



Film animasi Indonesia Merah Putih: One for All kembali jadi sorotan. Setelah sebelumnya ramai dikritik soal kualitas animasi dan biaya produksinya yang mencapai Rp6,7 miliar, kini muncul masalah baru: tuduhan penggunaan aset karakter tanpa izin dari animator 3D asal Pakistan, Junaid Miran.
Baca ini juga :» Streamer Mr. Trashdubbing Kena Rujak Netizen Karena Isu Dengan Vtuber
» Gak Dapet Charizard, Pria Florida Ini Malah Bobol Toko Pokémon Pakai Gergaji Mesin
» Tara Arts Curhat di Media Sosial, Komunitas Kreator Indonesia Beri Dukungan
» CBN Fiber Hadirkan Koneksi Super Cepat di Comic Frontier 22 ICE BSD, Intip Keseruannya!
» Comic Frontier 22: Pesta Kreativitas Budaya Pop Terbesar Siap Digelar Mei 2026!
» Film Nobody Loves Kay Angkat Perjuangan ONIC Kairi ke Layar Lebar, Tayang Juni 2026
» Metal Gear Solid Akan Dapatkan Adaptasi Film, Dikepalai Sutradara Final Destination
» Parfum “Wangi Bra” dari Jepang Viral, Aneh Tapi Nyata?
Junaid Miran, kreator 3D yang menjual karyanya di platform Reallusion, mengaku bahwa enam karakternya dipakai dalam film tanpa sepengetahuan dan tanpa kompensasi. Ia pun menyatakan tidak pernah dihubungi oleh pihak rumah produksi, Perfiki Kreasindo.
Dalam video YouTube berjudul “Yes, I’m Suing Them — Need Your Help!” yang tayang 1 September 2025, Junaid mengumumkan rencananya untuk menempuh jalur hukum. Ia juga meminta dukungan publik dengan cara membeli karya-karyanya secara online. Harga asetnya bahkan diturunkan drastis dari US$50 jadi US$5 untuk membantu biaya hukum, administrasi, hingga perjalanan lintas negara.
Menanggapi isu ini, eksekutif produser sekaligus sutradara, Endiarto, mengakui memang ada kemiripan karakter. Namun, ia menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar dalam industri animasi dan bukan berarti meniru secara langsung.
Meski begitu, tuduhan ini makin menambah daftar panjang kontroversi Merah Putih: One for All—mulai dari kualitas animasi yang disebut “setengah matang” hingga isu etika dalam menghargai karya kreator independen.
Kalau benar ada pelanggaran hak cipta, kasus ini bisa jadi tamparan keras buat industri animasi lokal supaya lebih serius soal lisensi dan hak cipta. Di sisi lain, ada juga yang berpendapat kemiripan karakter memang bisa saja terjadi secara kebetulan.
Menurut kalian, apakah Junaid Miran berhak menuntut, atau kasus ini bakal jadi kontroversi sesaat aja?