arah ini cukup tepat.
Baca ini juga :
» Hideo Kojima Peramal Sejak Dulu, Sudah Prediksi Masalah Game Fisik PlayStation
» Setelah 20 Tahun, PlayStation Mengumumkan Penutupan PlayStation Store Untuk PS3 & PSVita
» Xbox Uji Coba Langkah Sony Buat Beralih Dari Game Fisik Ke Digital
» Sony Mengumumkan Produksi Game Fisik Mereka Akan Berakhir Di Tahun 2028
» Bocoran Dari Jason Schreier Ungkap Alasan PlayStation Hentikan Port Game Ke PC
» SanDisk Rilis SSD Baru, Harganya Setara Buat Beli 5 PlayStation 5?!
» Catat Jadwal Gaming Showcase Ini, Mulai Dari PlayStation State of Play Sampai Xbox Showcase!
» Mulai 20 Mei, Harga PlayStation Plus Akan Naik Di Berbagai Wilayah Akibat Ekonomi Global.
Soal game live service, Nishino ngaku kalau perjalanan mereka penuh trial and error: ada judul yang meledak seperti Helldiver 2, ada juga yang kurang sukses seperti Concord, dan sekarang Marathon jadi contoh kasus yang lumayan positif. Mereka melihat live service sebagai tipe konten global yang butuh player base besar, jadi wajar kalau fokusnya di PS5 dan PC sekaligus, dan model ini akan terus dilanjutkan. Selain mengangkat IP pihak lain seperti Genshin dengan kampanye diskon mata uang in‑game buat pembeli PS5 baru, mereka juga siap meluncurkan judul live service sendiri seperti MARVEL Tōkon: Fighting Souls dan berharap game ini bisa jadi hit berikutnya.
Terkait kebijakan rilis di PC, Nishino menegaskan kalau tiap judul bakal dipilih platformnya berdasarkan karakter game tersebut. Single player buatan first party cenderung fokus mempertajam pengalaman di PlayStation dulu, sementara live service lebih diarahkan ke kombinasi PS5 dan PC supaya player base‑nya makin lebar. Intinya, mereka mau setiap game tampil di platform yang bisa memaksimalkan pengalaman bermainnya.
Di luar hal teknis dan bisnis, wawancara juga nunjukin sisi pribadi Nishino sebagai gamer yang tumbuh bareng sejarah game. Dia cerita masa kecil main Famicom di rumah teman karena nggak punya sendiri, nostalgia main Spartan X dan Famista bareng saudara, sampai pengalaman pertama nyemplung ke MMO lewat FFXI di PS2. Belakangan dia sempat ngebut main DLC Astro Bot yang katanya punya stage super sulit sampai dia butuh tiga hari hanya untuk menamatkan satu level dan sempat bercanda ngirim pesan ke sang developer karena menurutnya tingkat kesulitannya agak keterlaluan.
Menarik juga pandangan Nishino soal masa depan game dan hardware. Dia masih yakin banget kalau konsol fisik belum akan hilang dalam waktu dekat karena ada nilai penting dari pengalaman sederhana: nyalakan mesin dan langsung main. Menurutnya, game memang berisiko makan banyak jam hidup seseorang, tapi kalau kontennya tepat, itu adalah waktu yang sepadan dengan pengalaman yang didapat. Karena gaya hidup orang makin beragam, mereka ingin menjawab kebutuhan baru dengan cara bikin form faktor dan cara bermain yang juga lebih variatif, entah lewat TV di ruang tamu, monitor dan speaker khusus, ataupun perangkat seperti PlayStation Portal.
Nishino menutup dengan pesan bahwa PlayStation akan terus bikin mesin game baru dan bereksperimen, sambil menggandeng para kreator, media, dan komunitas untuk sama‑sama menjaga industri game tetap tumbuh. Dari cara dia ngomong, kerasa kalau fokus mereka ke pasar Jepang bukan cuma soal angka penjualan, tapi juga soal menjaga budaya main game di sana tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!