



Assassins Creed Black Flag Resynced baru aja rilis dan secara umum disambut hangat sama gamer, terutama soal grafis yang dipoles ulang, combat yang lebih halus, dan kontrol yang terasa lebih modern dibanding versi originalnya. Di Steam, review dalam bahasa Inggris bahkan masuk kategori Mostly Positive, jadi dari sisi kualitas remake, banyak yang setuju kalau petualangan jadi bajak laut bareng Edward Kenway ini balik lagi dengan tampilan dan feel yang jauh lebih enak dimainkan di era sekarang. Buat gamer yang dulu sempat main di era PS3 atau PS4, versi Resynced ini rasanya kayak reunion yang dibikin lebih cakep dan lebih responsif.
Ubisoft responds to criticism over Assassin's Creed Black Flag Resynced's $80 worth of DLC
— Gaming Hall of Fame (@GamingH0F) July 12, 2026
The company says the extra content is "never a requirement to enjoy or complete the game" pic.twitter.com/I7PZfobT8r
Tapi di balik semua pujian itu, ada satu hal yang langsung jadi bahan panas di komunitas, yaitu soal microtransaction dan DLC yang nilainya kalau dijumlahin sekitar 80 dolar atau setara lebih dari satu juta rupiah kalau dikonversi ke rupiah zaman sekarang. Banyak pemain yang kaget karena begitu masuk game, terutama yang beli Deluxe Edition, langsung disambut etalase konten tambahan yang harganya nyaris nyamain atau bahkan ngalahin harga game itu sendiri. Buat gamer yang sudah capek sama model bisnis kayak gini, wajar kalau reaksi awalnya adalah rasa sebal dan ngerasa dibohongi.
Di halaman Steam, kalau kamu pakai filter All Languages, status review game ini jatuhnya Mixed, alias campur antara pujian dan kritik. Isi review negatifnya lumayan pedas, bukan cuma soal performa atau masalah teknis, tapi terutama mengarah ke microtransaction dan paket DLC yang langsung nongol dari hari pertama rilis. Padahal, item kosmetik dan konten tambahan berbayar kayak gini memang sudah jadi bagian seri Assassins Creed sejak era Origins, tapi masalahnya Black Flag original dulu ga punya skema monetisasi sekasar ini, jadi banyak pemain ngerasa remake-nya datang dengan “beban” baru yang ga sesuai nostalgia.
Beberapa komentar pemain bahkan sangat spesifik soal angka. Ada yang nulis kalau mereka sudah beli Deluxe Edition, tapi begitu masuk game langsung dikasih lihat konten DLC senilai sekitar 84,91 dolar yang belum mereka miliki, dan itu bikin mereka nanya, apa gunanya beli edisi mahal kalau tetap dibombardir iklan konten tambahan. Ada juga yang cerita mereka bayar sekitar 60 poundsterling buat Deluxe Edition, hanya untuk kemudian ditawari lagi DLC senilai 76 poundsterling di hari pertama. Intinya, banyak yang merasa kalau mereka beli versi “lengkap”, tapi ternyata masih ada tembok konten tambahan di balik paywall.
Nada kecewa itu makin kerasa di review lain yang bilang mereka merasa bodoh karena mengira Deluxe Edition berarti paket full game tanpa tambahan lagi. Mereka sempat berharap Ubisoft sudah belajar dan berubah, tapi kenyataannya mereka merasa langsung ditampar dengan daftar panjang DLC day one yang totalnya lebih dari 75 poundsterling. Kritik-kritik ini ujungnya jadi semacam curhat kolektif gamer yang capek sama monetisasi agresif di game single player, apalagi buat judul klasik yang dihidupkan lagi lewat remake.
Melihat gelombang review negatif ini, Ubisoft ga diem aja. Mereka turun langsung ke kolom review Steam dan membalas beberapa komentar pemain yang protes. Di salah satu respons resminya, mereka bilang kalau mereka baca semua feedback sejak peluncuran dan mengucapkan terima kasih karena komunitas masih peduli banget sama Black Flag Resynced. Mereka menegaskan satu hal utama, yaitu bahwa Standard Edition sudah berisi pengalaman lengkap, dari semua misi, semua pulau, seluruh cerita, sampai keseluruhan dunia game tanpa ada bagian yang “disandera” di balik konten berbayar.
Ubisoft juga menekankan bahwa semua paket tambahan yang dijual adalah konten opsional buat pemain yang memang menginginkannya, bukan sesuatu yang wajib buat bisa menikmati atau menamatkan game. Dari sudut pandang mereka, microtransaction dan DLC ini lebih ke arah ekstra kosmetik dan tambahan bagi pemain yang mau invest lebih jauh, bukan syarat buat menikmati cerita utama. Mereka janji bakal terus dengerin masukan pemain sambil game ini terus dijalankan, meski di mata banyak gamer, luka akibat monetisasi agresif ini sudah terlanjur kebuka.
Baca ini juga :
» Pasca Rilis AC Black Flag Resynced, Ubisoft Malah Layoff 51 Karyawannya. Kenapa, Ya?
» Ubisoft Dirumorkan Menyiapkan Far Cry 7 Untuk Tahun 2027
» Berburu Harta Karun ala Edward Kenway, Ubisoft Siapkan Hadiah 500.000 Dolar?!
» Assassin's Creed: Invictus Terancam Batal Setelah Dianggap Jelek Player Playtest
» Ubisoft Terus Ngegas? Setelah Black Flag, Assassins Creed 1 Dirumorkan Juga Dapat Remake!?
» Aktor Ben Star: Game Tidak Butuh Adaptasi Live Action
» Remake AC: Black Flag Baru Mau Rilis, Ubisoft Udah Dirumorkan Bikin Remake AC lain?
» Assassin's Creed: Resynced Dikabarkan Siap Rilis Pada 9 Juli 2026!
Hal yang bikin situasi ini makin menarik adalah fakta bahwa ini bukan pertama kalinya Ubisoft berada di posisi kayak gini. Sebelumnya, mereka pernah bilang bahwa menaruh microtransaction di game single player justru bisa bikin game tersebut lebih fun, pernyataan yang waktu itu juga sudah memicu perdebatan panjang di komunitas. Dengan kasus Black Flag Resynced, diskusi soal batas wajar antara monetisasi dan experience pemain jadi kebuka lagi, terutama ketika game yang dibawa adalah salah satu entri paling ikonik di franchise Assassins Creed.
Buat gamer, terutama yang generasi lama, kondisi ini kayak tarik ulur antara rasa cinta sama game dan rasa jengkel sama model bisnisnya. Di satu sisi, Black Flag Resynced menawarkan cara baru menikmati kembali salah satu petualangan bajak laut terbaik di dunia game dengan visual dan gameplay yang sudah disesuaikan standar sekarang. Tapi di sisi lain, kehadiran microtransaction bernilai puluhan dolar ini bikin banyak orang bertanya apakah ini harga yang harus dibayar untuk menikmati remake di era modern, atau justru tanda kalau industri masih terus mendorong batas kesabaran pemain.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!