



Film animasi Indonesia Merah Putih: One for All kembali jadi sorotan. Setelah sebelumnya ramai dikritik soal kualitas animasi dan biaya produksinya yang mencapai Rp6,7 miliar, kini muncul masalah baru: tuduhan penggunaan aset karakter tanpa izin dari animator 3D asal Pakistan, Junaid Miran.
Baca ini juga :» Punya Masalah Mental dan Hilang Arah, Kai Cenat Pilih Rehat dari Dunia Streaming
» Netflix Rilis Teaser One Piece Season 2, Penampilan Nico Robin Langsung Curi Perhatian
» Dari Manga Dewasa ke Supercar, Kreator Doujin Ini Sukses Wujudkan Mimpi Beli Ferrari
» Pegulat Indonesia Di-DM Langsung WWE, Benarkah Jadi Pengganti Roman Reigns?
» Generasi Muda Jadi Mudah Halu, Pemerintah China Resmi Batasi Produksi Drama CEO dan Gadis Miskin
» Rewatch Attack on Titan, Tapi Salah Fokus karena Dua Titan Ini Mirip Petinggi Indonesia
» Motion Ime Festival Batalkan Kehadiran Bulgogifarts Usai Penolakan Komunitas
» Penulis The Simpsons, Dan McGrath, Wafat di Usia 61 Tahun
Junaid Miran, kreator 3D yang menjual karyanya di platform Reallusion, mengaku bahwa enam karakternya dipakai dalam film tanpa sepengetahuan dan tanpa kompensasi. Ia pun menyatakan tidak pernah dihubungi oleh pihak rumah produksi, Perfiki Kreasindo.
Dalam video YouTube berjudul “Yes, I’m Suing Them — Need Your Help!” yang tayang 1 September 2025, Junaid mengumumkan rencananya untuk menempuh jalur hukum. Ia juga meminta dukungan publik dengan cara membeli karya-karyanya secara online. Harga asetnya bahkan diturunkan drastis dari US$50 jadi US$5 untuk membantu biaya hukum, administrasi, hingga perjalanan lintas negara.
Menanggapi isu ini, eksekutif produser sekaligus sutradara, Endiarto, mengakui memang ada kemiripan karakter. Namun, ia menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar dalam industri animasi dan bukan berarti meniru secara langsung.
Meski begitu, tuduhan ini makin menambah daftar panjang kontroversi Merah Putih: One for All—mulai dari kualitas animasi yang disebut “setengah matang” hingga isu etika dalam menghargai karya kreator independen.
Kalau benar ada pelanggaran hak cipta, kasus ini bisa jadi tamparan keras buat industri animasi lokal supaya lebih serius soal lisensi dan hak cipta. Di sisi lain, ada juga yang berpendapat kemiripan karakter memang bisa saja terjadi secara kebetulan.
Menurut kalian, apakah Junaid Miran berhak menuntut, atau kasus ini bakal jadi kontroversi sesaat aja?