Jika harus menjelaskan apa itu Pragmata sebagai video game secara singkat mungkin akan sangat sulit dilakukan. Apa yang dilakukan oleh Capcom terhadap game ini menurut saya sangat unik, terutama dari pendekatan sebagai gamers. Secara simpel, Pragmata adalah sebuah game shooter, tetapi cukup kompleks—bagaimana Pragmata menggabungkan banyak hal menjadi satu objek yang baru, menurut saya Pragmata jadi salah satu game yang paling menarik belakangan ini.
Pragmata menurut saya berhasil juga menggabungkan banyak esensi penting dari banyak sumber lainnya. Tidak hanya sebuah video game saja, terasa inspirasi besar dari film dan literatur yang mungkin bisa kita temukan. Resident Evil, Mega Man, Dead Space, 2001: A Space Odyssey, The Little Prince, dan mungkin sedikit bumbu Terminator.
Tawarkan Plot Yang Cukup Dalam

Dari sisi plot, Pragmata sebenarnya mengingatkan saya dengan beberapa film misalnya seperti Alien, 2001: A Space Odyssey, dan mungkin sedikit bagian dari Event Horizon. Bukan dari sisi horrornya tapi ya karena film-film ini memang fokus kepada astrohorror—tetapi apa yang dilakukan Pragmata dalam memulai cerita ini cukup mirip, yakni bagaimana sebuah hal yang seharusnya simpel dan mudah jadi berantakan karena tidak sesuai rencana.
Kita bermain sebagai Hugh, anggota dari team yang melakukan investigasi di fasilitas yang bertempat di Bulan. Fasilitas ini secara teknis adalah sebuah printer 3D yang sangat besar dimana printer ini bisa print apa saja berkat mineral langka yang ditemukan. Tetapi sayangnya AI yang seharusnya memantau fasilitas ini keluar jalur dan menjadi antagonis utama dimana dirinya harus Hugh hentikan.
Tetapi Hugh disini tidak sendirian karena ada Diana yang merupakan seorang Pragmata, sebuah cyborg cerdas dimana kalian akan fokus untuk menghentikan AI ini. Cukup simpel memang tapi, saya rasa dari sisi story Capcom sangat kuat fokus ke arah bagaimana hubungan Hugh dan Diana yang perlahan jadi sebuah hubungan ayah dan anak. Bonding mereka berdua selama di Bulan ini terasa sangat indah dan tentunya penuh makna.
Gameplay Unik Gabungkan Shooter dan Puzzle

Tetapi hal yang paling unik datang dari gameplay, bagaimana Pragmata berhasil gabungkan game shooters dengan puzzle. Hal ini terasa sangat unik karena keduanya digabungkan secara bersamaan, kalian harus coba memecahkan puzzle sembari menembak musuh—tentunya bukan hal mudah tetapi ini jadi hal yang sangat asik dilakukan dan membuat saya jadi ketagihan main.
Walau menggabungkan dua hal berlawanan jadi satu, Pragmata tetapi tidak terasa setengah-setengah. Dari sisi shooting sangat oke dengan pengalaman menembak yang asik, sementara dari sisi puzzle juga dibuat dengan kompleks tetapi tidak terlalu sulit. Terasa juga bahwa Pragmata lebih condong membuat shooting dan hacking ini seperti minigame satu sama lain. Kalian bisa fokus dengan build shooting dan buat hacking jadi minigame kedua atau sebaliknya.
[BACAJUGA]Dari sisi shooting, sangat terasa inspirasi dan feels dari Resident Evil 4 Remake dimana shooting dan movement terasa sangat fluid. Impact dari tembakan juga sangat baik dimana musuh punya hitstun dan memberikan reaksi yang kayak ketika ditembak.
Nah yang unik malah datang dari hacking menurut saya. Bagi kalian yang tidak tahu bagaimana sistem hacking di Pragmata, sistem hack di Pragmata sebenarnya simpel dimana kalian harus menyusuri tiles dari titik A ke titik B. Tapi yang membuat tiap hack terasa unik ada di ukuran tiles yang beragam, bentuk tiles, sampai adanya tiles khusus didalamnya seperti tiles positif maupun tiles negatif.
Secara praktik, kalian tidak bisa menembaki musuh begitu saja karena mereka masih memiliki armor yang susah ditembus, hacking berguna untuk membuka armor tersebut sekaligus memberikan damage atau debuff jika kalian memiliki hacking mod. Kombinasi keduanya yang berjalan selaras dan saling mendukung satu sama lain membawa pengalaman yang sangat unik di Pragmata.
Progression, Variasi Senjata, Dan Bagaimana Pragmata Buat Kalian Betah

Pragmata terasa dari sisi progression dan variasi senjata terbilang cukup menarik karena disini tidak mengikuti misalnya sistem Resident Evil yang punya invetori khusus untuk menyimpan banyak senjata kalian, Pragmata memiliki weapon wheel dimana senjata permanen kalian hanyalah main weapon saja. Sisa senjata lainnya tidak bisa reload dan jika habis akan terbuang begitu saja—kecuali kalian mendapatkan senjata serupa atau senjata lain dari loot.
Di Pragmata ada empat tipe senjata yang mengisi inventory kalian; senjata utama, senjata damage, senjata untuk CC, dan senjata untuk support. Awalnya memang kalian hanya bisa membawa empat jenis senjata saja, tetapi dengan upgrade nanti slotnya akan terbuka dimana misalnya kalian bisa membawa dua jenis senjata damage dan dua jenis senjata CC.
Di masing-masing kategori juga cukup beragam dan mungkin kalian yang main game shooters lainnya akan cukup familiar dengan jenis-jenis senjata yang hadir. Awalnya kalian akan menggunakan pistol saja yang cukup menarik. Sebagai info tambahan senjata utama kalian memang punya ‘unlimited ammo’ tapi pelurunya harus regen terlebih dahulu, semacam cooldown. Jadi untuk pistol misalnya, satu magz akan berisikan 7 peluru, tetapi ketika ditembakkan, cooldown akan berjalan dimana dalam beberapa detik akan terisi satu-persatu peluru yang perlu diisi.
Untuk senjata utama ada pistol dan senjata lain yang bisa kalian dapatkan di midgame. Tipe senjata di main weapon ini juga menarik karena misalnya untuk pistol akan kuat dari sisi damage/shot semenjata senjata lain mungkin punya damage/second lebih tinggi. Selain itu Pistol pertama kuat dari sisi critical sementara senjata lain kuat dari sisi overheat—sistem stamina bar musuh dimana ketika overheat akan terkena stun.
Lalu ada juga dari sisi senjata damage dimana kalian bisa menggunakan shotgun, charge sniper, beam laser, dan senjata lainnya. Sama halnya dengan senjata CC dimana fokus terhadap stun, lock, dan damage juga. Untuk senjata support ada beberapa yang unik misalnya senjata untuk decoy/taunt, drone, dan barrier.
[BACAJUGA]Intinya variasi senjata yang hadir dapat membuat perjalanan kalian di Bulan kali ini sebagai Hugh bersama Diana tidak akan mudah bosan. Terlebih adanya fitur upgrade yang hadir untuk kalian manfaatkan. Mirip dengan Resident Evil 4, kalian bisa membayar mata uang untuk upgrade stat senjata kalian. Bedanya jika di Resident Evil 4 kalian upgrade untuk stat tertentu, di Pragmata lebih ke level senjata kalian yang mempengaruhi beberapa stat.
Tapi tidak senjata saja yang bisa kalian upgrade, kalian bisa upgrade suit kalian, booster, stamina, hacking module, dan lainnya. Secara garis besar, sistem upgrade Pragmata merupakan salah satu sistem upgrade karakter yang paling asik. Terasa sistem ini seperti gabungan antara Resident Evil 4, Dead Space, dan Devil May Cry yang melahirkan sistem yang unik!
Hugh dan Diana, Duo Yang Mencuri Hati

Awalnya saya mengira Hugh dan Diana akan menjadi duo yang agak sedikit dipaksakan, tetapi saya senang saya salah. Hugh hadir sebagai sosok ‘ayah’ bagi Diana dan Diana juga jadi sosok yang harus Hugh selalu lindungi. Keduanya sangat cocok dan terasa memiliki hubungan yang berjalan dengan natural. Walau memang awal-awal game terasa seperti terasa terburu-buru, tapi hubungan mereka semakin kuat tiap jam berjalan.
Hubungan keduanya juga semakin tergali dari sisi collectibles yang bisa kalian dapatkan. Mulai dari Diana yang tertarik dengan kota besar, pantai, lalu seringkali mengajak Hugh bermain bersama, hal ini sangat menghangatkan hati. Selain itu semakin kalian mengumpulkan collectibles, Diana bisa memberikan karya seni hasil gambar miliknya kepada Hugh, mempererat hubungan keduanya.
Variasi dan Filosofi Design Pragmata Yang Cukup Dalam

Satu hal yang membuat saya senang di Pragmata adalah bagaimana desain menjelaskan filosofi yang ada di Pragmata. Ya, secara umum terlihat ya musuh yang hadir disini adalah sebuah robot humanoid dan pada awalnya saya juga berpikit seperti itu—tapi terasa ini lebih dari hal tersebut.
Pragmata seringkali menyentil tentang topik trans-humanis, bagaimana desain dari bots-bots yang hadir sebagai musuh mirip sekali manusia, tapi secara bersamaan malah jadi menyeramkan. Memang Pragmata bukan game horror, tapi desain musuh yang ada disini terasa inspirasi besar dari astrohorror dan bodyhorror. Musuh yang beragam mulai dari bots mirip manusia, ada yang mirip samurai dan tank, sampai ada yang punya tangan banyak keluar dari mulut, atau manusia besar dengan kepala oversize dengan rahang yang bisa terbuka full. Dari sisi desain, jika kalian bayangkan tema bots ini diganti dengan sesuatu yang lebih biological, Pragmata bisa jadi Dead Space.
Tapi hal dan topik ini juga hadir di Hugh dan Diana beserta perjalanan mereka dimana Diana yang memang secara fisik dan visual mirip sekali sebagai anak-anak menimbulkan pertanyaan, apakah Diana seorang Manusia, seorang robot, atau robot yang perlahan mendapatkan sisi kemanusiaan dirinya. Diana juga belajar banyak dari Hugh sebagai Pragmata apa artinya jadi manusia dan hubungan keduanya ini yang buat gua seneng banget dengan tema Pragmata.
Kesimpulan
[BACAJUGA]Ketika Capcom seringkali milking IP flagship mereka seperti Resident Evil dan Monster Hunter beberapa tahun kebelakang ini, IP original yang hadir dibungkus dengan indah dan menghasilkan pengalaman yang unik. Pragmata hadir bukan sebagai game shooters biasa saja, tapi lebih dari itu. Pragmata adalah pengalaman yang asik dan penuh makna, buat game ini jadi salah satu game terbaik yang rilis beberapa tahun kebelakang ini.
Kesimpulan Review
Pragmata
- (+) KELEBIHAN
- Sensasi shooting dan hacking yang sempurna
- Progression dan gameplay loop yang asik
- Cerita yang dalam, bawa Hugh dan Diana sebagai duo terbaik
- TTema luar angkasa dibungkus dengan indah
- Audio design dan arti direction yang sangat bagus
- (-) KEKURANGAN
- Progression mungkin tidak sedetail game serupa

