



Film animasi Indonesia Merah Putih: One for All kembali jadi sorotan. Setelah sebelumnya ramai dikritik soal kualitas animasi dan biaya produksinya yang mencapai Rp6,7 miliar, kini muncul masalah baru: tuduhan penggunaan aset karakter tanpa izin dari animator 3D asal Pakistan, Junaid Miran.
Baca ini juga :» Revolusi Visual Film "Pelangi di Mars": Kolaborasi Epik ASUS ProArt dan Teknologi XR
» Presiden Kyoto Animation Hideaki Hatta Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
» Marapthon Season 3 Jadi Penutup, AAA Clan Ungkap Alasan Program Berakhir
» Netizen Indonesia Salah Fokus, YouTuber Gadget Jepang Ini Dibilang Mirip Sosok Terkenal
» Henry Cavill Pamer First Look Highlander, Siap Jadi Immortal Legendaris!
» Bruce Leung, Pemeran “Kakek Katak” di Kung Fu Hustle, Meninggal Dunia di Usia 77 Tahun
» Punya Masalah Mental dan Hilang Arah, Kai Cenat Pilih Rehat dari Dunia Streaming
» Netflix Rilis Teaser One Piece Season 2, Penampilan Nico Robin Langsung Curi Perhatian
Junaid Miran, kreator 3D yang menjual karyanya di platform Reallusion, mengaku bahwa enam karakternya dipakai dalam film tanpa sepengetahuan dan tanpa kompensasi. Ia pun menyatakan tidak pernah dihubungi oleh pihak rumah produksi, Perfiki Kreasindo.
Dalam video YouTube berjudul “Yes, I’m Suing Them — Need Your Help!” yang tayang 1 September 2025, Junaid mengumumkan rencananya untuk menempuh jalur hukum. Ia juga meminta dukungan publik dengan cara membeli karya-karyanya secara online. Harga asetnya bahkan diturunkan drastis dari US$50 jadi US$5 untuk membantu biaya hukum, administrasi, hingga perjalanan lintas negara.
Menanggapi isu ini, eksekutif produser sekaligus sutradara, Endiarto, mengakui memang ada kemiripan karakter. Namun, ia menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar dalam industri animasi dan bukan berarti meniru secara langsung.
Meski begitu, tuduhan ini makin menambah daftar panjang kontroversi Merah Putih: One for All—mulai dari kualitas animasi yang disebut “setengah matang” hingga isu etika dalam menghargai karya kreator independen.
Kalau benar ada pelanggaran hak cipta, kasus ini bisa jadi tamparan keras buat industri animasi lokal supaya lebih serius soal lisensi dan hak cipta. Di sisi lain, ada juga yang berpendapat kemiripan karakter memang bisa saja terjadi secara kebetulan.
Menurut kalian, apakah Junaid Miran berhak menuntut, atau kasus ini bakal jadi kontroversi sesaat aja?