



Jika selama ini kamu bertanya-tanya siapa yang patut disalahkan atas agresifnya monetisasi di seri Call of Duty, temuan terbaru ini mungkin terasa mengejutkan—bahkan mengganggu. Nama Jeffrey Epstein, figur kontroversial yang sama sekali tak lekat dengan industri game, ternyata sempat terlibat dalam diskusi awal yang berhubungan dengan konsep tersebut.
Berdasarkan korespondensi yang baru terungkap dari lebih dari tiga juta dokumen “Epstein Files” yang dirilis pada Jumat lalu, ditemukan percakapan antara Epstein, futurist Pablos Holman, dan mantan CEO Activision Bobby Kotick. Dalam percakapan tersebut, mereka membahas ide untuk “mengindoktrinasi anak-anak ke dalam sebuah ekonomi” melalui item kosmetik dalam game.
🚨🇺🇸 BREAKING: Epstein supposedly had a hand in the appearance of microtransactions in video games. pic.twitter.com/fjlxghkIHJ
— Jackson Hinkle 🇺🇸 (@jacksonhinklle) February 1, 2026
Dalam salah satu email, Kotick menuliskan kepada Epstein:
“X Prize adalah ide yang bagus, tapi kuncinya ada pada hadiah dunia nyata. Belajar membaca: menit telepon, kredit iPhone, item virtual dalam game.”
Holman sendiri menanggapi dengan nada sinis, menyoroti betapa ironisnya konsep “hadiah dunia nyata” yang justru dicontohkan dengan item virtual di dalam game.
Yang membuat temuan ini semakin relevan adalah waktu pengiriman email tersebut, yakni 3 Mei 2013—hanya beberapa bulan setelah perilisan Call of Duty: Black Ops II. Game ini dikenal sebagai seri pertama Call of Duty yang secara serius memperkenalkan microtransaction. Activision kala itu mulai bereksperimen lewat paket personalisasi, slot tambahan, dan calling card berbayar, dengan konten pertama dirilis pada 12 April 2013.
Menariknya, dokumen tersebut juga menyebut bahwa Epstein sempat disarankan untuk membeli saham Activision pada 2018.
Pada tahun yang sama, Call of Duty: Ghosts melangkah lebih jauh dalam hal monetisasi. Game tersebut menghadirkan berbagai konten berbayar mulai dari karakter spesial, voice pack, skin, camo, hingga senjata. Melihat kronologi ini, sulit untuk tidak menarik benang merah antara diskusi internal tersebut dengan ledakan sistem microtransaction di seri Call of Duty.
Baca ini juga :» Rusia Siapkan Game Tandingan Call of Duty: Muak Jadi "Antagonis" di Game Barat?
» Vince Zampella, Boss Battlefield dan Co-Creator Call of Duty, Wafat Dalam Kecelakaan Mobil
» Call of Duty: Black Ops 7 Dikritik Akibat Dugaan Penggunaan AI Art dalam Game
» Worldwide Reveal: Call of Duty: Black Ops 7, Pamerkan Story, Zombies, dan Multiplayer
» Call Of Duty®: Mobile Hadirkan Berbagai Aktivitas Menarik di Indonesia Game Week 2025
» Call of Duty Kabarkan Akan Mengunci Event Dibalik Battle Pass, Banyak Fans Geram
» Berulah Lagi, Activision Menggunakan AI Untuk Memasang Iklan Game Palsu
» Activision mengaku menggunakan AI di game Call of Duty terbaru mereka
Namun yang paling meresahkan bukan hanya soal monetisasi itu sendiri, melainkan niat di baliknya—yakni menjadikan anak-anak sebagai target utama dalam membangun kebiasaan ekonomi digital sejak dini melalui game.
Temuan ini kembali membuka perdebatan lama tentang etika monetisasi dalam industri game, terutama ketika menyangkut pemain usia muda dan sistem yang dirancang untuk mendorong pengeluaran berulang.