space
KETAHUAN BELUM HAPUS WATERMARK AI, NEVERNESS TO EVERNESS DIKRITIK BANYAK GAMER
PS5
6 jam yang lalu

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Kabar soal Neverness to Everness kembali jadi bahan panas di kalangan gamer karena muncul tuduhan bahwa game ini masih memakai aset seni hasil generative AI. Yang bikin ramai, dugaan itu bukan cuma soal pemakaian AI, tapi juga karena ada jejak watermark yang diduga belum dihapus dari salah satu aset, sehingga memicu pertanyaan besar soal proses produksi di balik layar.

Isu ini langsung menyebar cepat di komunitas karena menyentuh topik yang memang sensitif, terutama buat game yang sedang membangun identitas visual. Banyak pemain sekarang semakin kritis kalau ada studio yang kedapatan memakai AI untuk ilustrasi, desain karakter, atau elemen visual lain tanpa penjelasan yang jelas ke publik. Wajar saja, karena buat sebagian gamer, seni dalam game bukan sekadar hiasan, tapi bagian penting yang bikin dunia game terasa hidup dan punya karakter.

Hal yang bikin masalah ini makin melebar adalah adanya kesan bahwa tuduhan seperti ini muncul lagi, bukan sekali dua kali saja. Dalam percakapan yang beredar, beberapa orang menilai studio terkait seperti belum benar-benar memberi jawaban yang meyakinkan soal penggunaan AI di proyek mereka. Akibatnya, setiap ada temuan baru, reaksi publik jadi makin cepat membesar karena rasa percaya yang sudah telanjur goyah.

Di sisi lain, kasus ini juga memperlihatkan betapa besar tekanan terhadap studio game modern untuk menjaga transparansi. Di era sekarang, pemain bukan cuma melihat hasil akhir, tapi juga mulai peduli dengan cara game itu dibuat. Kalau ada aset yang dicurigai berasal dari AI, apalagi sampai meninggalkan watermark, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan teknis biasa. Itu bisa dianggap sebagai tanda bahwa ada proses yang kurang rapi atau bahkan sengaja disembunyikan.

Buat studio, situasi seperti ini jelas rumit. Di satu sisi, penggunaan AI memang sedang jadi alat yang makin sering dibahas di industri kreatif karena bisa mempercepat produksi. Tapi di sisi lain, kalau dipakai tanpa komunikasi yang terbuka, hasilnya malah bisa jadi bumerang. Gamer cenderung lebih bisa menerima teknologi baru kalau penggunaannya dijelaskan dengan jujur, batasnya jelas, dan tidak menabrak ekspektasi soal kualitas artistik.

Baca ini juga :

» Kok Begini??? Creator Paulius Bikin Ulang Game Pokemon pake AI
» CEO Shift Up Respon Kritik Gamer Terkait Video Music Menggunakan Generatif AI
» Piala Dunia 2026 dan Revolusi AI Lenovo: Era Baru dalam Penyelenggaraan Olahraga Global
» Bikin Video Music Pake Generatif AI, Developer Stellar Blade Banyak Diprotes
» Main Black Myth Wukong Cuma Pakai Otak? Teknologi BCI Ini Buktikan Game Action Tanpa Stik Bisa Terwujud!
» ASUS Zenni Claw: AI Agent Praktis yang Mengubah Produktivitas dan Aktivitas Harian
» IBM Perkenalkan Chip 0.7nm Pertama di Dunia, Siap Lompatkan Performa AI dan Gaming hingga 6 Kali Lipat!
» Efek AI Boom! Samsung Foundry Mulai Pilih-Pilih Pelanggan, Lini 4nm & 8nm Ludes Sampai Tahun Depan

Kasus Neverness to Everness ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan komunitas adalah aset yang sangat mahal. Sekali pemain merasa ada ketidakjujuran, maka setiap update, teaser, atau materi promosi berikutnya akan dilihat dengan kecurigaan. Di era media sosial, satu bukti kecil seperti watermark yang tersisa bisa berubah jadi bahan perdebatan besar dalam hitungan jam.

Menariknya, perdebatan ini bukan cuma soal satu game, tapi juga soal arah industri game ke depan. Semakin banyak studio yang mulai memakai AI untuk efisiensi, makin besar pula tuntutan agar mereka punya standar etika yang jelas. Gamer ingin tahu mana bagian yang dibuat manusia, mana yang dibantu mesin, dan sejauh mana AI dipakai dalam proses produksi. Tanpa kejelasan itu, kontroversi seperti ini kemungkinan besar akan terus berulang.

Pada akhirnya, masalah ini bukan cuma soal ada atau tidaknya watermark di sebuah aset. Lebih dari itu, ini soal bagaimana sebuah studio membangun kepercayaan, menjaga kualitas visual, dan bersikap terbuka terhadap komunitas yang mendukung game mereka. Kalau respons yang diberikan tidak memuaskan, publik biasanya akan mengisi kekosongan itu dengan asumsi sendiri, dan itulah yang membuat sebuah isu kecil bisa berkembang jadi krisis reputasi.

Kalau dilihat dari reaksi yang muncul, game ini sekarang sedang berada di titik yang cukup rawan. Satu kesalahan kecil saja bisa memperkuat narasi negatif yang sudah terbentuk sebelumnya. Karena itu, langkah paling penting buat studio adalah memberikan penjelasan yang jelas, konsisten, dan transparan agar kontroversi ini tidak terus membesar.

Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close