space
REVIEW SAROS
PS5
Jumat, 24 Apr 2026

Housemarque mencetak home run dengan Returnal dimana mereka berhasil membuat game yang sangat adiktif dengan formula yang sempurna. Tetapi sayangnya ada satu kekurangan dari Returnal dimana banyak pemain mengeluh jika game ini sangat sulit. Belajar dari game sebelumnya, Housemarque coba menyempurnakan sesuatu yang sudah sempurna tetapi apak efektif?

SAROS datang sebagai game baru dari Housemarque dan pada surface levels sebenarnya game ini tidak berbeda begitu jauh dengan Returnal. Bahkan untuk beberapa jam pertama saya bermain, saya sempat berpikir jika ini bisa dikatakan sebagia sekuel dari game tersebut. Tetapi untuk beberapa jam selanjutnya saya merasa salah, SAROS adalah SAROS!

Formula bullet hell dengan esensi rougelite disajikan dengan feeling shooters yang sangat asik membuat Saros jadi game yang sangat unik. Bukan dari sisi konsep, tetapi dari sisi penyajian yang dilakukan membuat SAROS jadi game exclusive PlayStation yang wajib semua orang mainkan.

Housemarque Sadar Atas Keluhan di Game Sebelumnya


Keluhan utama di Returnal adalah bagaimana game tersebut terbilang relatif sulit dan juga progression yang kurang menyenangkan. Di SAROS hal ini dibuat lebih baik lagi. Walau SAROS terasa lebih mudah jika kita bandingkan Returnal, tetapi menurut saya bukan bagaimana Housemarque membuat game ini lebih mudah begitu saja, tetapi dari beragam aspek.

Bahkan dirasa Saros bisa lebih sulit dibandingkan dari Returnal. Contohnya saja dari sisi bullet hell yang ada di game dan bagaimana musuh dibuat lebih sulit dilawan dan memaksa kita harus adaptasi lebih baik lagi. Tapi ada satu hal yang membuat SAROS lebih baik yakni pilihan tools yang yang ada.

Berbeda dengan Returnal yang memang lebih condong membuat game sulit dan memaksa pemain harus adaptasi dari sisi gameplay dan menghafal pattern, SAROS memang masih seperti itu tapi banyakya tools yang hadir di game membuat pemain memiliki banyak opsi.

Baca ini juga :
» Review - METAL GEAR SOLID Δ: SNAKE EATER
» Review Mafia: The Old Country
» Review Marvel Spider-Man 2
» Berpetualang di Dunia Padang Pasir Karya Akira Toriyama - Review Sand Land
» 7 Alasan Wajib Main Rise of the Ronin! Game Open World Rasa Souls Eksklusif Paling Dinanti
» 8 Tips Menjadi Ronin Terbaik di Game Open World Terbaru, Rise of the Ronin
» Rise of the Ronin - Review
» The Last of Us Part II Remastered

Mungkin untuk analogi jika harus membandingkan dari sisi gameplay, jika Returnal adalah Dark Souls III dengan gameplay yang membuat pemain di-tes penuh skillnya, SAROS adalah Elden Ring dimana musuh lebih susah tetapi kita sebagai pemain lebih punya banyak pilihan.

Lore Masih Kompleks


Ketika memainkan game ini dan saat membuat review, ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya—Saros adalah “The King in Yellow” dengan latar belakang di luar angkasa! Bagaimana entitas yang tidak bisa dijelaskan manusia dan condong ke arah eldritch horror juga ditambah adanya aktivitas paranormal tetapi menggunakan pendekatan saintifik, SAROS adalah surga di neraka bagi penggemar genre ini.

Disini kita bermain sebagai Arjun Devraj merupakan enforcer dari Soltari, sebuah perusahaan multiplanet. Awalnya tidak dijelaskan apa yang dilakukannya dengan teamnya di tempat ini, apa tujuannya dan apa yang dirinya lakukan juga belum ada kejelasan. Bahkan eksposisi dari lore baru terasa click ketika beberapa jam bermain.

Tetapi untuk saya ini hal yang tepat karena pendekatan yang canggung dan slowburn ini membuat kita bisa fokus kepada gameplay dan tidak membuat isi otak kita kesulitan dengan lore yang kompleks. Rahul Kohli sebagai Arjun juga patut diapresiasi. Mungkin karena dirinya yang sudah familiar dengan films dan series seperti The Fall of the House of Usher, Midnight Mass, dan The Haunting of Bly Manor membuatnya cocok dengan SAROS yang fokus kepada horror.

BACA JUGA BERITA INI
close