



Komdigi baru saja merilis daftar platform digital yang dinilai punya risiko tinggi buat anak. Jadi, buat orang tua yang anaknya sering main game, nonton YouTube, atau aktif di aplikasi chat, daftar ini bisa jadi bahan buat lebih waspada. Penilaian ini merupakan bagian dari aturan PP Tunas, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang fokus mengatur perlindungan anak saat memakai layanan digital. Intinya, pemerintah ingin memastikan platform online punya sistem yang lebih aman untuk pengguna di bawah umur.
Komdigi names Valorant, X, Telegram, Discord, Goddess of Victory: Nikke, Pinterest, and 16 other apps as high-risk platforms for children.
— Indonesian Pop Base (@iPopBase) September 15, 2026
(https://t.co/Ru3kKPTqO0) pic.twitter.com/YHNG2ZgYrj
Menurut Komdigi, platform dengan kategori risiko tinggi berarti tidak aman dipakai anak di bawah 16 tahun atau aksesnya perlu dibatasi sangat ketat. Makin tinggi tingkat risikonya, makin serius juga perlindungan yang harus diterapkan oleh pihak platform. Sampai 6 September 2026, ada 252 produk, fitur, dan layanan digital dari 94 perusahaan yang sudah melakukan penilaian mandiri. Dari jumlah itu, Komdigi telah memverifikasi 60 layanan, dengan 38 masuk risiko rendah dan 22 lainnya masuk kategori risiko tinggi, yang menarik, daftar risiko tinggi ini bukan cuma berisi media sosial. Ada Telegram, Pinterest, Lazada, Blibli, Vidio, SnackVideo, X, Discord, YouTube, Apple Podcasts, WeTV, sampai MAXStream TV. Jadi, aplikasi yang kelihatannya umum dipakai sehari-hari pun tetap bisa punya celah risiko kalau digunakan anak tanpa pengawasan.
Buat gamer, beberapa nama yang masuk daftar juga cukup familiar. Ada Goddess of Victory: NIKKE, Age of Empires Mobile, Valorant, Teamfight Tactics Mobile, Sola Mahjong, Ludo World-Ludo Superstar, dan Crossfire: Legends. Masuknya game-game tersebut bukan otomatis berarti semuanya dilarang untuk semua orang. Tapi, anak-anak bisa saja terpapar beberapa hal yang butuh perhatian ekstra, mulai dari komunikasi dengan pemain lain, interaksi dengan orang asing, pembelian item dalam game, sampai konten yang memang belum tentu cocok untuk usia mereka.
Baca ini juga :
» Boaster Diizinkan Cari Opsi Tim Baru di Luar FNATIC, End of an Era?
» NT RRQ! Divisi Valorant Tersingkir dari VCT Pacific Stage 2 2026
» Sempat Jadi Drama? Menkomdigi Tegaskan Rekam Tanpa Izin Langgar UU PDP dan Bisa Dipidana
» Paper Rex Tersingkir dari EWC 2026 Usai Tumbang 1-2 dari Karmine Corp
» Blokir Reddit di Indonesia Resmi Dibuka oleh Komdigi!
» Mulai 1 Juli 2026 Daftar Nomor HP Harus Scan Wajah, Emang Aman?
» Jason Susanto Dipastikan Absen Bela Timnas Indonesia di ENC 2026
» Manager Age Rating Riot Games Kritik Komdigi Terkait IGRS
Contohnya Valorant dan Teamfight Tactics punya fitur interaksi antar-pemain. Kalau tidak dipantau, anak bisa saja ketemu pemain lain dengan bahasa toxic atau percakapan yang tidak sesuai umur. Sementara itu, game dengan sistem gacha dan mikrotransaksi juga bisa bikin anak tergoda membeli item digital tanpa benar-benar memahami uang yang dikeluarkan. Di sisi lain, ada juga layanan yang dinilai berisiko rendah selama tetap dipakai dengan pendampingan orang tua. Daftarnya mencakup YouTube Kids, Netflix Kids Profile, Google Classroom, Canva Pendidikan, Ruangguru, Google Maps, PlayStation, Spotify, Apple Arcade, FaceTime, iMessage, dan Google Messages.
Tapi perlu diingat, status risiko rendah bukan berarti anak bisa bebas memakai semuanya tanpa aturan. Orang tua tetap perlu mengatur screen time, aktifkan parental control, batasi pembelian di aplikasi, dan ajari anak supaya tidak gampang membagikan nama lengkap, alamat, foto pribadi, atau informasi penting lain ke orang asing.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!